Minggu, 30 Desember 2012

DUKA DARI NIAS


Sepenggal Duka dari Nias
Oleh: Joshua MS.

Siang yang terik. Gemah Ripah, nama taxi yang membawa rombongan kami meluncur menyusuri jalanan kota Bandung. Entah karena efek global pemanasan bumi atau apalah, kota Bandung sekarang sungguh berbeda bila di banding 10 tahun yang lalu. Waktu itu untuk pertama kalinya aku mengunjungi Bandung, suhunya masih terasa sejuk. Itulah sebabnya setiap kali liburan semester, aku lebih suka ke Bandung daripada pulang kampung ke Sumatera.



Gedung itu beralamat di Jalan Dewi Sartika nomor 104 Bandung. Gedung yang lebih mirip sebagai rumah toko, memanjang ke belakang. Sepintas aku sudah dapat menduga-duga bahwa ruangan-ruangan yang ada di dalamnya pasti mirip ruko. kami segera membongkar bagasi taxi. Siang ini kami akan berbagi kasih dengan anak-anak Panti Asuhan Peduli Kasih. Membagikan paket sembako dan paket perlengkapan sekolah.

Beberapa anak dengan sigap menyambut paket yang aku jinjing. Mereka sungguh terlatih untuk membantu dan melayani. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari pintu bagian dalam. Dengan senyuman yang ramah, wanita itu menyalami kami.

“Selamat datang Ibu, selamat datang Bapak!” berkali-kali dia mengulang kata-kata salam. Wajah ramahnya sungguh raut tulus yang tidak dipaksakan. Secepatnya barang-barang dan paket kami bereskan di sudut ruangan. Seorang petugas panti muncul lagi dari pintu dalam. Dia juga terlihat santun dan ramah.

“Boleh kami lihat-lihat ke dalam Ibu?” Saya mencoba seramah mungkin.
“Oh tentu boleh, mari, silahkan!” Rombongan kami beriringan masuk keruangan dalam melewati koridor sempit. Ruangan standar ruko yang memanjang dan tersambung ke bangunan penyanggah di belakang. Pada ujung ruang penyanggah kami tiba di ruangan makan dan dapur. Ruangan yang terkesan apa adanya.

Sebuah meja makan yang terbuat dari triplek. Beberapa kursi kayu yang di buat memanjang. Entah mengapa, di atas meja makan itu terpajang satu unit televisi 17 inch yang sudah tua. Agak dipojokan terletak dapur dengan beberapa kompor dan dandang yang menghitam. Paling pojok kanan dua kamar mandi. Lebih maju ke depan aku lihat ada kamar pengurus panti yang bersebelahan dengan kamar putri panti. Aku yakin itu adalah kamar anak perempuan karena di pintunya ada gambar-gambar lucu, ciri kahas perempuan.

“Kami melakukan hampir semua kegiatan di sini” Jelas ibu paruh baya itu. “Sekarang kita ke atas, ke kamar laki-laki.” Dia mendahului kami melangkah ke arah tangga yang menghubungkan ruang bawah ke lantai satu. Kami kemudian menekuri tangga menuju kamar laki-laki di atas.

 Sebuah ruang tamu yang dipenuhi loker. Di pojok ruangan sebuah pintu kamar yang lumayan besar. Kamar tidur laki-laki berisi 5 tempat tidur tingkat. Tampaknya mereka tinggal dengan berdesakan di kamar ini. Kamar memang terkesan sangat sesak dengan tempat tidur tingkat dan lemari-lemari pakaian.

“Mereka semua tidur di sini.” Ibu paruh baya itu kembali menerangkan.

Sebelum turun, beberapa kali aku mencoba mengabadikan ruangan dengan kamera. Kami turun, ternyata anak-anak sudah banyak yang berdatangan. Mereka baru pulang berenang. Satu acara rutin ketika mereka libur sekolah. Hari libur memang selalu dimanfaatkan oleh mereka untuk olah raga dan rekreasi. Aku melihat wajah-wajah sumringah anak yang semuanya berasal dari Nias. Sikap mereka sangat santun. Satu persatu mereka menyalami kami.

Bencana tak Terduga.

Sudah 3 hari hujan turun terus menerus. Desember, nama anak laki-laki yang lahir Bulan Desember, berbaring dengan menyelimuti dirinya rapat-rapat. Angin malam terasa menusuk. Anak laki-laki berumur 12 tahun itu terlelap dalam tidurnya. Dia asik dengan mimpinya tanpa mempedulikan hujan yang semakin deras seolah tercurah dari langit.

Menjelang tengah malam, Desember dibangunkan oleh ibunya. Kaget, Desember buru-buru bangun. Dalam keadaan setengah sadar dia mengusap mata. “Cepat, cepat, bangun!” Seluruh rumah jadi sibuk. Desember dan ketiga saudaranya segera dilarikan ke arah gunung. Suasana mencekam, sementara air luapan sungai mulai mengalir masuk dan menggenangi lantai rumah. Syukurlah, setelah berusaha dengan susah payah, satu keluarga itu akhirnya tiba di gunung dengan selamat.



Sementara itu di perkampungan, dalam hitungan menit, rumah-rumah yang termasuk wilayah kecamatan Lohesa kabupaten Nias tenggelam di amuk banjir. Yang ada hanyalah air kotor yang membawa lumpur dan kayu-kayu dari hulu sungai. Seperti air bah, air mengalir deras dari hulu sungai membawa tanah lonsor dan kayu-kayu meluluhlantakkan bangunan-bangunan rumah, sekolah, dan gereja.

Desember mengusap air matanya. Beberapa menit sebelum kampung terendam air hingga 15 meter. Ibunda terkasih menitipkan adik dan saudara-saudara padanya. Ibunda berlari turun gunung untuk menyelamatkan harta benda mereka yang tertinggal di rumah. Malang nian nasib ibunya, dia hanyut terbawa arus deras dan jenasahnya baru ditemukan 2 hari kemudian.

“Aku sudah melupakannya, aku tidak mau terus terusan hidup dalam bayang-bayang itu.” Desember mengakhiri kisahnya.Walaupun di sudut matanya ada titik-titik air mata yang mengkristal. Desember yang kini telah duduk di bangku SMP itu berupaya tersenyum.

Kejadian tengah malam 31 Juli 2001 yang menenggelamkan 6 kecamatan dan menelan korban hampir 1000 orang itu adalah lembaran kenangan hitam bagi dia. Sekarang dia bersama anak-anak yang lainnya resmi diadopsi oleh Yayasan Peduli Kasih. Mereka ditempatkan di sebuah rumah panti yang di bina oleh seorang pengusaha keturunan di kota Bandung. Sementara waktu terus bergulir, Desember kini belajar giat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Duka di Panti Asuhan


“Dulunya mereka 20 orang.” Mbak Dewi, salah seorang juru bahasa yang turut dibawa dari Nias berkisah tentang suka duka melayani di panti asuhan. “Tetapi, ada dua orang yang dipulangkan karena tidak dapat di atur! Mereka nakal dan sudah diingatkan berkali-kali, akhirnya kami pulangkan.”

“Panti ini lebih kepada sebuah keluarga, jadi kami menerapkan pelayanan sebagaimana layaknya sebuah keluarga.” Mbak Dewi melanjutkan penjelasannya.

“Berhubung karena Panti belum memiliki tempat yang tetap, kami beberapa kali harus berpindah-pindah. Puncaknya adalah ketika kami terpaksa menitipkan 18 anak ke sebuah Panti Asuhan di daerah Bekasi.” Mbak Dewi kelihatan sedikit serius, gurat wajahnya seketika mendung.

“18 anak yang kami titipkan itu awalnya merasa sangat asing. Mungkin karena lingkungan yang asing dan aturan panti yang berbeda.” Mbak Dewi berhenti sebentar, dia memutar pandangannya. Tiba-tiba dia memanggil seorang anak panti, anak itu masih sangat lugu. Robyanto Hulu bocah berumur 10 tahun segera menghampiri Mbak dewi.

“Robi ini dulunya dua bersaudara. Orang tua mereka meninggal dalam bencana banjir, jadi keduanya diadopsi yayasan. Keduanya kami titipkan bersama teman-temannya yang lain ke panti di Bekasi.Adiknya bernama Arisman Hulu, masih sangat kecil kelas satu SD.”

“Suatu hari, guru sekolah di mana anak-anak panti disekolahkan telepon ke kantor panti. Mereka melaporkan bahwa Aris telah mencuri makanan dari seorang temannya. Jadi guru itu meminta pengurus panti menghadap ke sekolah.” Mbak Dewi menatap Robyanto.

“Setelah diselidiki, ternyata memang benar Aris telah mengambil kue dari tas temannya. Selidik punya selidik Aris mengambil kue itu hanya karena lapar. Kami baru tau ternyata di pagi hari mereka hanya dikasih sarapan sepotong kue dan teh manis, sehingga sebelum pulang mereka sudah kelaparan. Aris tidak tahan, jadi begitu dia lihat kue ada di tas temannya, dia langsung ambil dan makan.” Mbak Dewi melanjutkan ceritanya. Ekspresinya berubah-ubah.

“Singkat cerita, petugas panti datang dan membawa Aris pulang. Selanjutnya dari cerita anak-anak, Aris dihukum.” Mbak Dewi menahan emosi. Sekarang ekspresi wajahnya jadi tegang. Seperti menahan sebuah amarah yang mau meledak.

“Kalau hanya didisiplin, kami tidak akan marah. Tapi bentuk hukuman itu sungguh biadab dan tidak berprikemanusiaan. Pengurus panti yang nota bene hamba Tuhan itu menghukum Aris dengan cara yang sangat sadis. Aris dipaksa makan dan minum sampai kenyang dan hampir tidak bisa bernafas. Pengurus panti itu bilang ini hukuman untuk orang yang tidak bisa menahan nafsu makan. Setelah selesai makan dan minum hingga kembung, Aris disuruh mandi. Beberapa kali dia dipukul dan ditendang hingga jatuh tertelungkup. Belum puas menghukum dengan cara demikian, Aris dibiarkan terkapar tanpa ada yang menolong dipojok ruangan.”

“Menjelang sore Aris muntah-muntah dan kesulitan bernafas. Pengurus panti tetap tak bergeming dan berkilah Aris hanya pura-pura. Dia bahkan melarang anak-anak yang lain yang berniat menolong Aris. Tetapi karena yang lain mulai panik melihat keadaan Aris, akhirnya pelayan panti itu mengijinkan Aris dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rmah sakit, Aris menghembuskan nafas terakhir. Bocah cilik itu  meninggal oleh kekerasan seorang manusia yang menyebut dirinya hamba Tuhan?” Mbak Dewi diam, berusaha menenangkan gejolak hatinya.

“Kami dihubungi via telepon ke Bandung, dan kabar yang kami terima Aris meninggal karena sakit. Saya segera ke sana dan mengurus segala sesuatunya. Tetapi begitu tiba di Bekasi, saya sudah mengendus adanya ketidakberesan. Anak-anak dipaksa tutup mulut, mereka diancam dan disuruh masuk kamar. Saya tidak putus asa karena saya memang dekat dengan mereka jadi saya mencoba mendekati beberapa anak. Namanya anak-anak, mereka pasti tidak  bisa diajak bohong.  Berita kekerasan itu akhirnya terbongkar, saya segera lapor polisi dan dalam waktu yang singkat polisi yang disertai wartawan segera menggerebek Panti Asuhan. Pengurus panti yang berinisial nama Rasul itu segera diciduk. Dia mengakui semua dan akhirnya dihukum 10 tahun penjara.”

“Setelah berembuk, akhirnya kami memutuskan untuk menarik semua anak-anak kembali ke Bandung. Puji Tuhan, seorang dermawan memberikan gedung ini untuk kami tempati. Gratis. Tuhan itu sangat baik. Di sini sekarang tinggal 17 anak. Robyanto Hulu sudah dapat melupakan tragedi atas adiknya Aris. Kejahatan yang terjadi didepan matanya sendiri hingga merenggut nyawa adiknya seolah menjadi dorongan yang kuat agar dia terus berusaha dan menjadi anak yang lebih baik.”

Nias yang Malang


Suasana ruang makan Panti Asuhan Peduli Kasih yang biasanya ramai dengan celoteh dan canda tawa, hening dan murung. Belasan pasang mata mulai berkaca-kaca. Bening mengkristal mengalir seperti anak sungai di pipi anak-anak panti. Sementara itu reporter televisi swasta terus menerus dengan terbata-bata dan ekspresi duka melaporkan secara langsung kondisi Kota Nias yang porak poranda. Televisi 17 inch yang di pajang di sudut meja makan triplek itu menjadi saksi bisu tangisan anak-anak nias penghuni Panti Asuhan Peduli Kasih.

Seperti lirik lagu seorang musisi balada, Ebiet G. Ade, Menoreh Luka Baru di Atas Luka Lama. Belum lama berselang, bencana 31 Juli 2001 kembali menoreh luka di jiwa penduduk Nias. Belum tuntas anak-anak panti mengikis trauma air banjir yang menenggelamkan kampung halaman dan merengut nyawa orang-orang yang mereka kasihi, kini dengan mata kepala mereka sendiri menatap duka kembali menjenguk Nias.Gempa Bumi dengan kekuatan 8,7 pada skala richter merobek dan menghantam bumi Nias. Mencabik-cabik pertahanan yang mereka bangun selama hampir empat tahun. Meluluhlantakkan semua yang mereka pernah banggakan di bumi tanah tumpah darah mereka.

Sementara teriak dan tangisan bercampur aduk dari para pengungsi yang berebut mendapatkan beras dan mie instant terus menerus dilaporkan para reporter. Jerita dan ar mata yang mengantar anak-anak polos itu beranjak menuju tempat tidur masing-masing. Beribu pertanyaan yang tak bisa mereka jawab memenuhi jiwa mereka. Oh Tuhan, tidakkah ini terlalu berat untuk mereka? Tidakkah Nias juga berhak tahu mengapa bencana tak kunjung berakhir menjenguk tanah dan pulau nan permai itu? Hanya Tuhan yang tahu.

Bandung, 5 Juli 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar