Senin, 03 Desember 2012

Aku, Binggo, dan Adam


Aku, Binggo dan Adam
Oleh: Joshua MS

Entah sudah berapa kali aku keluar masuk kamar mandi. Sepertinya seluruh isi perutku sudah terkuras habis. Sejak kemarin diare yang tak kunjung reda seperti hendak merontokkan sistem pertahanan tubuhku. Antibiotik, parasetamol, dan tablet penetral gas dalam lambung super mahal yang sudah aku telan sedari pagi sepertinya tak bisa berbuat banyak. Aku tetap saja harus keluar masuk kamar mandi. Bolak-balik mengeluarkan apa saja yang aku telan.

Sudah dua hari aku sangat menderita hingga tidak bisa berbuat apa pun. Aku hanya terbaring dan menatap langit-langit. Diagnosa dokter menyebut diare dan peningkatan gas dalam lambung. Ah, gas tritis itukan hanya pemanis kata saja. “Sebut saja aku menderita maag.” Batinku bergolak. Teringat 10 tahun silam saat-saat genting menyelesaikan skripsi, aku harus terkapar di rumah sakit karena apa yang di sebut dokter infeksi saluran kandung kemih dan gas tritis. Tingkat stres yang memuncak akibat tekanan menurut dokter-dokter tua itu memicu perkembangan bakteri dalam lambung yang akhirnya menggerogoti anti bodi manusia. Jika demikian adanya, maka tinggal menunggu sakit. Bah, macam mana pula ini?

Saat pikiranku menerawang jauh, tanpa aku sadari pintu kamar terkuak. Istriku berdiri lengkap dengan tas kerja. Dia memang sengaja pulang cepat karena kuatir keadaanku yang belum membaik. Istri yang baik, demikian batinku berkata-kata. Tapi tunggu dulu. Ada apa dibelakangnya? Tiba-tiba kepalanya menyembul dari balik pintu. Mahluk lucu dengan mata sayu berkaki empat. Ah, dia kan Binggo. Anjing blasteran sahabatku yang berdiam di teras rumah. Istriku ternyata mengerti gundah di mata Binggo dan membawanya kekamarku. Sudah dua hari dia tidak bertegur sapa denganku. Karena jangankan untuk memberinya makan, hanya sekedar beranjak dari kamar pun aku tak berdaya.

Biasanya Binggo akan berdiri di kedua kaki belakangnya dan berharap aku mengelus kepalanya. Kemudian dia akan menabrak perutku dan memintaku untuk bermain sebentar sebelum berangkat kerja. Dia akan terus berdiri sambil menggoyang-goyangkan ekornya sampai aku menghampirinya. Suatu kali dia bahkan melompat dengan kekuatan penuh dan membuatku hampir tersungkur. Aku bayangkan seandainya orang asing yang menerima terjangan itu, barangkali korbannya bisa mati karena serangan jantung. Binggo adalah anjing yang sepertinya tak pernah lelah.

Tapi hari ini dia hanya berdiri dengan keempat kaki dan memandangiku dari jauh dengan mata kosong. Ekor putih hitamnya diam dan terjuntai ke bawah. Tidak ada seringai lucu di wajahnya. Tidak ada ajakan untuk bermain apalagi untuk menerjang perutku. Dia hanya memandangiku dengan tatapan memelas tanpa gerakan sedikitpun selain kejapan matanya. Kejapan-kejapan matanya seperti bertanya: Ada apa denganmu bos? Kenapa tidur saja? Kenapa tidak mengunjungiku di teras? Kenapa tidak lagi mengelus kepalaku? Kenapa tidak mengisi mangkokku dengan makanan lezat? Mengapa dan mengapa lain yang entah berapa banyak lagi.

Sejak hari pertama kami memelihara Binggo, aku sudah merasa dia akan menjadi sahabat seisi rumah. Dia sangat cepat akrab dengan seisi rumah bahkan dengan tamu yang baru pertama kali datang.  Binggo akan segera menerima siapa saja yang telah dibukakan pintu pagar oleh salah seorang penghuni rumah. Binggo begitu cepat akrab dan bahkan tak sungkan untuk mengajak tamu bermain. Kadang-kadang aku harus tega “mengusirnya” agar tamu bisa bernafas.

Awalnya aku sempat kuatir bahwa Binggo tidak bisa diandalkan untuk menjaga rumah. Hampir 5 bulan Binggo tinggal di rumah namun tidak sekalipun dia menggonggong atau menyalak sebagaimana lajimnya seekor anjing. Istri dan adik iparku yang memang pecinta anjing sempat kuatir Binggo bisu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sampai suatu hari kami sepakat untuk membawanya ke dokter hewan.

Kekuatiran kami akhirnya terjawab pada suatu malam. Saat kami baru saja meninggalkan ruang keluarga menuju kamar tidur. Tiba-tiba salakan keras memecah kesunyian malam. Bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Aku segera berlari ke teras. Dugaanku ternyata benar. Binggo sedang berusaha keras melepaskan lehernya dari rantai pengamannya. Dia berdiri di atas keempat kakinya. Ekor putih hitamnya berkibar seperti bendera. Bulu-bulu di punggung dan lehernya berdiri. Lidahnya menjulur keluar. Sepintas aku melihat seekor kucing tetangga lari terbirit-birit melompati pagar.

Sejak peristiwa malam itu, setiap binatang akan berhati-hati bahkan walau hanya sekedar melintas di depan pintu pagar. Aku kaget karena kaki Binggo bahkan begitu cekatan menjepit dan membunuh binatang menjijikkan seperti kecoak dan cicak. Berkali-kali pengamen dan pemulung lari terbirit-birit sambil ngedumel sesaat mereka mencoba mendekati pagar rumah. Sifat purba Binggo sebagai pengawal akhirnya keluar juga.


Sahabat Setia


Setiap kali aku tiba di rumah, entah itu pagi, siang, malam, atau bahkan tengah malam, Binggo akan segera berdiri, meluruskan badannya, dan kemudian berdiri di kedua kaki belakangnya. Entah terbuat dari apa mahluk bernama Binggo ini hingga tak pernah lelah untuk berdiri hanya sekedar untuk menyambut penghuni rumah yang telah pulang.

Memang Binggo tidak selalu benar. Suatu hari dia berlaku seperti mahluk  aneh yang menyebalkan. Ia begitu semangat menggigiti daun pintu. Kali yang lain dia juga melompat dan menarik baju yang tergantung di jemuran. Berkali-kali kami bahkan harus merelakan handuk menjadi alas tidur Binggo yang tanpa ijin telah terlebih mengacak-acaknya. Yang paling parah adalah ketika mulut gatalnya mencoba rasa bemper kendaraan di garasi. Namun dari semua kesalahan itu, Binggo akan segera berlari ke pojok dan menundukkan kepala saat mendengar suara kerasku. Dia tahu kalau salah dan mengakuinya tanpa mencoba beralasan seperti kebiasaan hampir seluruh mahluk berkaki dua bernama manusia. Menit ini dia di hukum dan tak lama berselang, dia akan segera berlari-lari dan mengajakku bermain. Melupakan insiden saat sapu lidi mendarat dipunggungnya dengan cukup keras sebagai hukuman atas kesalahannya.

Berbeda dengan mahluk yang di sebut Alkitab bernama Adam. Dari kata adamah (bahasa Ibrani yang berarti tanah) kita menemukan kata adam yang berarti manusia. Manusia memang sangat jauh berbeda dengan anjing. Karena anjing hanyalah seekor binatang yang tidak punya hati. Anjing hanya punya insting sementara manusia diberikan kelengkapan indera sempurna. Namun perilaku manusia kadang-kadang tidak lebih baik dari seekor anjing. Manusia yang memang terbuat dari debu tanah itu seringkali berlaku begitu nista. Berkhianat dengan mengingkari hati nurani. Menyimpan sampah dalam hati seperti ditulis Rasul Paulus: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21) Padahal hati semestinya dibiarkan bersih karena dari situlah memancar kehidupan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).

Masih jelas dalam ingatan ketika seorang staf senior menghembus-hembuskan rahasia pribadi hanya untuk mengamankan posisinya dan mencampakkan aku. Masih segar juga dalam ingatan ketika salah seorang pemimpin dalam salah satu divisi dibawahku berlaku seperti Judas Iskariot. Seorang lagi yang konon mengatakan diri sebagai sahabat, dengan enteng tanpa rasa bersalah meninggalkan aku terpuruk menghadapi badai persoalan mahaberat. Kalau aku menulisnya lagi, akan menjadi daftar yang sangat panjang tentang kejahatan hati mahluk yang bernama manusia.

Dalam semua hal mahluk bernama manusia yang coba aku daftarkan memang telah beroleh anugerah yang luar bisa. Tentu tidak dapat dibandingkan dengan seekor anjing bernama Binggo. Tetapi sekali lagi, manusia saringkali tidak lebih baik dari seekor anjing. Bahkan suatu saat dalam pengajaranNya, Yesus Kristus mengatakan bahwa “anjing” jauh lebih baik dari antara umatNya (Matius 15:22-28). Satu hal yang kupelajari, walau dalam keterbatasan yang mungkin tak semua orang dapat menterjemahkannya, Binggo telah menjadi sahabat yang  setia. Bahkan, sangat setia melebihi sekian banyak orang-orang disekitarku.


Pdt. Joshua Mangiring Sinaga, S.Th


Gembala Senior Hati Nurani Ministries
Pendiri/Pembina Yayasan Hati Nurani

Alamat: Jl. Cempaka Baru IX/70C Kemayoran Jakarta Pusat 10640


Tidak ada komentar:

Posting Komentar