Kamis, 29 November 2012

ABDI SEJATI


ABDI SEJATI
Oleh: Joshua MS

Pria muda itu berlutut, ah…bukan! Sebenarnya dia bersujud, tersungkur. Dia seolah hanya punya tubuh lemah tak bertulang. Dengan kaki di tekuk hingga ujung lutut menyentuh dagu, pria muda itu begitu khusuk. Tanpa gerakan. Hanya sesekali bibirnya bergerak, mendesis. Kata-kata doa dan permohonan parau mengalun dari tenggorokannya. Dia sedang bergumul dalam doa yang sangat sarat. Sarat dengan beban yang tak terucap.

Hujan semakin deras. Atap rumah sesekali bergetar seolah tak mampu menahan benturan deras air hujan yang seperti tercurah dari langit. Kilat sambar menyambar. Dalam hitungan detik aku dapat melihat lewat jendela gelap malam sekilas terang. Aku merapatkan tubuh ke tembok. Aku mencoba untuk terus memetik snar-snar gitar mengiringi irama sebuah lagu penyembahan. Sesaat aku berhenti. Aku sungguh tak kuasa melawan desau hujan di luar. Suasana penyembahan khusuk membuat irama alam menjadi lebih merdu dari petikan gitar. Aku juga makin hanyut dalam penyembahan.

Aku perlahan memetik lagi snar-snar gitar. Lagu penyembahan kembali mengalun lembut. Suara-suara parau dari kerongkongan yang dingin mengalun. Tak terasa kelompok kecil yang tidak sampai sepuluh orang makin hanyut dalam hadirat-Nya.

“JanjiMu s’perti fajar pagi hari, yang tiada pernah terlambat bersinar. CintaMu s’perti sungai yang mengalir, dan ‘ku tahu betapa dalam kasihMu…! Entah sudah berapa kali refrein penyembahan ini di ulang-ulang. Yang aku dapat rasakan adalah kedamaian dan ketenangan. Sukacita spiritual yang sangat dalam.


Pria muda bernama Tri Bowo Raharjo itu perlahan mengangkat kepalanya. Dalam remang bolham neon, aku dapat membaca garis-garis wajahnya. Dia masih sangat muda. Tepatnya masih 33 tahun. Namun entah kenapa aku dapat merasakan satu energi yang terpancar dari wajahnya. Seraut wajah khas Jawa yang polos tetapi memancarkan karisma spiritual yang sangat dalam. Kharisma pengabdian yang sudah menjadi barang langka di abad komputer ini. Pengabdian seorang laki-laki dengan jenjang akademik Strata 2 yang lebih memilih mengabdi di dusun lereng Gunung Lawu. Lereng Gunung Lawu yang miskin.

Jumantono yang Prihatin

Pertengahan November 2005. Sebuah pesan singkat masuk di inbox telepon genggamku. Isi pesan SMS adalah undangan pelayanan khotbah. SMS itu dari seorang penginjil muda yang aku kenal beberapa tahun silam dalam sebuah tur misi kepedalaman Jawa Tengah. Mas Tri, begitu Ev. Tri Bowo Raharjo, S.Th, M.A, dipanggil. Dia seorang penginjil yang bekerja penuh waktu pada sebuah badan misi untuk wilayah lereng Gunung Lawu Karang Anyar Jawa Tengah. Dia mengundang aku untuk menyampaikan khotbah Natal gabungan gereja-gereja Kristen sewilayah Kecamatan Jumantono. Entah karena dorongan apa, undangan itu aku iyakan saja.

Tidak ada yang istimewa dalam perayaan Natal bersama gereja-gereja Kristen sewilayah Kecamatan Jumantono. Bahkan acaranya yang terkesan sangat monoton dan liturgis karena harus mengakomodir semua denominasi gereja, membuat aku cepat jengah dan kurang dapat menikmati kebaktian. Yang paling menekan, setelah aku menyampaikan khotbah natal adalah giliran kata-kata sambutan dari undangan yang terhormat. Bapak camat sebagai orang nomor satu di kecamatan juga turut menyampaikan kesan dan pesan.

Tidak seperti biasanya, aku mendapatkan kesan khusus dengan Pak Camat itu. Dia sangat bersahaja dan mungkin terlalu sederhana untuk ukuran seorang camat. Namun yang lebih mengejutkan hati adalah ketika beliau menyebutkan dalam sambutannya jumlah persentasi rakyat miskin di Kecamatan Jumantono. Suatu angka yang sangat mengiris hati.

“Maafkan saya, saya tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai karena saya harus segera memantau langsung penyaluran dana bantuan lansung kompensasi kenaikan BBM di beberapa kelurahan kita. sekali lagi saya mengucapkan selamat Hari Natal untuk umat Kristiani. Shaloom.” Koor Shaloom yang sangat antusias dari seluruh jemaat menyambut salam hangat dari Pak Camat. Pemimpin yang bukan umat Kristen ini memang di kenal oleh warga sebagai orang yang sangat nasionalis dan tidak fanatik.

Terngiang dalam hatiku ketika Pak Camat mengeluh dalam-dalam: “Jumantono ini daerah miskin, kami perlu bantuan dari luar untuk meringankan beban ekonomi rakyat yang terasa sangat berat.” Aku sungguh trenyuh mendengar tutur tulus dari seorang pemimpin bersahaja itu. Sungguh jauh dari tradisi pemimpin yang mengeruk kekayaan daerah untuk memperkaya diri sendiri. Ada terasa yang hilang dari hatiku ketika mobil Carry tua milik Pak Camat  meninggalkan halaman gereja. Bahkan undangan Pak Camat agar aku singgah di kantornya sebelum pulang ke Jakarta terasa seperti beban memukul-mukul ulu hati.

Jumantono yang sebagian besar wilayahnya merupakan lereng Gunung Lawu memang termasuk wilayah minus. Di samping kebanyakan lahan pertanian merupakan lahan miring, daerah strategisnya tidak terlalu luas. Olehnya warga kebanyakan memilih menjadi buruh ke kota-kota lain seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di sekitar Jawa. Sementara kaum perempuan kebanyakan memilih pergi keluar negeri menjadi TKW.  Bagaimana pun juga tekanan ekonomi yang berat membuat mereka tidak dapat mengandalkan hasil-hasil kebun dari lahan  tanah miring. Sungguh sebuah dilema sosial yang sangat membuat hati miris.

SMS Terakhir

Telepon Genggam yang tergeletak di samping tempat tidurku bergetar 3 kali. Aku segera paham itu pasti sebuah SMS. Setengah ngantuk aku membuka inbox message. Mataku nanar mengeja kata-kata di layar telepon genggam. “Shalom, selamat malam om! Maaf menggangu, mungkin ini SMS saya yang terakhir. Tolong doakan kami karena kondisi keuangan kami sangat berat. Tidak ada lagi barang yang dapat kami jual untuk memenuhi kebutuhan. Tinggal satu-satunya handphone. GBU.”

Beberapa minggu sebelum membaca SMS Mas Tri, aku telah berbicara lewat telepon genggam dengan dia. Mas Tri mengabari bahwa badan misi yang mengutus dan mendanai pelayanannya selama ini sudah menghentikan bantuan. Mas Tri dengan istri dan seorang anaknya kini hidup benar-benar dari kemurahan Tuhan semata-mata. Dia mengatakan bahwa mereka sudah mulai menjual barang-barang yang bisa di jual untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga.

Mas Tri berkisah bahwa beberapa kali ada tawaran untuk pindah dari dusun. Bahkan beberapa rekan satu pelayananku menawarkan untuk pindah dan menjadi staff gembala gereja besar di Jakarta. Namun Mas Tri tidak bergeming. Dia lebih memilih untuk terus bergelut dalam pergumulannya di dusun sepi Banaran Sawor. Bahkan ketika sang istri terkasih terkapar di meja operasi karena ganguan pada kandungan, Mas Tri tetap menggotong istrinya pulang kembali ke dusun di lereng Gunung Lawu pasca operasi. Sebuah panggilan pelayanan yang telah mematikan semua pertimbangan logika menarik dia sedemikian kuat. Sebuah pengabdian yang telah mematikan ambisi manusia modern yang haus harta dan jabatan seperti telah mencengkeram jiwanya.

“Berkali-kali pikiran saya bicara untuk lari dari panggilan. Meninggalkan dusun itu dan mulai menata hidup keluarga yang lebih baik di kota. Tetapi jiwa saya terus menangis dan meratap. Panggilan hati yang sangat kuat untuk menjangkau lebih banyak lagi orang. Lebih jauh lagi ke pelosok lereng Gunung Lawu.” Mas Tri berkisah ketika suatu kali aku mengundang dia untuk menginap di rumah kami. Kala itu Mas Tri tengah melakukan kunjungan maraton dan menyampaikan proposal kepada beberapa lembaga donasi di Jakarta. Namun sungguh prihatin, hingga saat SMS terakhir itu dikirimkan, belum ada satu badan atau organisasi pun yang bersedia membantu.

Aku dapat mengerti betapa galaunya Mas Tri. Barangkali keluhan Pak Camat tentang wilayahnya yang kering dan miskin turut menyumbang keprihatinan pada kondisi ekonomi Mas Tri. Dusun yang miskin dan prihatin. Dusun yang minus. Meski Mas Tri telah rela menjadi buruh tani, tetap saja terasa tak berbeda banyak.

Sebuah pertanyaan? Mengapa masih ada Mas Tri yang sanggup bertahan. Mengapa Mas Tri yang bergelar Master Of Art menepis kenyamanan di kota dan memilih untuk tetap bertahan. Entah sampai kapan. Atau sampai mereka akan kelaparan? Kemudian, ah…aku sungguh tak dapat membayangkan. Pikiranku gamang dan hanya dapat mengingat-ingat kalimat pengabdian yang menggetarkan dari Nabi Yeremia. “Tetapi apabila aku berpikir:’Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demni nama-Nya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.” (Yeremia 20:9)

Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menentramkan jiwa yang gamang. Sebelum tidur di kamar nyaman ber AC, aku mencoba menentramkan hati yang bergolak. Aku mencoba mengerti dan melihat dari sudut pandang yang lebih realistis. Namun aku susah untuk menarik sebuah kesimpulan. Sementara aku tidur di kamar yang sejuk dan nyaman, ada seorang Mas Tri tengah memeluk lututnya dalam doa dan penyembahan yang larut. Masihkah aku dapat menyatakan: “Tenanglah kau wahai jiwaku?”

Yang jelas hanya satu. Sama seperti nabi Yeremia mengalami pergolakan yang hebat dalam pelayanannya di tengah-tengah umat yang bebal dan tegar tengkuk, demikianlah Mas Tri. Memang beban ke dua abdi Allah ini berbeda, namun jeritan jiwanya hampir sama. Mas Tri hanya seorang laki-laki yang telah terjerat dalam panggilan yang kuat. Tidak ada lagi pilihan selain menyerahkan hatinya untuk tidak pernah menyangkal panggilannya seperti sekian banyak pelayan-pelayan Tuhan kota yang memeluk erat-erat dogma kemakmuran. Sekalipun suatu kali Mas Tri harus tergeletak tak berdaya, namun jiwa pengabdiannya telah menjadi seperti api yang menyala-nyala. Api yang tak terpadamkan. Api pengabdian untuk selalu dan selamanya. Api pengabdian yang sejati. Abdi Sejati.

Jumantono, 24 January 2006

Penulis:
Pdt. Joshua Mangiring Sinaga, S.Th
Pendiri & Pembina Yayasan Hati Nurani