Minggu, 02 Desember 2012

AIR MATA HANA


Air Mata Hana 
Oleh: Joshua MS

Getar telepon genggam di sebelah bantal membuyarkan mimpiku. Bola mata terasa susah di ajak untuk melihat. Dengan mata redup separuh terbuka aku mencoba melirik jam dinding di tembok kamar tidur. Jarum jam menunjuk pukul 02.15. Artinya ini dini hari. Siapakah gerangan orang yang tega menelepon di malam buta seperti ini?

Aku beringsut bagun dan berusaha membaca nama pemanggil di layar ponsel. Nama seorang staf yayasan berkedip-kedip di sana. Ya Tuhan, ada apa yang terjadi? Tidak biasanya staf rumah rehabilitasi jiwa itu telepon malam buta begini.

“Shalom!” Salam yang hampir tidak pernah aku lupakan saat membuka pembicaraan telepon.
“Shalom, maaf menggangu Kak!”  Herawati, staf yayasan yang mengurus rumah rehabilitasi jiwa menjawab di seberang.
“Ada apa ya?”
“Begini Kak!”

Aku bergegas mengganti baju. Mengenakan jaket  dan segera meluncur membelah jalanan Jakarta. Aku harus secepatnya tiba di rumah rehab yang baru saja di rintis oleh Yayasan Hati Nurani di bilangan Sunter Jakarta Utara. Seorang pasien dan merupakan satu-satunya pasien rumah rehab mengamuk tidak terkendali. Menurut Herawati, semua barang-barang di rumah sudah berantakan. Kaca pecah dan beling berhamburan di mana-mana.  Yang paling membuat aku cemas adalah pasien yang mengamuk itu terluka. Pecahan beling telah memecahkan salah satu pembuluh darahnya. Darah berceceran mulai dari toilet sampai teras rumah.

Masih jelas dalam ingatanku. Dua bulan yang silam, sebuah keluarga keturunan tionghoa yang berada menawarkan sebuah pelayanan. Sungguh aneh dan asing mengingat aku hanyalah seorang penginjil bukan seorang dokter. Bagaimana aku harus memulai sebuah pelayanan rehabilitasi jiwa dan berkutat dengan orang-orang yang berperilaku lumayan aneh itu? Yang lebih membuat aku bingung bukan hanya karena aku tidak pernah melayani orang stres dan sejenisnya, tetapi karena keluarga itu mengharapkan aku melayani salah satu anggota keluarga mereka yang sudah 20 tahun menghuni panti rehabilitasi jiwa.

Begitulah awalnya. Pertama kali aku bertemu Hana, hatiku sungguh trenyuh. Perempuan yang sudah malang melintang di berbagai panti rehabilitasi itu kelihatan murung tak bergairah.Perempuan 43 tahun itu lebih pantas di sebut nenek renta berusia 60 tahun. Hal yang paling membuat hati miris adalah perempuan berpenampilan 60 tahun itu bertingkah seperti gadis remaja berusia 17 tahun. Mulai dari rambut yang sudah mulai beruban, tingkah polah yang tidak beraturan, bercampur aduk dengan tutur katanya yang tidak jelas, hingga air mata yang tanpa terkendali mengalir dari kelopak matanya. Sungguh keadaan perempuan yang sebenarnya berparas cantik ini tepat seperti Hana yang dikisahkan dalam Kitab Nabi Samuel.

Sesungguhnya Hana tidak gila, atau paling tidak katakanlah dia tidak segila yang dituduhkan orang kepadanya. Aku mengamati dan mengikuti itu setelah melalui proses tahapan-tahapan konseling  yang panjang. Beberapa staf YHN yang ikut terlibat dalam proses konseling menyimpulkan bahwa Hana tidak gila. Hana sebenarnya lebih mirip depresi berat atau sejenisnya. Aku memang tidak mengerti dunia medis tapi paling tidak aku pernah mengunjungi salah satu rumah sakit jiwa sehingga dapat membuat skala perbandingan antara orang yang gila dengan orang yang mengalami stres berat. Kesimpulan staf yayasan yang keseluruhannya hamba Tuhan adalah Hana mengidap luka batin. Luka batin akibat kepahitan selama bertahun-tahun diperlakukan tidak adil oleh keluarga. Luka yang dalam karena semua anggota keluarga justru menganggap dia gila.

Tersebutlah keluarga keturunan Tionghoa yang kaya raya. Tinggal di sebuah komplek perumahan elit dengan luas kavling selebar lapangan sebak bola senayan lengkap dengan bagunan rumah mirip istana nan megah. Keluarga ini memiliki sembilan orang anak. Sebuah keluarga besar. Sebesar “istana” megah mereka. Namun ada seorang anak yang  perempuan yang bertingkah agak lain dari yang lain. Mungkin karena kelainan itulah maka anak perempuan yang satu ini diperlakukan lain pula. Sang nyonya memperlakukan dia berbeda dengan saudaran-saudaranya yang lain. Awalnya mungkin tidak terasa, namun tanpa mereka sadari, anak perempuan itu makin hari makin bertambah aneh.

Di sebuah sekolah lanjutan, perempuan “aneh” bernama Hana itu suatu saat berkenalan dan berteman baik dengan seorang anak laki-laki. Namun maklumlah, keluarga hartawan ini menerapkan  metode keras dalam hal pergaulan anak-anak. Cinta yang mulai bersemi di hati Hana akhirnya kandas karena tirani yang di bangun oleh tradisi keluarga. Hana yang memang sejak awal sudah menunjukkan gejala kelemahan jiwa pun terpuruk. Hana makin berulah aneh dan bahkan mulai menyerang teman sekelas. Keluarga pun akhirnya memutuskan untuk menarik Hana dari sekolah. Tidak ada pilihan lain karena keluarga tak ingin repot. Akhirnya, untuk pertama kalinya, Hana menghuni Panti rehabilitasi jiwa.

Perjalanan panjang dan berliku-liku pun mulai sudah. Di awali dari satu panti rehabilitasi ke panti rehabilitasi yang lain. Mulai dari kota kelahiran Semarang, Bandung, dan akhirnya ke Ibukota Jakarta. Pihak keluarga kelihatannya makin kepayahan sehingga lebih memilih mengeluarkan dana untuk membayar biaya rumah rehabilitasidari pada merawat Hana di rumah. Sayang, perkembangan Hana di panti rehab tidaklah menunjukkan kebaikan. Bahkan boleh dikatakan seperti berjalan di tempat. Belakangan bahkan Hana makin sering kumat. Entah karena sudah jenuh tinggal di rumah rehab dengan bentakan para perawat atau mungkin juga karena perasaan yang makin terluka karena keluarga makin menjauhkannya? Rumah Rehabilitasi terakhir bahkan memilih mengembalikan Hana kepada keluarga karena merasa tidak mampu merawatnya. Itulah awalnya, Keluarga menyerahkan Hana kepada Yayasan Hati Nurani. Setelah semuanya angkat tangan.

“Masalah utama yang paling sering menyulut Hana kambuh adalah laki-laki.” Demikian laporan seorang staf yayasan.
“Dia terobsesi untuk menikah dan bersuami. Setiap kali bertemu laki-laki dia akan bereaksi.” Tambah staf yang lain.

Dalam penanganan yayasan, kami mengamati memang Hana sangat agresif jika bersama laki-laki. Tidak peduli laki-laki itu masih sangat muda jadi pantas disebut anaknya, atau sudah tua beruban sehingga lebih pantas dipanggil bapak. Berkali-kali para pengurus panti harus merasa malu karena Hana memaksa untuk mencium laki-laki yang berinteraksi dengan dia. Ini sungguh resiko yang berat sehingga aku telah memutuskan untuk menarik sejauh mungkin staf laki-laki dari jangkauan Hana.

Bulan pertama Hana menghuni Panti Rehabilitasi Hati Nurani merupakan hari yang sangat berat. Segenap kemampuan dan segenap kasih dicurahkan untuk merawat Hana. Oleh karena kesabaran dan kasih yang tulus dari para staf yayasan, Hana kelihatannya mulai menunjukkan perkembangan. Volume kemarahan dan tindakan agresifnya makin berkurang. Aku sungguh sangat senang ketika mengunjungi dia beberapa kali. Seorang staf bahkan melaporkan Hana sekarang sudah bisa di ajak berkomunikasi. Bahkan Hana sudah mulai bisa menceritakan isi hatinya walaupun masih terbata-bata.

Perkembangan ini tentu menjadi report yang bagus. Aku sungguh bersyukur dan terus mendukung para staf yayasan untuk lebih semangat lagi. Yang paling membuat aku bersyukur adalah saat salah satu anggota keluarga Hana mengakui perkembangan Hana. Semua seolah memiliki waktu untuk bernafas lega ketika kondisi Hana terus menujukkan perkembangan yang positif. Aku berharap akan terus membaik sampai pada satu hari harapan itu seolah menjadi tawar. Suatu hari ketika keluarga memperkenalkan seorang laki-laki kepada Hana. Aku merasakan bahwa mimpi buruk akan segera menjenguk Panti Rehabilitasi Hati Nurani.

Awal perkenalan sepertinya tidak ada masalah. Laki-laki itu cukup dalam segala hal. Baik dari penampilan pisik sampai materi. Menurut cerita staf yayasan yang ikut pada acara perkenalan, laki-laki itu kelihatan sopan, dewasa, sabar, dan yang lebih penting lagi rohani. Aku bahkan mendengar bahwa dia direkomendasi oleh seorang pendeta TV yang terkenal. Sempurnalah sudah. Hana sungguh bahagia dan staf yang mengurusnya juga bernafas lega.

Mimpi buruk yang saya cemaskan ternyata datang juga. Aku  mendengar laporan, laki-laki kaya dan tampan itu tiba-tiba menghilang. Mula-mula tugas luar kantor dan selanjutnya entah apa lagi alasannya. Aku segera mencium gelagat bahwa sebenarnya laki-laki itu tidak bisa menerima Hana. Sejak laki-laki itu menghilang, Hana mulai meradang. Mengamuk dengan volume yang lebih parah dari hari-hari pertama aku mengenalnya. Bahkan ketika Hana mendengar ibu kandungnya masuk ICU, Hana makin tidak karuan dan mulai mengutuki siapa saja yang melintas dalam ingatannya.

“Shalom, pagi pak.” Aku segera menghampiri salah seorang adik laki-laki Hana. Sebelum berangkat tadi dari rumah aku sudah berjanji untuk bertemu dengan dia. Adik laki-laki Hana itu segera menjabat tanganku. Beriringan kami memasuki ruangan yang sehari-harinya di tempati Hana. Hatiku benar-benar remuk. Rumah yang tadinya begitu rapi dan bersih sekarang seperti kapal pecah. Beling berserakan. Bekas-bekas makanan berserakan. Dan entah apa lagi yang berserakan di ruangan. Ngeri sempat melintas ketika mataku melihat ceceran darah yang sudah membeku. Ya Tuhan, perang apa yang baru saja terjadi di ruangan ini?

Pikiran dan logikaku pun segera berjalan. Aku harus memutuskan apa yang tepat. Sebagai pemimpin di Yayasan yang bertanggungjawab atas segala hal, aku harus dapat mengambil keputusan. Aku segera memaksa Hana masuk mobil dan melarikannya ke Klinik. Sebuah suntikan tentunya dapat membantu menenangkannya. Aku juga segera menyuruh pulang staf penuh waktu yang mengurus Hana. Aku tidak tahan melihat wajahnya tertekuk gemetar di sudut ruangannya.

Tak teras matahari mulai terbit di ufuk timur. Jingga merah menyambut mentari pagi. Aku menepuk bahu Hana. Dia sudah lumayan tenang. Aku juga sempat bersenda gurau dengan seorang pengurus Panti Rehabilitasi Embun Kasih. Aku melihat Hana dapat menerima rumah barunya. Paling tidak aku dapat melihat dia sudah mulai tersenyum.

Aku mungkin harus mengaku terlalu naif dan membuat pengakuan dosa. Talenta dan kemampuan staf Yayasan yang aku bina belum cukup untuk mengurus Hana sehingga adalah sebuah kekeliruan untuk mencoba memulai satu pelayanan tanpa kemampuan yang memadai. Tetapi ini sungguh jadi pelajaran berharga. Semoga di Rumah Rehab yang baru ini, Hana dapat lebih Baik. Doaku agar cukuplah sudah air mata yang mengalir. Cukuplah sudah air mata yang mengalir dari kelopak mata Hana.

Penghujung Oktober 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar