Minggu, 16 Desember 2012

Kerena Seorang Telah Mati Namun Hidup Kembali


Kerena Seorang Telah Mati Namun Hidup Kembali
Oleh: Joshua MS

Sore yang sangat sejuk. Aku menengadah ke langit-langit. Sudut mataku berkaca-kaca. Suaraku pun menjadi serak hampir tak terdengar. Hilang diantara haru bercampur sukacita. Aku berusaha menghirup oksigen lebih banyak dalam hening tanpa suara musik. Suara musik yang biasanya keras mengiringi pujian dan penyembahan kebaktian Hati Nurani Ministries Jakarta seperti dikomando untuk berhenti. 


Tidak seperti biasanya, aku cukup menumpangkan tangan ke atas kepala anak-anak yang diserahkan orang tuanya kepada Tuhan Yesus. Hari ini aku meraih batita itu dari gendongan ibunya. Suara serakku pun menggema: “Lorenza Injilia, aku menyerahkan engkau kepada Tuhan Yesus Kristus berdasarkan iman kedua orang tuanmu.” Aku beringsut dan menaiki mimbar. Mengangkat tubuh mungil Lorenza dan menaikkan permohonan doa dari hatiku yang penuh haru berbaur sukacita. Sukacita yang sangat besar karena seorang anak telah mati dan hidup kembali. Dan anak itu kini ada di dalam pelukanku.

Pasangan Miskin

Setahun silam aku menikahkan sepasang kekasih beda suku dan adat istiadat, Nuryanti Boru Hutagalung dengan Maksianus Paulus. Pemudi Batak itu telah jatuh cinta dengan pemuda Flores dan memutuskan untuk menikah. Dalam kelas Bimbingan Pra Nikah saya mengetahui sedikit banyak tentang persoalan pernikahan mereka yang pelik akibat perbedaan suku dan adat istiadat. Namun karena keteguhan hati, merekapun dapat melewati tekanan dan memasuki prosesi pernikahan kudus tanpa halangan yang berarti.

Perjalanan keluarga muda ini bias-biasa saja. Sebagai gembala, saya pun harus lebih sering meluangkan waktu untuk mengunjungi mereka. Kesibukan Maksi, demikian saya memanggil kepala keluarga baru ini, sebagai supir pribadi memang seringkali menjadi penghalang mereka mengikuti kebaktian minggu. Mereka harus di dorong untuk menyempatkan waktu beribadah karena gereja menyiapkan ibadah pukul 6 petang. Walau tak menonjol, namun keluarga ini terbilang setia dalam pelayan gerejawi.

Nuryanti ternyata sangat beruntung. Kandungannya diberkati Tuhan. Seorang bayi dalam kandungannya pun bertumbuh dengan baik. Walau tak seperti perempuan lain yang dibekali dengan nutrisi berlebih, Nuryanti sehat-sehat saja termasuk bayi dalam rahimnya. Sukacita pun memenuhi keluarga ini dalam menanti kelahiran sang bayi. Semua berjalan dengan sangat baik sampai menjelang tiba saat persalinan.

Maksi menceritakan kepadaku sesaat sebelum ibadah mulai di suatu petang bahwa tidak ada masalah dengan bayi dan ibunya. Secara medis mereka sangat sehat. Tetapi ada sedikit masalah menyangkut ukuran pinggul Nuryanti tak memungkinkan untuk lahir secara normal. Dokter kandungan telah mengisyaratkan kelahiran melalui operasi Caesar. Ini tentu menjadi masalah karena untuk operasi memerlukan biaya yang tidak kecil. Aku tidak menegerti sejauh mana mereka mempersiapkan kelahiran sang bayi, namun yang jelas mereka tak punya dana cadangan untuk persalinan Caesar.

Terpaksa Karena Ketiadaan Dana

Sudah dua hari Nuryanti terbaring di pojok ruang bersalin yang sangat sempit dan pengap. Ruang bersalin dengan dipan kasar dan sebuah kipas angin yang hampir tak berputar sempurna. Nuryanti memilih sebuah klinik bersalin yang sangat kecil karena alasan ekonomi. Klinik yang dikelola bukan dokter tetapi seorang bidan inilha pilihan yang tepat untuk ukuran kantong mereka.  Dengan perlengkapan medis yang seadanya, ibu muda ini berjuang untuk melahirkan anak pertamanya.

Pagi hari ketiga, aku datang ke klinik setelah membaca SMS yang tak tergambarkan bahasanya. Aku berusaha tersenyum dan menumpangkan tangan di atas dahi Nuryanti yang kelihatan sangat lelah. Aku menaikkan doa pengharapan dan kesembuhan dengan ekspresi wajah tetap tenang padahal sejujurnya hatiku sangat miris. Ibu ini sudah dua hari tergeletak di sini dan bidan tak juga mengirimnya ke rumah sakit. Aku tidak menyinggung pindah rumah sakit karena itu bukan area pelayananku.

Hampir pukul 11 siang, tiba-tiba pintu ruang bersalin terkuak. Bidan memanggil Maksi untuk segera masuk ke dalam ruangan. Ternyata bayi telah di jalan lahir namun terhenti karena ibunya sudah kehabisan tenaga untuk mendorong. Keadaan ini tentu berhubungan dengan jalan lahir yang sangat sempit namun dipaksakan. Dengan kekuatan tangan bidan dan Maksi akhirnya berhasil mendorong bayi keluar. Namun sayang, karena terlalu lama di jalan lahir tanpa suplai oksigen, jantung bayi telah berhenti berdenyut. Nafasnya pun tidak terdetek. Tubuh dan ujung-ujung jarinya  sangat pucat. Bayi ini telah meninggal.

Secara medis bayi ini telah gagal jantung atau mati suri. Bidan telah melakukan berbagai upaya medis untuk menyadarkan bayi. Berkali-kali dia menyerukan nama Allah menurut agama yang di anutnya. Mendengar keributan itu aku pun masuk ruangan. Ibu mertua Maksi berlutut dan meraung dalam tangis penuh duka di lantai. Maksi pun tertunduk lemas seperti patung dengan air mata mengalir deras dari sudut matanya. Jantungku pun berdebar sangat kencang.

Beberapa saat sebelum aku menyaksikan drama kehidupan yang sangat menyiksa ini, aku terus bersyafaat di depan pintu ruang bersalin. Aku berdoa syafaat dengan segenap hati agar anak dan ibu berhasil selamat. Berkali-kali aku mengutip ayat dan mengatakannya ke udara bahwa tidak ada keguguran dan kegagalan persalinan bagi orang percaya. Namun bersamaan dengan bidan memanggil Maksi ke ruangan, entah dari mana asalnya, ada satu bayangan yang berkelebat cepat memasuki ruangan bersalin. Aku belajar peka dan mengerti bahwa itu adalah roh maut. Roh yang bersiap mengambil nafas hidup anak ini.

Pikiranku kembali berputar-putar ke ayat-ayat Alkitab. Kisah seorang manusia, Nabi Elisa, membangkitkan anak seorang perempuan Sunem yang murah hati (2 Raja-Raja 4:8-37). Dan yang lebih penting lagi adalah perkataan Tuhan Yesus: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.” (Yohanes 14:12). Aku percaya kata-kata Yesus ini tak perlu ditafsirkan karena maknanya sudah jelas yaitu melakukan kembali hal-hal yang telah dikerjakan Yesus. Nabi Elisa membangkit seorang anak yang sudah mati. Tuhan Yesus pun berkali-kali membangkitkan orang yang sudah mati. Salah satu yang dibangkitkan Yesus bahkan sudah mati 4 hari.

Aku bukanlah pelayan Tuhan yang sangat  religius seperti kebanyakan orang dikalangan kharismatik. Bahkan dalam benak saya seringkali berbenturan antara mukjizat dan logika. Berkali-kali saya belajar dan menelaah Alkitab secara dalam dan hampir tak bisa mempercayai pelayanan membangkitkan orang mati. Bagaimana mungkin nalar bisa menjelaskan orang yang telah mati hidup kembali? Namun entah dorongan dari mana, sore itu aku bertindak seperti orang yang aneh. Aku juga membaca buku tentang palayanan Ki Dong KIM  Rev. Reinhard BONKE yang berhubungan dengan membangkit orang mati.

Aku meraih tangan pucat bayi itu dan menaruh tanganku yang lain tepat di atas jantungnya. Sementara bayi itu masih terbaring di pangkuan ibunya, aku berteriak dengan sangat keras tanpa perdulikan situasi dikamar yang sanagt menekan: “Hai maut, kembalikan nyawa anak ini, demi nama Tuhan Yesus Kristus yang hidup dan berkuasa.”

Detik yang menegangkan berlalu sangat lambat. Aku terus bersyafaat dan memohon belas kasihan Tuhan atas nyawa bayi Nuryanti. Saat yang sangat menyiksa menunggu Allah menunjukkan kemurahanNya. Pergulatan batin antara logika dan mukjizat berperang menusuk-nusuk hatiku.

Allah mengerti bahwa imanku tak sempurna. Allah juga tahu bahwa nalarku bahkan mengatakan aku melakukan hal yang mustahil. Allah pasti mahpum bahwa otak telah menuduh aku telah gila? ALLAH Maha Besar dan dalam kelemahan itulah suatu kuasa bekerja. Jantung anak itu mulai berdenyut. Denyutnya semakin jelas dan kuat. Anak mungil itu pun mulai bernafas walau sangat kesulitan. Kuasa Allah sedang bekerja dan aku tak mau lagi bertindak bodoh. Anak ini harus segera di bawa ke rumah sakit. Peralatan medis di sana dapat menyelamatkan jiwanya.

Adakah yang Mustahil Bagi Allah

Ayat yang seringkali aku kutip adalah Lukas 1:37 : “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Bahkan ayat inilah ayat yang pertama kali aku hapal. Namun ternyata aku belum mengerti arti yang terdalam dari ayat ini.

Hari ini aku di atas mimbar. Menatang tubuh Lorenza Injilia yang bertumbuh dengan baik dan menyerahkannya kepada Tuhan Yesus Kristus di dalam nama Allah Bapa, Putra, dan Roh Suci. Allah berkuasa dan sanggup melakukan segala perkara bagi Injilia sehingga dia hidup. Nama Injilia yang aku berikan pada batita keluarga Maksianus Paulus untuk mengingat Kabar Baik yang nyata menyertai anak penuh mukjizat ini. Yaitu kabar bahwa tidak ada satu perkara yang mustahil bagi Allah. Karena Allahlah yang membangkitkan dan menyembuhkan Lorenza Injilia setelah hampir 10 hari di rawat intensif di ruang perawatan bayi Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara.

Kejadian ini sangat menohok hatiku sehingga belajar lagi satu hal. Pelajaran iman yang sangat berharga. Ternyata tidak cukup belajar di bangku sekolah Alkitab dan meraih gelar sarjana. Lebih dari pada itu, kita harus mengalami dan mempraktekkan semua pelajaran itu dalam realita sehari-hari. Tidak cukup ditahbiskan menjadi pendeta dan memakai jubah yang berjuntai menyapu lantai gereja. Yang jauh lebih penting adalah menerapkan dan mempraktekkan firman Allah yang hidup dan berkuasa, dalam realita hidup setiap hari. Ya, firman berkuasa dalam iman yang hidup setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar