Senin, 17 Juni 2013

RAHASIA HIDUP BERKELIMPAHAN



RAHASIA HIDUP BERKELIMPAHAN
2 KORINTUS 8:1-5



Keadaan ekonomi orang percaya pada zaman gereja mula-mula sangat memprihatinkan terutama jemaat yang ada di Yerusalem. Anggota jemaat memang mengalami aniaya dan disisihkan dalam kegiatan ekonomi sehingga mereka sangat menderita. Keadaan ini menggerakkan hati Paulus untuk mendorong jemaat-jemaat yang ada di luar Yerusalem untuk mengulurkan tangan dengan memberikan bantuan.

Dari pelajaran yang kita dapatkan hari ini, kita akan mengerti prinsip-prinsip Alkitab tentang Hidup Berkelimpahan. “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (1-2) Jemaat Makedonia bukan jemaat yang kaya tetapi sebaliknya, mereka miskin. Selain miskin mereka juga mengalami aniaya yang berat sehubungan dengan iman mereka. Namun mereka mempunyai satu kekayaan yaitu kemurahan. Kemurahan artinya kerelaan untuk berbagi.  Jadi kita sekarang mengerti bahwa menderita karena iman dan miskin secara ekonimi tidak menjadi penghalang kita kaya dalam kemurahan. Kesukaran dan kemiskinan bukan menjadi alasan untuk kita berhenti membuka hati dan berbagai dengan saudara seiman.


Kita lihat ayat berikut: “Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.” (3-5) Prinsip memberi adalah dari apa yang kita miliki, namun jika memberi melampaui kemampuan itu adalah KASIH KARUNIA. Jemaat-jemaat yang berada di wilayah Makedonia adalah orang-orang mengalami aniaya terhubung dengan kesaksian iman mereka. Akibat penderitaan karena iman itu mereka juga mengalami tekanan ekonomi yang berat sehingga mereka menjadi begitu sangat miskin. Namun sungguh aneh, ketika keadaan menderita dan miskin itu justru mereka terdorong untuk berbagi dengan saudara seiman.

Berikut adalah prinsip-prinsip memberi yang benar yang merupakan rahasia bagaimana memperoleh hidup dalam kelimpahan.

1.      Jumlah yang anda tabur mempengaruhi apa yang anda terima.

Rasul Paulus mengatakan: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (1 Korintus 9:6). Bila kita menabur sedikit, hukum alam pun sudah membuktikan kita hanya akan menuai sedikit pula. Demikian juga dalam hal rohani, kita hanya akan menerima sedikit jika kita hanya menabur sedikit. Ukuran kelimpahan sangatlah dipengaruhi oleh besaran yang kita lepaskan. Saat hati kita menjadi demikian kikir, sehingga kita sulit untuk memberi, maka kikir jugalah aliran berkat yang kita terima. Tetapi sebaliknya, saat hati kita melimpah dengan syukur saat menabur, maka tuaian yang kita terima pun akan mengalir dengan deras. Ada satu ayat yang memberikan gambaran hal ini secara sederhana namun sangat tepat dalam Pengkhotbah  11:1 “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Apakah maksud ayat ini? Pakah orang yang membuang roti yang dimaksudkan? Tentu tidak karena ayat ini merupakan analogi dari upaya secara sadar dan sukarela memberi. Saat kita memberi, kita sedang menabung di alam roh, dan kerena itu adalah dalam dimensi roh, maka tanpa kita sadari, suatu hari kita dapat menjadi terpesona bagaimana cara Allah mengembalikannya kepada kita.


2.      Allah mengukur takaran berkat berdasarkan isi hati anda.

Rasul Paulus mengatakan bahwa ukuran persembahan kita tidak diukur melalui kwantitas semata tetapi lebih kepada ketulusan hati. Persembahan kita ditakar dari ketulusan hati kita dalam memberi: “ Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” ( 1 Korintus 9:7)

Mari kita perhatikan kisah Persembahan Seorang Janda dalam Injil Lukas: “Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (21:1-4)

Kita belajar bahwa jumlah yang ditabur janda itu sangat besar karena adalah SELURUH NAFKAHNYA. Artinya persembahan secara kwantitas yang melampaui kemampuan karena merupakan seluruh hartanya dan didorong oleh ketulusan hati. Jadi sangat jelas dia memberi seluruhnya dan inilah yang disebut kaya dalam kemurahan dan adalah KASIH KARUNIA karena memberi melebihi kemampuannya.

Sekarang kita mengerti bahwa memberi dari kemampuan kita akan mengalirkan berkat dalam perbendaharaan kita. Namun jika kita terdorong oleh hati untuk memberi seluruh kemampuan kita itu adalah kasih karunia dan jika kita sudah sampai pada tingkatan ini, kita sedang berasa dalam kasih karuniaNya. Jadi kenapa anda harus menunggu sampai esok bila hari ini anda dapat mengulurkan berkat dan membantu sesama?

Dalam pelayananNya
Ps Joshua Mangiring Sinaga, S.Th., M.Th
Gembala Jemaat Bethany Pulomas
Pendiri/Pembina Yayasan Hati Nurani
Email               : pastor.joshuams@hotmail.com;
Portal               : http://joshuams.blogspot.com
Twitter                        : https://twitter.com/PastorJoshuaMS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar