Jumat, 14 Desember 2012

ISTRIKU DAN LEBARAN


Istriku dan Lebaran
Oleh: Joshua MS

Selasa malam. Jam tua yang setia melingkar di tangan kiriku menunjuk pukul 19.35 WIB. Seperti biasa, aku harus turun dulu dari kendaraan dan membukakan pintu pagar. Garasi rumah gelap karena lampu tidak menyala. Aku bergegas memasukkan kendaraan ke garasi. Tidak berapa lama, rumah menjadi terang. Aku menghempaskan tubuh yang penat di ruang keluarga.

Aku telah terbiasa pulang pelayanan dan menemui rumah gelap. Istriku belakangan ini sering lembur di kantor. Belum lagi masalah debitur bank dimana istriku menjadi reviewer mengalami kemacetan. Istriku menjadi kerap keluar kota dan menginap beberapa hari. Semakin sering aku pulang dan menemukan rumah gelap dan kosong.

Pekerjaan istriku memang sangat berbeda dengan pekerjaanku. Istriku seorang eksekutif di sebuah bank swasta. Dia seorang yang sangat sibuk dan akrab dengan masalah yang rumit dalam proses analisa kredit. Hampir sepanjang jam kerja dia berkutat di depan komputer. Kesibukannya di mulai dari menerima telepon dari berbagai penjuru, mereview permohonan kredit dari para marketing, menandatangi berkas-berkas, dan kemudian mengepak tas untuk segera bergegas ke bandara. Dia sungguh gesit dan sangat cepat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. 


Sedangkan aku hanyalah seorang pendeta. Aku seorang imam yang melayani sebagai gembala sidang sebuah gereja lokal. Tugasku yang lain adalah membina sebuah yayasan sosial. Pekerjaanku hanya berkisar di antara pelayanan terhadap sesama manusia. Mulai dari mengunjungi orang-orang sakit, memimpin ibadah, melayani berbagai-bagai sakrament gerejawi, dan liturgi gereja lainnya. Di dalam wadah yayasan, aku beberapa kali diharapkan hadir dan mendukung proyek-proyek kemanusiaan yang ditujukan untuk menjangkau kaum marginal. Pelayananku sungguh sangat sederhana dan nyaris tak memerlukan komputer atau teknologi canggih.

Pengasih yang Sederhana

Jam dinding di ruang tamu menunjuk pukul 20.05 WIB. Deru mesin kendaraan di depan membuatku segera bergegas menuju pintu. Aku tahu istriku sudah tiba di rumah. Ketika aku membuka pinta pagar, senyumnya merebak. Walau dia letih, setiap kali bertemu dia tak pernah lupa untuk tersenyum. Itulah tradisi khas yang membuatku tak pernah bosan bertemu dengan dia.

Malam ini istriku pulang dengan bawaan yang lumayan banyak. Aku teringat bahwa tadi siang dia SMS tentang berbagai-bagai pemberian dari koleganya. Dia cerita barang-barang itu parsel Idul Fitri. Aku hampir tergelak tertawa ketika dia cerita beberapa orang menghaturkan ucapan selamat lebaran kepadanya.

Dia memang supel dalam interaksi sosial. Tak terbersit sedikit pun kesan dia seorang penting di kantor. Barangkali itu yang membuat hampir semua rekan-rekan menyukainya. Mulai dari cleaning service, satpam, hingga para eksekutif mengenalnya sebagai pribadi sederhana. Sangat sederhana hingga orang-orang tidak merasa perlu bertanya apa agamanya. Keluwesannya membuat dia menjadi sosok yang di tunggu di kantor. Pribadinya yang bersahaja membuat hampir tak ada orang yang percaya bahwa selain wanita karir, dia juga adalah istri seorang pendeta.

Aku masih ingat beberapa hari yang lalu. Begitu sampai di rumah, istriku setengah memaksa aku mengantarkannya ke sebuah pusat perbelanjaan. Karena aku tak mau mengecewakan, aku menurut dan mengantarkannya. Dengan lincah dia memilih kue-kue kalengan yang biasa di beli orang pada saat lebaran. Dia meminta pelayan untuk mengepaknya satu-satu.

Besoknya dia bangun pagi-pagi benar dan membawa bungkusan-bungkusan kue kalengan itu keluar rumah. Di mulai dari tukang sayur yang saban hari menjadi langganan kami menerima satu bungkus, tetangga depan rumah yang cucunya paling sering di sapa istriku, hingga keluarga bapak sekretaris RT yang selalu ramah kalau kami mintakan bantuan administrasi di kelurahan. Mereka semua adalah komunitas yang paling sering bertemu dengan kami. Istriku membagikan bungkusannya dengan sangat manis tanpa kelihatan oleh siapapun.

Aku juga masih tak bisa melupakan ketika fajar menyingsing di Hari Raya Idul Fitri, rumah kami penuh dengan kiriman panganan. Mulai dari ketupat dan opor hingga kue-kue lebaran yang lain.  Kami bahkan tak bisa menghabiskan semua makanan sebanyak itu. Tetangga kami yang hampir seluruhnya merayakan Idul Fitri mengirimkan makanan ke rumah layaknya kepada kerabat.

Kristiani Sejati

Kita sering lupa bahwa sebagai umat Kristiani, kita di utus untuk menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia ini. Menjadi garam agar komunitas dunia yang sedang mengalami pembusukan ini dapat bertahan. Menjadi terang agar dunia ini meninggalkan kegelapan dan menerima cahaya kebenaran dariNya. Kita di utus untuk masuk serta tinggal dalam komunitas dan menghasilkan dampak yang benar.

Sebagai garam dan terang, kita seharusnya membaur dengan komunitas. Dalam komunitas itu pun kita seharusnya berdampak manis. Kehadiran kita pun mestinya oleh karena dorongan kasih sejati. Sama seperti Tuhan telah mengasihi kita secara total, seharusnyalah kita juga bergerak menjangkau sesama dengan dorongan kasih yang sama. Sudahlah sepantasnya kita memberikan rasa yang manis. Patutlah kita juga memberikan pencerahan dalam keremangan geliat komunitas. Agar apa yang telah mulai membusuk, dapat bertahan lebih lama. Atau apa yang masih remang-remang, dapat menerima cahaya kehidupan.

Istriku mungkin adalah satu contoh sederhana dari sekian banyak sosok kristiani sejati. Meski tak sempurna, orang dapat membaca pengejawantahan kasih dalam dirinya. Walau masih terlalu sangat sederhana, tapi tutur kata, keramahan, dan tindakan kasihnya bergaung lembut di pemukiman kami.

Kitab Suci telah berpesan: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” (II Korintus 3:2). Sesungguhnya istriku telah membuat komunitas kami membaca Injil dalam dirinya. Walau dia tak pernah sekalipun berkhotbah, namun bahasa kasihnya telah lebih berdampak dari pada sekian banyak khotbah yang aku sampaikan di mimbar gereja. Sejatinya, istriku telah menjadi pengkhotbah yang tak pernah naik mimbar. Khotbah nyata yang dapat dirasakan oleh komunitas yang tak pernah mengunjungi gereja kami.

Terimakasih istriku, kau sungguh penolong yang telah dikirimNya untuk mengisi banyak kealfaanku. Terimakasih Tuhan untuk anugerahMu yang terbesar.

(Tulisan ini aku persembahkan untuk istriku tercinta, Imelda Hanna Widjaja, SE. Jakarta, Penghujung October 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar