Sabtu, 08 Desember 2012

AYAH FATAMORGANA


Ayah Fatamorgana
Oleh: Joshua MS

Mendung bergayut di langit Jakarta. Mendung itu pekat karena jutaan kubik air hujan yang berbulan-bulan ini tak juga turun. Jakarta yang biasanya panas menyengat, tiba-tiba menjadi begitu sejuk. Angin semilir berembus pelan membuat suasana Rumah Sakit Sint Carolus jadi lebih teduh. Teduhnya tampak semu di antara dengusan napas menahan nyeri gerogotan penyakit para pasien yang terkapar di ruang bedah.
Setengah berlari aku menapaki koridor rumah sakit. Langkahku separuh dipaksa untuk melewati tiap-tiap ubin tua koridor yang lurus dan panjang. Dengus napasku memburu seperti berlomba dengan hujan yang akhirnya mengguyur jalanan Jakarta. 

SMS yang terkirim tak sempurna dari ponsel istriku beberapa saat yang lalu terasa menendang-nendang ulu hati. Istriku sedang terbaring di ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Sint Carolus. Para dokter jaga UGD menunggu kehadiranku, menunggu tanda tangan persetujuanku untuk tindakan operasi.

Penantian Panjang
Satu tahun yang lalu, tepatnya, Sabtu, 17 Desember 2005, kami menikah di sebuah gereja di Kota Bandung. Sungguh luar biasa sukacita yang melingkupi keluarga kami.
Keluargaku yang berdarah Tapanuli dapat menerima dengan lapang dada istriku yang bukan boru Batak tetapi boru China. Suatu kejadian yang memang terasa sangat berat mengingat aku adalah anak sulung penerus marga keluarga. Aku sungguh bersyukur karena ibu dan ayahku sungguh mengasihi istriku dan menyebutnya sebagai parumaen hasian.
Pernikahan kami mungkin adalah sebuah mukjizat. Selain karena kami dapat mengatasi perbedaan kultur, kami juga dapat mendamaikan kedua belah pihak keluarga dengan cara memilih menikah secara nasional. Menikah tanpa mengikut salah satu adat dan tradisi Batak atau China. Dalam resepsi pernikahan yang meriah, kami melihat betapa rukun dan bahagianya Keluarga Sinaga dengan Keluarga Widjaja.
Setelah menikah, kami pindah ke Jakarta. Aku bersyukur karena istriku sangat mengerti profesiku sebagai pendeta. Sementara itu, dia masih tetap bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta. Kami melalui hari-hari yang bahagia walau berbagai kemelut yang dulu tidak pernah kami pikirkan mulai bermunculan.
Salah satu yang paling mengusik adalah keturunan. Istriku begitu sangat merindukan saat mendapatkan anak. Berkali-kali dalam doa di pagi buta, dia meratap dengan linangan air mata untuk dikaruniai anak. Kadang-kadang aku berpikir, apakah istriku itu mirip dengan Hanna yang dikisahkan oleh Nabi Samuel. Mengapa dia harus diberi nama Hanna sehingga dia begitu cepat berlinang air mata dan menangis.
Setiap bulan ketika masa haidnya terlambat, jantung istriku selalu berdebar-debar. Dia begitu berharap positif hamil dan segera dapat memberikan anak kepadaku. Walau sesungguhnya aku pun sangat merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga kami, aku dapat lebih menyembunyikannya dan hampir tidak pernah menyinggungnya di hadapan istriku.
Pendapat teman-teman tentang sukarnya istriku hamil karena usia dan kesibukan di kantor, membuat dia makin galau. Aku selalu dapat melihat kelopak mata istriku berkaca-kaca ketika dia keluar dari kamar mandi. Test pack menentukan lain dari apa yang diharapkannya. Dia belum hamil.
Demikianlah terjadi selama berbulan-bulan. Test pack selalu menunjukkan hasil negatif dan istriku selalu keluar dari kamar mandi dengan mata berkaca-kaca.

Berita Itu Pun Tiba
Seperti kebiasaanku saat mulai menyampaikan khotbah: “Saya punya dua kabar untuk saudara-saudara, yang pertama kabar baik dan yang kedua kabar buruk.” Begitulah yang terjadi, selama dua hari berturut-turut aku mendapatkan kedua berita itu.
Di hadapan dokter spesialis kandungan sebuah rumah sakit modern di bilangan utara Jakarta, mata istriku berbinar-binar penuh kebahagiaan. Kebahagiaannya begitu memuncak ketika peralatan medis terkini mempertontonkan embrio bayi yang telah berumur lima minggu menempel di dinding rahimnya. Aku juga hampir tak dapat menyembunyikan kebahagiaan begitu mendengar dokter menyampaikan kabar bahwa istriku positif hamil. Hari itu kami pulang ke rumah dengan berbagai-bagai ekspresi yang tak dapat aku gambarkan.
Kabar istriku hamil dalam hitungan detik menyebar ke hampir seluruh penjuru. Mulai dari ayah mertuaku di Bandung, keluarga besar istriku di Bandung dan Semarang, Ayah dan Ibuku di Sumatera, hingga sahabat-sahabat kami.
Mereka semua menyampaikan selamat dalam sukacita yang mendalam. Kami begitu larut dalam kebahagiaan karena akan segera menjadi ayah dan ibu. Keluarga yang sejati ketika telah hadir anak penerus generasi.
Hatiku hampir tak percaya aku akan segera menjadi seorang ayah. Seorang manusia akan segera lahir dan dia akan memanggilku ayah. Sepertinya akulah pria paling bahagia di planet ini. Mungkin akulah ayah yang paling bersukacita hingga tak terpikirkan bahwa sesuatu bisa saja terjadi besoknya.
Demikianlah, besok harinya kabar yang paling buruk itu berkunjung. Baru saja aku memarkir kendaraan di depan gereja, sebuah pesan SMS dari istriku seperti pentungan yang memalu dadaku. Istriku mengalami pendarahan. Entah apa yang harus aku lakukan, karena dalam hitungan menit aku harus naik mimbar dan memimpin ibadah.
Isak tangisnya ketika aku telepon membuat aku semakin galau. Untuk menenteramkan hatinya, aku sempat mengirimkan SMS berisi dukungan dan doaku agar Tuhan memelihara istri dan anakku, walau aku sendiri kalut setengah mati.
Rupanya Tuhan berkehendak lain. Berbagai cara yang dilakukan untuk menyelamatkan kandungan istriku yang masih sangat muda, semuanya sia-sia. Hasil USG menunjuk bahwa embrio itu telah gugur. Seperti sebuah guntur berita buruk ini memukul keras hati istriku.
Seperti petir berita ini juga menabur mendung di kalangan keluarga besar kami. Ibuku yang terkasih jatuh di belakang rumah begitu membaca SMS kabar keguguran kandungan istriku. Tapi mungkin akulah orang yang paling sakit dan kecewa. Berita kemarin telah membuat kami begitu bahagia dan hampir tidak bisa tertidur sepanjang malam, tetapi dengan begitu kasar sukacita itu direnggut paksa keesokan harinya.

Ayah Sesaat
Seperti fatamorgana, antara nyata dan bayang-bayang semata. Aku merasa aku akan segera menjadi seorang ayah. Tetapi yang aku saksikan adalah aku mendorong ranjang istriku menuju ruang bedah. Dokter memutus agar rahim istriku dibersihkan dari sisa-sisa keguguran agar tidak menjadi penyakit di masa yang akan datang dan siap hamil kembali. Sebuah kalimat klise yang kerap dikatakan dokter untuk menenangkan hati pasiennya.
Aku mungkin salah seorang penganut paham teologi konservatif. Bagiku hari peristiwa di mana sel sperma telah membuahi sel telur telah lahir seorang manusia. Jadi embrio bayi walau baru berusia lima minggu adalah manusia yang berhak untuk hidup.
Aku sangat menentang abortus dengan apa pun alasannya. Sebab sejak hari pertama pembuahan, Tuhanlah yang menenun embrio itu di rahim ibu: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (Mazmur 139:13).
Jadi embrio 5 minggu itu tentu telah memiliki ayah dan ibu kandung. Aku dan istriku. Walaupun hanya sehari aku menyadarinya, aku telah menjadi ayah lima minggu, walaupun seperti fatamorgana karena antara nyata dan bayang-bayang. Aku telah menjadi ayah dan istriku pun telah menjadi ibu. Walau hanya ayah fatamorgana. Selamat jalan anakku. Aku percaya ada rencana Tuhan yang indah sehingga ananda tidak pernah lahir ke dunia yang tua renta ini.


Rumah Sakit Katolik Sint Carolus Jakarta, Senin, 4 Desember 2006.
Penulis adalah Rohaniwan dan Pendiri/Pembina Yayasan Hati Nurani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar