Minggu, 09 Desember 2012

BILA TUHAN MENENUN


Bila Tuhan Menenun
Oleh: Joshua MS

Mataku berkaca-kaca. Bening air mata hangat mengalir dan jatuh begitu saja tak terasa. Apa yang aku saksikan seperti dalam mimpi. Bayi mungil merah dengan nafas teratur terbaring di dalam box pemanas. Kedua pipinya ranun kemerahan dan leher yang hampir tak terlihat. Sesekali dia menggerakkan kedua belah tangannya yang mungil. Kemudian dia menendang sampai selimutnya tersibak dan kaki serta jari-jari mungilnya tersingkap.

Aku mematung tak bergerak. Dadaku penuh sesak rasa kagum. Mahluk mungil di dalam box pemanas itu begitu menakjubkan hati. Betapa sempurna tangan Sang Pencipta menenun tiap sel bayi mungil ini. Kagum yang tak terasa melantun puji syukur di hati. Sama seperti air mata bahagia mengalir tak terasa, doa yang melantun lembut dari hati pun begitu saja. Sebuah doa syukur atas Mahakarya Sang Pencipta yang kini terbaring manis dihadapanku.


Perlahan aku beringsut dengan hati tak rela. Paramedis mempersilahkan aku kembali ke ruang tunggu sementara mereka melanjutkan tugas-tugasnya. Masih seperti sedang bermimpi, aku melangkah ke ruang tunggu. Bertemu kembali dengan beragam ekspresi wajah yang sedari pagi seperti menjadi teman tanpa pernah berkenalan. Ekspresi wajah penunggu yang cemas berbaur dengan takut yang menusuk-nusuk ulu hati. Ekspresi sama yang jelas tergambar di wajahku beberapa saat yang lalu.

Bagaimana hati tidak cemas dan rasa takut tak memukul-mukul ulu hati. Sejak hari mengetahui secara positif kehamilan istri, hingga detik akan melahirkan, prediksi medisnya selalu membuat lolong sedih di ulu hatiku. Kesedihan yang menyayat hati dan memecah tangis yang tak tertahan.

Dua bulan usia kandungan isteriku, ancaman keguguran di tandai dengan pendarahan membuat aku panik tak paham hendak berbuat apa. Ketakutan menyelinap saat tragedi janin pertama di rahim istriku harus dikuret mendakwa seperti hakim yang tak berhati terulang kembali. Namun penanganan medis yang cepat dan tepat akhirnya berhasil menyelamatkan embrio di rahim isteriku. Walau untuk itu, isteriku harus terbaring total 24 hari. Perjuangan hampir satu bulan yang sungguh sangat berat itu memperlihatkan cinta istriku pada jabang bayi yang tak dapat aku gambarkan dalamnya. Dengan rela dia terbaring seperti layaknya orang sakit tanpa melakukan gerakan apapun selain membalik atau menyerongkan tubuhnya. Pada pertengahan badrest, hampir seluruh kulit terutama bagian punggung istriku mengelupas akibat keringat dan kurang sirkulasi udara. Walau dokter menyarankan obat, istriku memilih tak menggunakannya. Dia lebih memilih bayinya aman tanpa efek samping obat-obatan.

Akhir trimester pertama, aku dan istri dapat bernafas lega. Dokter mengijinkan istriku beraktifitas kembali. Walau di batasi, namun ini adalah berita yang sangat baik. Istriku kembali dapat bersenda gurau dengan teman-temannya di kantor, sementara aku dapat kembali lebih fokus pada pelayanan jemaat di gereja. Aku dapat merasakan sukacita yang memancar dari raut wajah isteriku. Tak henti-hentinya dia berbagi cerita dengan semua teman-temannya di kantor. Beberapa di antara teman-temannya bahkan terinspirasi dan merencanakan untuk segera punya momongan.

Namun ujian ternyata belum cukup. Dan ujian kali ini terasa seperti vonis bengis yang terlalu. Dokter spesialis kandungan rumah sakit elit di kawasan Kemayoran membeberkan diagnosa medis sehubungan dengan hasil laboratorium. Istri saya mengalami infeksi toxoplasma IgG di atas ambang toleransi medis. Untuk lebih mendapatkan hasil detail, dokter kemudian menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium. Hasilnya memang terjadi infeksi HI Avidity 0,517 di mana sebenarnya ambang toleransi berada harusnya pada angka 0,300. Dokter kemudian menyarankan agar kami mengikuti program pengobatan yang panjang sampai janin lahir. Sebagai orang awam, tentu aku dan istri menjadi sangat gamang. Apalagi mendengar resiko yang akan terjadi sehubungan dengan infeksi toxoplasma tersebut. Salah satunya yang paling menakutkan adalah kemungkinan bayi mengalami hydrocepallus atau pembesaran kepala akibat penyumbatan saluran. Belum lagi kemungkinan cacat yang mengancam.

Mendung kembali bergayut dalam rentang hari bahagia kami yang sangat sempit. Bayangan kemungkinan medis yang mengerikan membuat kami begitu kalut. Air mata isteriku yang terus mengalir semakin membuatnya terpuruk. Kemungkinan medis yang menyeramkan itu membuat hampir semua tiang-tiang ketabahannya runtuh. Aku berupaya tetap tegar dan terus mengatakan bahwa masih ada second opinion dengan cara konsultasi ke dokter kandungan yang lain. Beberapa kali aku berbicara pada hati bahwa dokter bukan Tuhan. Bukankah masih ada satu hal yang tak dapat dikerjakan oleh dokter yaitu mukjizat? Bukankah Tuhan adalah Dokter dari segala dokter?

Dalam kepenatan itulah, aku membawa isteriku ke sebuah rumah sakit anak dan ibu di kawasan Jatinegara Jakarta. Seorang teman satu gereja merekomendasikan nama seorang dokter.  Pada hari kami akan bertemu dengan dokter hasil rekomendasi itu, jantungku berdebar tak karuan.  Sementara menunggu giliran kami memasuki ruang dokter, aku berusaha tenang disamping isteriku yang sangat gelisah. Jantung berdebar sangat kencang sementara menuntun isteriku memasuki ruang prakter dokter yang ternyata telah sangat senior itu. Entah kenapa, ada aura ketenangan di raut wajah sang dokter. Senyumnya seperti mampu memaksa ketakutan kami menguap entah kemana. Dokter berkarisma itu membalikkan beberapa kali hasil lab dan menatap kami. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah no problem! Berikutnya dia mengatakan bahwa memang terdeteksi adanya infeksi toxoplasma yang menurut standar laboratorium rumah sakit sebelumnya, termasuk kategori rawan. Dokter ini menolak pengobatan dan membiarkan janin itu bertumbuh sealami mungkin. Isteriku hanya diberikan resep multivitamin dan disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan tentu menenangkan jiwa dengan banyak berdoa.

Begitulah hari terus berlalu. Kami kembali menjalani keseharian dengan berusaha untuk hidup senormal mungkin. Aku pun paham bahwa dukungan phsikologis sangat berarti untuk isteriku. Dia pun kembali ke kantor sementara aku kembali kepada runtinitas sebagai rohaniwan melayani jemaatNya.

Tanpa terasa  kandungan isteriku telah melewati trimester kedua. Dia sangat sehat dan hanya beberapa minggu sempat menderita sindrom muntah-muntah. Yang memusingkan hanya kalau ngidamnya kambuh, aku harus pontang-panting mencari makanan yang ketika aku sudah hidangkan hanya dibolak-baliknya. Ah, ternyata memang benar bahwa ngidam itu menyebalkan sekali.

Hari bergulir tenang. Tak lagi ada riak atau gelombang yang cukup berarti. Aku juga berlaku seperti tidak terjadi apa-apa dengan kandungan dan janinnya. Aku dan isteriku seolah sepakat untuk bersikap bahwa tidak ada masalah. Walau kami sama-sama menyadari, setiap saat dalam doa menjelang fajar, air mata selalu terjatuh dari sudut mata. Doa dalam kekalutan yang sangat untuk memohon kekuatan dan ketabahan. Dalam keseharian, kami berusaha untuk tidak membuka pembicaraan ke arah diagnosa medis. Aku juga akan secara reflek mengganti chanel televisi yang menayangkan hal-hal yang dapat membuat istriku gelisah.

Ketenangan semu itu akhirnya segera juga berlalu. Ketika usia kandungan isteriku telah hampir genap tujuh bulan, tengah malam menjelang dini hari. Kontraksi hebat yang melilit rahim dan rasa panas di punggung membuat isteriku menjerit-jerit tak karuan. Menurut petunjuk buku yang aku baca, itu adalah gejala kelahiran prematur. Aku segera melarikan isteriku kembali ke rumah sakit. Dokter pun memutuskan untuk merawat dan berupaya menunda kelahiran mengingat usia kandungan masih sangat riskan dan berat bayi masih di bawah 2000 gram.

Mendung kembali bergayut. Dakwaan diagnosa medis itu pun kembali memukul-mukul ulu hatiku. Ketakutan seperti duri yang menusuk-nusuk setiap kali aku melangkah di koridor rumah sakit menuju ruang isteriku di rawat. Sesak jiwa yang jauh lebih sakit dari sakit yang pernah aku derita di usia mudaku. Sesak jiwa yang lebih menekan bila di banding ketika masih di usia sekolah dasar aku harus bernafas dengan paru-paru yang terinfeksi.

Selang 5 hari di rawat, istriku diperbolehkan pulang dengan persyaratan sangat ketat. Tidak boleh ada aktifitas yang memicu kontraksi. Dokter menatapku dan berkata: “Pak, di tangan anda kunci kesehatan dan keelamatan isteri dan bayi. Jadi bantulah mereka!” Seperti sebuah resep mahal, aku berupaya menebusnya dengan mengurangi kegiatan di luar dan konsentrasi penuh merawat isteri.

Putri Kami Pun Lahir

Sore itu kami sekeluarga bersantai dengan berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari rumah. Aku kurang memperhatikan isteri ketika dia minta duduk sementara kami terus mencari barang-barang keperluan sehari-hari. Setiba di rumah isteriku merasa mules dan sakit di sekitar rahim hingga punggung. Mules yang disertai sakit melilit itu berlanjut hingga dini hari. Bergegas aku membawa dia ke rumah sakit.

Penanganan paramedis yang cepat dan informasi yang tepat bahwa proses persalinan normal yang kami rencanakan akan segera berlangsung. Aku bersyukur karena dokter yang menangani isteriku sangat perhatian dan sering memakai posisinya sebagai salah seorang direktur untuk membuat urusan kami lancar.

Pukul sembilan pagi bukaan jalan lahir sudah tiga cm. Isteriku pun sudah melewati ritual medis pra natal yang cukup ribet. Monitor yang mendeteksi denyut jantung bayi dan kontaksi memperdengarkan bunyi-bunyian yang sangat menggangu telingaku. Belum lagi monitor tekanan darah yang sesekali mengeluarkan bunyi aneh membuatku tidak betah lama-lama di ruang bersalin yang sangat asing.

Jam berlalu seperti sangat lama. Pukul 14.30 speaker di langit-langit ruang tunggu seperti guntur. Seseorang dari ruang bersalin memanggil namaku agar segera masuk ruang bersalin. Aku bergegas tanpa peduli tatap mata banyak penghuni ruang tunggu. Yang ada dibenakku adalah tangis melengking anakku. Namun sungguh aneh, seorang suster justru menyodorkan gagang telepon. Di ujung telepon suara dokter yang sudah saya kenal mendesah. Informasinya bahwa bukaan jalan lahir tidak mengalami progres sementara tekanan darah sudah di ambang riskan. Intinya harus segera melakukan operasi. Seperti kerbau di cucuk hidung, aku mengangguk dan menyetujui eksekusi caesar. Yang terpikir hanya bagaimana menyelamatkan dua jiwa yang begitu aku kasihi.

Menit yang begitu berat ketika aku harus mendorong bad istriku memasuki ruang operasi. Langkahku terhenti di depan pintu pembatas ruangan operasi. Waktu terasa begitu berat menghimpit hingga diafragma begitu susah membuka untuk menghirup oksigen. Aku mematung di antasa ruang tunggu dengan pintu kaca pembatas ruang operasi. Berperang melawan waktu. Menunggu saat pertama kali aku akan mendengar tangis bayi dan wajah bahagia isteriku.

Waktu kini seperti menggelinding kencang. Aku segera berlari menuju pintu kaca ruang bersalin sesaat setelah namaku dipanggil. Dan hanya sesaat aku sudah berhadapan dengan seorang dokter anak. Nafasku memburu tak karuan. Dokter menyalamiku dan menyebut kata selamat. Anakku telah lahir dengan sehat. Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan.  Semua alat vital sempurna. Berat hingga panjang yang normal untuk ukuran anak asia.

Tanpa terasa air mata mengalir membasahi mataku yang hampir 24 jam tidak tertidur. Lega  seperti air yang membasahi padang gurun kering. Sebuah kidung syukur dan doa yang tak tergambarkan pun mengalir untuk kebesaranNya. Putri pertama kami, Corinthia Evangeline Joshua, telah lahir ari Rabu, pukul 14.48 WIB, 28 Mei 2008, dengan berat badan 3275 gram dan panjang 48 cm.  Putri yang cantik menurun dari ibunya, dan kerangka yang kokoh diwarisinya dari aku ayahnya.

Seperti namanya yang berarti putri cantik pembawa kabar baik yaitu keselamatan. Kabar baik bahwa Mahakarya Tuhan melebihi prediksi medis. Seperti sebuah Mazmur yang indah mengatakan: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (139:13) Demikianlah tidak ada yang dapat menghalangi Allah menenun Orin, panggilan anak kami, hingga lahir dengan sempurna. TanganNya yang menenun dengan sempurna, maka segala hal yang hendak merusak kesempurnaan ciptaanNya harus hengkang.

Terimakasih Tuhan, karena kebesaranMulah, kami telah melewati lembah yang kelam dan memasuki fajar yang bersinar terang. Fajar yang terbit yang membawa kabar keagungan Tuhan dan hasil tenunanNya yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar