Kamis, 27 Desember 2012

ROHANIWAN SEJATI?


PENDETA DUNIAWI
Oleh: Joshua MS

Pada kenyataannya, kata “pendeta” memang tidak pernah dikenal dalam penulisan Alkitab. Kata pendeta murni adalah istilah “duniawi” yang diadopsi orang-orang Kristen Indonesia untuk menamai para imam. 


Aneh memang, karena ada agama lain juga menggunakan nama yang sama untuk pemimpin spiritual mereka. Entah karena kekurangan perbendaharaan, kata “pendeta” sesunggguhnya adalah istilah “duniawi” dan diterima begitu saja. Mungkin karena istilah Alkitab kurang tren, orang Kristen lebih menyukai kata-kata “duniawi” dalam mengejawantahkan keberadaannya.

Kecenderungan orang-orang Kristen menyukai hal-hal bersifat duniawi bukanlah hal baru. Sejak gereja didirikan pada abad pertama Masehi, orang-orang yang menyebut diri Kristen jatuh bangun dalam hal mencintai dunia. Sebut saja contoh paling kelam dalam sejarah Perang Salib. Orang-orang Kristen tercebur dalam percaturan politik kotor. Mereka mengangkat pedang dan memancung sesama manusia.

Sungguh ironis. Yesus Kristus yang konon katanya disembah, berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5 :44). Yang paling menyedihkan adalah perang dogma. Satu denominasi memburu dan membunuh sesama yang berseberangan dengan dogma denominasinya.

Itu tidak berbeda jauh dengan keadaan belakangan ini. Para pemimpin orang Kristen yang sering dipanggil pendeta itu terkadang lebih duniawi. Cobalah kita lihat gaya hidup pendeta-pendeta era milenium ini.

Kalau dibanding-bandingkan, mereka tak kalah mentereng dengan selebritis. Namun yang sangat ironis adalah ketika para pendeta yang konon adalah para rohaniwan, ikut-ikutan bergaya seperti selebritis. Belakangan ini kita sulit membedakan mana selebritis dan mana yang rohaniwan.

Di Kitab Roma 12:2, Rasul Paulus dengan tegas berpesan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Mudah-mudahan saja, rohaniwan duniawi ini belum pernah membaca ayat ini, jadi mereka tidak perlu menerima murka panas membara penghuni surga.

Tersebutlah seorang pengusaha sukses yang lumayan kaya. Atau mungkin kaya raya menurut takaran ekonomi dunia ketiga. Dia tinggal di bilangan elite utara Jakarta. Namun entah kenapa, suatu hari dia masuk gereja dengan stelan jas. Kemudian orang-orang mulai memanggilnya pendeta.

Pengusaha sukses yang konon berkocek tebal dan suka menyumbang untuk gereja ini hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk dapat nangkring di mimbar. Hanya sekian waktu, pendeta yang pengusaha ini telah berkhotbah di hadapan khalayak ramai.

Namun tak lama berselang, pendeta spektakuler yang kelihatan memang lumayan pintar cuap-cuap di mimbar ini, ketahuan belangnya. Cuap-cuap di mimbar sungguh bertolak belakang dengan apa yang dikerjakannya sehari-hari.

Bagaimanakah mungkin seorang dapat mengajar kebaikan sementara dalam keseharian mengintimidasi karyawan yang bekerja di perusahaannya? Bagaimanakah mungkin seorang dapat berkhotbah kekudusan, sementara hampir tiap hari mulutnya mengeluarkan sumpah sarapah dan kata-kata kotor. Sungguh ironis sekali.Aneh bin ajaib, tak lama bergabung dengan gereja besar, pendeta spektakuler ini telah menduduki sebuah jabatan strategis dalam departemen misi. Tidak tanggung-tanggung, posisi ketua dipegangnya. Alhasil, beberapa gereja kecil dilindasnya.

Dengan cerdik laksana ular, dia mulai mengirimkan bus-bus untuk menjemput jemaat. Tidak peduli gereja mana angkut saja. Dia memang benar-benar seorang misionaris keblinger yang bertujuan memenuhi kursi-kursi gedung ber-AC yang disebutnya gereja. Kalau ada “pendeta” yang demikian, apakah kebenarannya? Apalagi jika semua mulut seolah terkatup bila dia sudah menyebutkan sebuah angka rupiah.

Melihat kisah ini, kita harus kembali kepada keaslian pesan Alkitab. Tak peduli gereja kita besar atau kecil dan hanya dikunjungi beberapa orang miskin. Gereja harus mulai cerdik menyeleksi para rohaniwannya. Gereja pun mestinya belajar menggunakan kata-kata Alkitab, seperti mengubah kata “pendeta” dengan “gembala”.

Dengan demikian para rohaniwan selalu menyadari bahwa mereka adalah gembala jiwa-jiwa. Mereka juga akan cepat sadar dan berbalik kepada Tuhan jika hidup mereka mulai condong kepada dunia karena mereka memang adalah imam yang rohaniwan. Dengan memahami arti dan perannya sebagai gembala seperti dikatakan Alkitab, para gembala bertugas memelihara jiwa-jiwa bahkan berkorban untuk jiwa-jiwa.

Mereka bahkan harus berani korbankan nyawanya demi keselamatan kawanan domba-domba. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11) Kalau saja para pendeta tetap sadar bahwa seorang gembala harus dekat dengan kawanan domba-domba, berbagi dengan kawanan domba, bahkan menyerahkan nyawanya untuk keselamatan kawanan domba, sesungguhnya merekalah rohaniwan sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar