Kamis, 20 Juni 2013

MENYIASAT SAUDARA PALSU



MENYIASAT SAUDARA PALSU
(Mazmur 52; 1 Samuel 21-22)



Dalam pelarian yang melelahkan dari kejaran Raja Saul, Daud suatu saat akhirnya tiba di Kota NOB. Sebuah kota imam. Ahimelek menjadi Imam Kepala di kota itu. Dalam kepatuhan kepada tugas pelayanan, Ahimelek menjamu Daud dan pengikutnya dengan Roti Sajian. Sesunguhnya Ahimelek kurang mengerti pergolakan politik yang sedang melanda pusat kekuasaan. Dia tidak mengerti bahwa Daud telah menjadi orang yang paling di cari oleh  Raja Saul untuk segera dieksekusi.

Di antara rombongan para imam yang melayani bersama Ahimelekh, ada seorang Edom bernama Doeg. Dia adalah pegawai dan sekaligus mata-mata Saul yang ditempatkan di antara rombongan para imam. Tepatnya dia adalah spionase yang sewaktu-waktu dapat melaporkan setiap perkembangan untuk melindungi tahta Raja Saul. Begitulah kisahnya, ketika Daud dan para pengikutnya tiba di hadapan Imam Ahimelekh, Doeg memperhatikannya dengan saksama dan menantikan waktu yang tepat untuk melaporkannya kepada Raja Saul. Selanjutnya, dapat kita membaca bahwa semua keluarga Ahimelekh, kecuali anak bungsunya, di bunuh karena dituduh bersekongkol melawan raja.  Yang paling mengharukan adalah, seluruh kota pun akhirnya dihancurkan oleh amarah seorang Raja Saul yang telah menjadi lalim.

Tidaklah heran bahwa pengkianat yang suka menjilat sudah ada sejak permulaan zaman. Di tengah dunia yang tidak setia ini, kita selalu akan bertemu dengan orang-orang yang seolah-olah adalah saudara padahal musuh dalam selimut. Bahkan Tuhan Yesus pun tidak terluput dari pengkhianatan seorang Yudas Iskariot. Kita juga telah bertemu dengan orang-orang yang kita berharap setia dan menjadi teman sekerja kita membangun Rumah Allah, namun mereka akan menjadi begitu cepat berlalu dan meninggalkan kita pada zaman akhir ini.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini? Paling tidak ada 3 ciri-ciri khas dari kelompok Doeg, yaitu kelompok saudara palsu!

  1. Raja Daud menulis dalam salah satu mazmur: “Mengapa engkau memegahkan diri dengan kejahatan, hai pahlawan, terhadap orang yang dikasihi Allah sepanjang hari? (Mazmur 52:3). Kita akan segera dapat mengenali ciri-ciri saudara palsu dari ayat ini. Mereka adalah orang yang tidak suka mendengar tetapi senang mengumbar kata-kata dan pemikirannya sendiri. Mereka adalah kelompok orang yang merasa lebih benar, lebih baik, lebih bijak. Mereka adalah orang-orang sombong yang tidak segan-segan mencela dan menentang bahkan para pemimpin yang di urapi Allah.

Perhatikanlah, Doeg awalnya tinggal di rumah Ahimelek. Makan dari perbendaharaan Ahimelek. Namun dengan segera dia dapat menjadi pengkhianat bagi keluarga Ahimelek. Tidak sampai di situ saja, Doeg bahkan mengangkat parangnya dan membunuh Ahimilekh dan anak-anaknya. Perhatikanlah, bahwa seorang saudara yang palsu sesungguhnya tidak pernah tulus dalam pelayanan. Mereka adalah kelompok opurtunis yang menunggu waktu dan peluang untuk berbuat kejahatan untuk memenuhi rencananya .

  1. Selanjutnya, Daud kembali menulis: “Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu seperti pisau cukur yang diasah, hai engkau, penipu! (Mazmur 52:4). Ciri saudara palsu yang selanjutnya ini paling sulit untuk kita amati. Karena mereka adalah aktor-aktor yang pintar bersandiwara. Mereka dapat saja menjadi begitu manis dan setia dalam tampilan sehari-hari. Pada mereka bahkan hampir tidak kita temukan kesalahan yang mencolok. Namun bagaimana pun juga saudara palsu memang tidak pernah tulus. Saudara yang satu ini memang benar pribadi yang munafik yang penuh dengan sandiwara. Mereka adalah kelompok oprang yang merancang kejahatan di dalam hati sehingga mereka menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

Nabi Yeremia menulis: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? (Yeremia 17:9). Saudara palsu itu pintar bersilat kata, namun dalam hatinya penuh dengan rancangan penghancuran. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang licik yang hati nuraninya telah membatu. Satu-satunya yang mereka nantikan adalah kapan saatnya untuk menghancurkan. Dapatkah anda bayangkan, bagaimana Doeg tersenyum puas ketika seluruh kota Nob di bakar hangus dan penduduknya habis di bantai?

  1. Yang ketiga, Daud menjelaskan: “Engkau mencintai yang jahat lebih dari pada yang baik, dan dusta lebih dari pada perkataan yang benar.” (Mazmur 52:5). Ciri yang paling dapat kita ketahui dari Saudara tipe Doeg adalah  karakternya yang minus. Dia benar-benar minus dalam hal yang baik. Kecenderungan hatinya semata-mata hanyalah menuju kejahatan. Pernahkah anda menemui orang yang kecenderungannya selalu negatif.  Orang seperti ini selalu menjadi pembawa masalah dalam setiap situasi.

Sesungguhnya kalau ada saudara palsu, pasti ada saudara yang sejati. Memang  zaman ini sudah tidak lagi menyukai yang asli. Orang-orang lebih suka bertopeng untuk menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya. Orang-orang akhir zaman ini suka berpura-pura dan bersandiwara. Dan anehnya, manusia pun sekarang ini lebih menyukai orang-orang tipe munafik. Tidak terluputkan dari orang-orang yang pergi ke gereja. Kita bertemu dengan saudara-sudara yang pandai bersandiwara dan bermuka dua. Namun entah bagaimana hati nuraninya, mereka dengan begitu gampang berlalu. Sama seperti asap mereka ada dan dalam tempo yang singkat sudah hilang tak bersisa.


Daud mengatakan bahwa saudara-saudara palsu ini akan dirobohkan bahkan di cabut dari akarnya. Sama seperti Doeg yang akhirnya binasa oleh karena kejahatan lidahnya dan kelicikan hatinya, demikianlah kelompok yang sombong, tidak tulus, dan cinta kejahatan akan binasa. Oleh sebab itu jagalah hatimu saudaraku, janganlah engkau menjdi sama seperti Doeg. Jangan pernah menjadi seorang yang palsu. Jadilah saudara yang sejati sampai maranatha. Halleluyah. Amen

Intisari Khotbah Ps Joshua MS dalam Ibadah Raya Hati Nurani Ministries, Minggu, 16 Juli 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar