Rabu, 26 Desember 2012

KASIH IBU SEPANJANG JALAN


Perempuan Itu Aku Panggil Ibu

Oleh: Joshua MS

Entah sudah berapa kali aku berkunjung ke kampung sunyi ini, tetapi jumlah kunjungan ternyata tidak mampu mengikis rindu dan gundah yang  meronta-ronta. Setiap kali aku menginjakkan kaki di teras rumah tua itu, berbagai gejolak berkecamuk silih berganti. Lembar-lembar memory masa kecilku seperti potongan-potongan slide yang silih berganti bermunculan. Seperti sebuah adegan drama kehidupan, kenanganku di rumah tua ini seolah tak pernah pudar di lindas waktu. 


Dua puluh delapan tahun silam, kisah itu di mulai. Hari Selasa, tepat jam 10 pagi, seorang perempuan muda tak berpengalaman menghempas-hempaskan tubuhnya di atas dipan. Tak lama berselang, perempuan itu tergeletak tak berdaya setelah berjuang melawan kontraksi otot rahim. Perempuan itu telah hampir semalaman berjuang menahan rasa sakit untuk persalinan anak pertamanya. Entah berapa kali dia menjerit dan berteriak sangat keras. Tembok putih ruangan  praktek bidan desa itu bergema memantulkan gaung jeritnya. Hingga, ketika matahari pagi mulai meninggi, suara tangisan mungil seorang bayi memecah sunyi. Seorang bayi laki-laki mungil untuk pertama kalinya menyapa dunia dengan tangisan melengking. Perempuan itu beberapa saat tertegun.

Seolah tidak merasakan lagi penderitaannya semalamam, perempuan itu menantikan anaknya di mandikan. Tidak sabar ia ingin segera memeluk eret-erat bayi itu. Ia tidak mempedulikan keringat yang mengalir deras dari pori-pori dahinya. Kebahagiaan memancar dari raut wajahnya yang kelelahan.

Seperti sebuah badai bersama sambaran petir, menit-menit pertama yang penuh sukacita itu seketika buyar. Untuk pertama kalinya, perempuan itu terpaku dalam ketidak percayaan. Hatinya meronta dan menangis. Sedu sedan mengganti wajah riang beberapa menit yang lalu. Entah terbuat dari apa hati perempuan itu. Setelah sekian lama bergelut dengan sapaan penderitaan, sekarang dia harus merawat seorang bayi prematur.

Sahabat penderitaan itu sesunguhnya mulai menyapanya sejak pertama kali menginjak rumah sang mertua. Seorang pemuda yang dia anggap sebelumnya berhati pangeran berbudi luhur, ternyata hanya pada saat mengucapkan janji nikah di altar gereja saja terlihat mempesona. Selebihnya, pemuda yang resmi menjadi suminya itu tidak lebih dari pemuda berandal yang tidak bertanggungjawab.

Tidak tanggung-tanggung, pemuda itu seolah tidak merasa bersalah melemparkan apa saja yang dapat di jangkau tangannya. Mulai dari piring terbang hingga membanting pintu. Rumah itu menjadi saksi bisu kekerasan seorang suami. Tidak hanya sampai di situ, berkali-kali tamparan keras menimbulkan sembab di kedua belah pipi perempuan itu. Sekali waktu, tamparan keras membuat tidak hanya sekedar sembab, darah segar mengalir dari sela-sela bibirnya. Kekejaman suaminya itu semakin menjadi-jadi setelah mertuanya meninggal dunia. Seolah lepas kendali dan kerasukan, suaminya semakin tidak manusiawi.

Mulai dari hidup tidak karuan, judi, mabuk-mabukan, sampai main perempuan, pemuda itu seolah-olah lupa bahwa dia telah punya seorang istri. Pulang ke rumah hanya untuk melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan di luar sana.  Itulah suasana rumah tangga yang ada. Hingga suatu hari, karena usia kandungan, dengan berat hati perempuan itu meninggalkan rumah. Dengan air mata, perempuan itu kembali ke rumah orang tuanya. Entah karena apa, pesan pernikahan di altar gereja untuk tunduk pada suami sangat di hayatinya.

Hari ketika aku, bayi prematur itu lahir, pemuda yang tak lain adalah ayahku itu entah berada di mana. Seharusnya dia menemani istrinya berjuang menentang maut. Setelah beberapa hari, laki-laki itu baru hadir dengan tidak bersimpati sedikitpun. Hingga bertumbuh jadi seorang anak normal setelah melewati masa kritis bagi setiap bayi prematur, aku tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang sebagai seorang ayah darinya. 

Setelah melalui masa kritis, aku bertumbuh menjadi seorang yang sangat tergantung. Baik kepada pertolongan dan bantuan medis, hingga ketergantungan kepada orang lain. Aku bertumbuh menjadi seorang remaja yang sangat rentan terhadap serangan penyakit.  Hampir sepanjang tahun aku lalui dengan berbagai-bagai penyakit. Oleh kehadiran seorang perempuan yang  dengan setia selalu mendampingi masa-masa sukar, aku dapat bertahan. Entah akan apa jadinya, jikalau ketika suhu tubuhku di atas normal, perempuan itu tidak ada. Ketika paru-paru menyempit sehingga aku harus tidur dalam satu posisi dan megap-megap mencari oksigen, akan seperti apa aku tanpa kehadiran perempuan itu. Hampir setiap rasa sakit yang mendera semua sistem organ tubuhku, perempuan itu selalu ada si sebelah tempat tidur.

Dengan beban yang sangat berat, perempuan itu merawat dan menjaga aku tanpa kontribusi seorang laki-laki yang di sebut ayah. Dengan segala keterbatasannya, dengan setia dia bekerja dan berdoa. Yang pertama untuk pertobatan laki-laki tanbatan hatinya, ayahku, dan yang ke dua untuk kesembuhanku. Dari keterbatasan perempuan yang hanya sempat mengenyam pendidikan SMP itu, ia bekerja dan berdoa tanpa putus asa. Hingga akhirnya, pada satu hari menjelang petang. 

Sore itu, seperti biasanya, aku tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu si sebuah Sekolah Menengah Atas milik pemerintah. Aku telah di terima di sebuah sekolah negeri. Aku sangat bersyukur, walaupun aku bertumbuh sebagai remaja yang kurang sehat, aku dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata. Hampir setiap kelas yang aku ikuti dari Sekolah Dasar hingga sekarang SMA selalu mencatatkan aku sebagai murid yang berprestasi. Aku tidak habis mengerti mengapa itu bisa terjadi, karena menurut catatan medis, seharusnya aku menjadi murid yang biasa-biasa saja di sekolah. Mungkin ini salah satu bentuk kemahaadilan Tuhan. Barangkali.

Suasana rumah sore itu seperti biasanya sepi. Aku segera bergegas ke dapur. Setelah beberapa jam dalam perjalanan di bawah terik matahari, aku sangat kehausan. Ketika kakiku bergegas ke dapur, tanpa sengaja ekor mataku melirik ke arah sebuah kamar. Kamar yang hanya di tempati  ayahku untuk tertidur pulas. Sayup-sayup aku mendengar  suara tangisan tertahan. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk mengintip dari celah-celah pintu. Sebuah pemandangan yang sangat tidak lajim.

Ayahku sedang sujud berdoa dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Untuk pertama kalinya aku melihat laki-laki itu menangis. Belakangan aku mengerti bahwa ayahku telah mengalami sebuah perjumpaan supranatural dengan Tuhan. Ia adalah seorang yang selama ini hanya secara simbolik menjalankan agama yang di percayainya. Lewat sebuah kebaktian malam menjelang hari pentakosta, ia telah mengalami perjumpaan supranatural dengan Tuhan Yesus. Tanpa berdaya untuk membantah, ayahku seolah di dorong dan di “paksa” untuk bertobat dari jalan-jalanya yang sesat. 

Setelah 16 tahun berdoa dan mencucurkan air mata, perempuan yang aku panggil ibu itu akhirnya menerima jawaban. Laki-laki tidak bertanggungjawab yang adalah ayahku itu, akhirnya mengenal siapa dirinya dan siapa Allah yang menciptakannya. Pengenalan itulah yang akhirnya menuntun laki-laki itu menjadi seorang suami yang baik. Lewat proses yang panjang, ia telah menjadi kepala rumah tangga yang sungguh sangat bijaksana. 

Jawaban doa yang paling membuat dia berbahagia adalah ketika oleh sebuah mujizat, Tuhan menyembuhkan aku dari semua sakit bawaan lahir. Peristiwa itu terjadi pada satu malam menjelang tidur. Malam itu, seperti biasanya setelah selesai belajar, aku hendak beranjak tidur. Tiba-tiba sebuah cahaya sangat terang, memancar dari sudut langit-langit kamar tidur tepat mengenai tubuhku yang terlentang di atas dipan.

Sejujurnya, kami sekeluarga bukanlah keluarga Kristen yang religius. Dan pengalaman-pengalaman berbau religius bukanlah hal yang lajim dalam keluarga kami. Dari semua anggota keluarga, hanya ibu yang tekun dalam doa dan ibadah. Tetapi sungguh ajaib, sejak peristiwa malam itu, aku merasa tubuhku sangat sehat. Sejak peristiwa aneh dan ajaib malam itu, semua terapi medis secara total berhenti. Aku benar-benar dinyatakan sembuh.  

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sebelum aku mengetuk kembali pintu rumah tua ini, ada sebuah kekuatan yang sangat kuat mendorongku untuk segera berlari ke dalam. Setelah melalui penerbangan yang melelahkan, dan perjalanan darat hampir setengah hari, akhirnya aku kembali ada di sini. Di teras rumah tua yang penuh kenangan. Bukan lagi sebagai bayi prematur berkulit keriput, bukan juga remaja pemalu yang sakit-sakitan, sekarang aku berdiri di teras rumah ini sebagai seorang pemuda gagah. Seorang pemuda bergelar sarjana. Seperti cita-cita dan doa perempuan berhati mulia itu, aku telah menyelesaikan 5 tahun masa belajar di sebuah seminari.

Sayup-sayup langkah perempuan itu mendekat pintu. Tidak sanggup untuk lebih lama menunggu aku berlari menubruk tubuh ringkuhnya. Wajahnya yang semakin menua, tetap bersinar di sela-sela senyumnya yang tidak pernah berubah. Air mata hangat dari matanya menetes ketika memeluk keras-kera leherku. Ah,…Ibu! Betapa aku tidak lagi hanya sekedar berbahagia, tetapi rasanya aku adalah anak paling berbahagia saat ini. Ketika seorang laki-laki yang sedari tadi memandangiku dari jauh. Dari pintu kamarnya dia menatapiku dengan mata berkaca-kaca. Ah,… Ayah!  Setengah menjerit aku memangil namanya dan berlari menjagkau tubuhnya yang mulaimenua. Dalam tangis bahagia, aku memeluk erat-erat lehernya. Betapa aku adalah orang yang sangat berbahagia dan bersukacita hari ini.

Dari Seorang Anak

Joshua MS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar