Sabtu, 15 Desember 2012

Tak Selalu Seperti Kelihatannya

Tak Selalu Seperti Kelihatannya
Oleh: Joshua MS

Hiruk pikuk  memenuhi ruang sempit di pojok konsistori. Ada yang menjerit dan sebagian lagi tertawa cekikan. Ruangan itu benar-benar rame dan heboh. Anak-anak remaja Gereja Efrata melakoni rapat  valentine day dengan berbagai polah.

“Sebaiknya ngak usah perlu seragam pink, kuno!” Seorang cowok fungky super cuek mengacungkan jari.
“Hei, dimana-mana pink itu sudah umum, masak lo pake hitam sih?”  Seorang cewek protes keras.
“Huuuuu….” Koor serentak tanpa di pandu  menggelegar.
“Sudah, sudah… tenang teman-teman.” Joseph, sang pemimpin rapat berusaha terlihat dewasa walaupun kenyataannya dia tetap terlihat konyol. Kata orang jaim itu emang menyebalkan.
“Hari ini,” Ketua rapat mengoceh bak orang dewasa. “Kita akan mendengar saran-saran dari teman kita yang baru bergabung beberapa minggu yang lalu. Kebetulan dia baru pindah ke kota kita. Kami persilahkan dengan segala hormat, inilah dia, Lisa!” Tepuk tangan bergema.


Semua bola mata peserta rapat nan heboh itu mengikuti jari telunjuk Joseph. Lisa yang tergolong baru itu tenang-tenang saja beringsut dari tempat duduknya dan melangkah gontai ke arah Joseph. Dari raut wajahnya yang cantik dan penampilan yang modis, dapat dipastikan Lisa pasti dari kalangan borju yang berlimpah harta. Lihat saja busana yang dikenakannya. Semua bermerek made in luar negeri. Pasti sangat mahal. Belum lagi  ponsel wah yang tak pernah lepas dari genggamannya. Remaja belasan ini tentu bukan dari keluarga sembarangan.

Begitulah, akhirnya rapat memutuskan untuk mengaminkan semua saran-saran Lisa. Semua mengangguk setuju walaupun ada yang gondok setengah mati tidak setuju. Apa mau di kata, di gereja kecil yang rata-rata jemaat berpenghasilan menengah  ke bawah itu, uluran tangan Lisa dalam menyumbang dana sungguh sangat berpengaruh. Coba saja pikirkan, konon semua dana perayaan Valentine Day akan di bayar Lisa.

Setengah berlari-lari kecil menghindari matahari terik, Lisa menuju pelataran parkir sempit. Area parkir itu hanya di isi beberapa mobil. BMW metalic itu pun segera menderu. Mobil yang nyaris tanpa suara dan asap itu meninggalkan sebuah mobil kijang tua di pojok parkir. Kijang tua yang menghalangi pandangan Lisa untuk melihat sebuah ferrari sport merah maroon.  Lisa meluncur dengan sedan mulus menuju rumah disuatu  kawasan elite. Rumah bak istana yang selalu sepi karena di tinggal pergi papi dan maminya ke luar negeri.


***

Malam yang di tunggu-tunggu rejama Gereja Eftata itu pun tiba, ruangan gereja di permak pernak-pernik nuansa pink. Tebar bunga dan aksesoris bernuansa love di sudut-sudut strategis. Beberapa remaja yang jadi panitia sudah hadir sedari sore. Remaja belasan tahun itu datang dengan  berbagai tingkah. Semuanya heboh.

Menjelang senja, sebuah sedan BMW meluncur kencang dijalanan yang ramai. Beberapa kali roda-rodanya beradu dengan aspal hingga mengeluarkan suara berdenyit keras. Area parkir gereja yang sempit pun seolah kaget menyambut sedan mewah yang berdenyit kencang itu.  Sedan mulus itu mengusik sepi area parkir.

Tetap di sebelah kijang tua, sedan berkelas itu nangkring. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lisa meraih sebuah kado besar di jok belakang. Secepat itu juga dia keluar dari badan sedan. Persis seperti penampilan artis sedang mengikuti pesta, Lisa melangkah memasuki ruangan pesta. Entah bagaimana caranya, gadis remaja itu sangat nyaman dengan sepatu hak tinggi.

Entah karena hak sepatu ketinggian atau karena terlalu bergaya bak selebritis, makanan ringan yang digelar dimeja kanan koridor gereja yang sempit menjadi korban senggolan tangan Lisa. Tubuh Lisa yang kurus sempoyongan dan membentur sudut meja. Alhasil, semua makanan ringan itu tumpah ruah. Sebagian tumpah ke baju bermerek yang dikenakan Lisa, sebagian lagi berserakan di lantai. Untunglah dengan bantuan cowok-cowok sigap seperti pahlawan, Lisa bisa segera bangun. Lisa membersihkan bajunya yang berdebu dengan menggerutu. Matanya melotot ke arah Josh, cowok penjaga konter makanan. Walau Josh berkali-kali minta maaf, Lisa sepertinya tidak rela baju barunya kotor. Lisa berlalu dan masuk ruangan setelah melemparkan 10 lembar pecahan Rp. 100.000,-  ke arah Josh dengan pandangan berpasang-pasang mata.

“Oke  teman-teman!” Mona yang bertindak sebagai MC beraksi di pangung mini. “Sebelum kita memulai pesta valentine day yang menyenangkan ini, kita akan awali dengan kebaktian singkat.”

Kebaktianpun di mulai. Sebuah kelompok band dari anak-anak remaja gereja mengiringi lagu-lagu pujian sukacita. Umumnya mereka suka dengan lagu-lagu praise. Beberapa di antara anak muda itu melompat-lompat kegirangan. Entah karena irama musiknya yang keras atau sukacita dari dalam hati yang mengucap syukur. Yang tahu hanyalah mereka dengan Tuhan.

“Tibalah saat untuk mendengarkan renungan!” Mona bergegas turun dari podium. Mata anak-anak remaja itu sekarang tertuju kepada pembicara. Seorang pemuda berbusana sederhana melangkah ke depan. Josh menenangkan diri sebentar lalu menatap kumpulan remaja itu dengan tatapan teduh. Pemuda yang baru lulus SMU itu membuka Alkitab saku di tangannya. Beberapa saat dia termenung dan menundukkan wajahnya untuk berdoa.

“Mari teman-teman kita baca satu Korintus pasal tiga belas ayat tiga dan empat.” Josh dengan tenang membacakan ayat demi ayat perlahan-lahan. “dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk di bakar, tetapi jika aku tidak mempunyai  kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”

Sejenak Josh berhenti. Mengangkat wajahnya dan menatap anak-anak remaja di hadapannya sekali lagi. “Teman-teman, aku tidak ngerti arti ayat ini sebelumnya. aku mengerjakan banyak hal tetapi tanpa pemahanan yang benar. Hingga suatu hari, aku mengerti lewat pengalamanku sendiri. Sejak saat pengalaman itulah, aku memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab” Suara Josh berubah sendu.

Selanjutnya Josh berkisah tentang kilas balik kehidupannya yang berantakan. Hidup tanpa arah karena keluarga yang hancur. Orang tua yang sibuk mengurus bisnis. Orang tua yang pisah ranjang. Orang tua yang berselingkuh. Hingga Josh yang kecanduan narkoba. Tetapi oleh kasih karunia Kristus, Josh mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Malam ketika tidak ada lagi harapan untuk sembuh dari jerat narkotika. Malam ketka dia terkapar hampir mati. Malam di mana hanya dia sendiri di kamar. Malam ketika pisau stainlless stell dengan perlahan-lahan mengiris urat nadi di pergelangan tangan kirinya. Malam ketika sebenarnya dia sudah mati. Malam di mana dia di bawa oleh malaikat melihat neraka yang memilukan. Malam di mana dia bertemu secara pribadi dengan Sang Pencipta. Malam yang kemudian membuat dia menjadi ciptaan baru. Malam yang mengubah sama sekali kehidupannya.

Sejak malam itu Josh sama sekali. Josh berubah menjadi pemuda penuh perhatian kepada orang-orang miskin. Kepada anak-anak terlantar. Dan kepada korban-korban obat-obatan terlarang. Seorang pemuda sederhana dan rendah hati. Ia seorang yang  penuh belas kasih. Ia bahkan dengan rela meninggalkan rumah dan tinggal diasrama seminari yagn sangat sederhana.

Renungan yang sebenarnya lebih tepat dikatakan kesaksian itu pun diakhiri dengan sebuah lagu pujian. Josh, si cowok penjaga kantin dadakan itupun kembali ke tempatnya dengan mata berkaca-kaca. Tepuk tangan meriah mengiringi langkah gontai Jos menuju kursinya di pojok ruangan. Beberapa di antara anak-anak remaja itu menerima pesan Tuhan lewat kesaksian hidup Josh.

Pesta pun dimulai. Sorak-sorai tidak karuan bergema. Dasar remaja yang memang selalu histeria. Beberapa anak yang lain di antara mereka hanyut dengan sukacita permainan-permainan yang menarik hasil kreasi Lisa. Beberapa di antara mereka bersorak kegirangan karena mendapatkan hadiah. Malam itu memang benar-benar malam yang berbeda.

* * *

Malam makin merayap. Anak-anak remaja itu sudah pulang semua. Lisa pun sudah menghilang di kegelapan malam dengan BMW metalicnya. Area parkir sunyi sepi. Hanya sedan jaguar yang masih terparkir di pojok. Josh buru-buru mengemasi barang-barang dagangan di kantin. Beberapa anak-anak  dengan penampilan kusut membantu dan menemaninya.

“Gimana hasil penjualannya?” Josh menyapa Ati, sang  kasir.
“Lumayan mas, kita dapat untung.” Ati tersenyum seraya menunjukkan pecahan Rp.1.000.000,- yang dilemparkan Lisa. Buru-buru Ati menyudahi bersih-bersih ruangan yang dikhususkan untuk mereka sejak setahun lalu. Sejak setahun yang lalu ketika Daniel Wijaya, penyumbang hampir semua dana pembangunan Gereja Efrata, mengajukan permohonan agar anak-anak jalanan yang telah menjadi anggota gereja itu diperhatikan kesejahteraannya. Daniel Wijaya pengusaha kaya raya yang telah bertemu Kristus sejak mukjizat yang menyelamatkan anak tunggalnya, Joshua Wijaya yang kerap dipanggil Josh. Sejak setahun yang lalu, ketika kantin gereja di pojok ruangan itu resmi dikelola oleh anak-anak jalanan penghuni perkampungan kumuh di pinggir kota.

“OK, sekarang kita pulang.” Buru-buru mereka mengemas barang-barang. Mereka bergegas ke area parkir. Alarm Ferrari Soprt nyaring di hening malam. Dengan lembut Josh mengubah porsneling dan segera meluncur di jalanan sunyi. Jaguar merah maroon itu akan mengantar anak-anak  berbaju kumal kembali ke rumah mereka. Sebuah perkampungan kumuh di bantaran kali.

(Janganlah kiranya penampilan luar yang menyilaukan, membuat mata kita buta tentang apa yang ada di balik penampilan luar itu.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar