Minggu, 09 Juni 2013

PANGGILAN PELAYANAN KASIH



PANGGILAN PELAYANAN KASIH
(2 Korintus 8:1-7)

Zaman ini memang sudah egosentris. Orang-orang sudah berorientasi pada diri sendiri. Ciri-cirinya adalah orang-orang menjadi profitable oriented (berorientasi pada untung), dimana orang-orang hanya akan mau bekerja apabila diperhitungkan mendatangkan keuntungan. Dunia dan manusia yang menguasainya memang telah menjadi demikian miskin sosial, padahal sejatinya manusia ini diciptakan untuk menjadi tergantung satu sama lainnya.


Pelayanan Kasih adalah satu pelayanan mulia yang diajarkan oleh Alkitab. Orang-orang dipanggil untuk perduli akan sesamanya dengan cara menjadi saluran berkat atas mereka. Gereja adalah lembaga yang didalamnya didominasi pelayanan kasih walau pada prakteknya, gereja semakin lama semakin menghindari panggilan ini. Sejatinya, gereja harus menjadi pelopor utama pelayanan kasih kepada sesamanya.

Ada satu kisah yang luar biasa dari sebuah jemaat di Makedonia terkait dengan panggilan pelayanan kasih. Jemaat Makedonia adalah suatu jemaat yang menjadi contoh bagaimana menjalankan fungsi pelayanan kasih di zaman ini. Kita terlalu sering mendengar kata-kata yang menjadi alasan untuk orang enggan berpartisipasi dalam pelayanan kasih. Orang-orang berkata bahwa ekonomi sedang lesu, bisnis sedang mangkrak, inflasi sedang menggila, harga BBM sedang naik, dan masih banyak alasan lainnya. Namun kalau memandang kepada Jemaat Makedonia yang sangat miskin, maka seharusnya gereja kini harusnya malu. Gejera Makdonia yang miskin dan melarat, namun menjadi pelopor pelayanan kasih kepada sesamanya yang menderita ditempat lain.

Dalam ayat 1, Paulus membuka kesaksiannya: “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.” Paulus menjelaskan suatu hal yang luar biasa terjadi di antara Jemaat Makedonia. Paulus sampai meyamakannya sebagai kasih karunia yang bermakna suatu hal yang tidak dapat dilakukan namun telah terjadi. Apa gerangan sehingga Paulus mengatakannya sebagai sebuah kasih karunia? Makedonia adalah sebuah daratan yang luas di mana beberapa kota penting ada di sana. Diantaranya adalah Kota Filipi dan Tesalonika. Sebagai sebuah wilayah besar, kekristenan berkembang disana mulai dari kalangan bawah. Mereka adalah orang-orang miskin yang hidup sebagai upahan dan bahkan budak belian. Mereka tidak memiliki apapun selain hidup dan tubuh mereka sendiri.

Rasul Paulus menjelaskannya dalam ayat 2, Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” Selain hidup miskin, keberadaan mereka sebagai orang percaya juga mengalami aniaya dari antara orang-orang kafir. Namun sungguh luar biasa, semangat mereka untuk turut serta dalam pelayanan kasih menggelora seperti ombak besar yang tiada terhentikan. Inilah yang menjadikan Paulus sampai menyamakannya dengan kasih karunia, karena memang orang-orang percaya di Makedinoa ini tidak mampu untuk memberi, karena mereka tidak punya, namun dimampukan oleh Tuhan untuk memberi bagi kebutuhan sesama orang percaya di wilayan lain yang berbeda jauh. Mungkin saja mereka tidak mengenal Jemaat Di Yerusalem yang mereka dengar beritanya mengalami aniaya dan kelaparan. Namun demikian, mereka juga yang hidup penuh aniaya dan sengsara, mengulurkan tangannya. Tahukah Anda bahwa membantu orang lain saat kita sama sekali tidak mampu, adalah suatu mukjizat? Jemaat Makedonia  tidak dibatasi kelemahan dan hal-hal lahiriah, untuk melayani Tuhan melalau urulan tangan bagi saudara-saudaranya seiman yang menderita.

Kembali rasul ini menjelaskan dalam ayat 3, bahwa orang-orang percaya di Makedonia telah melakukan sesuatu yang melampaui kemampuan mereka. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” Banyak orang kaya di zaman ini, namun mereka begitu miskin mukzijat. Mereka menumpuk harta sampai sedemikian banyak, namun mereka tetap miskin kasih karunia. Mereka diperbudak hartanya dan menjadi buta akan kesengsaraan sesamanya. Bahkan mereka yang berani menyebut dirinya orang Kristen, menggenggam tangannya dengan kuat-kuat agar tidak sepeser pun uangnya dideerma bagi kemanusiaan. Sesungguhnya, mereka-mereka yang berpikir kaya karena menumpuk harta sedemikikan banyak, adalah orang-orang paling miskin dan menyedihkan di mata Tuhan. Sebaliknya, walau miskin harta, namun tetap menyalurkan apa yang dimilikinya, mereka orang-orang mulia yang dijuluki pelayan kasih karunia. Memberi dari ketidakmampuan adalah tindakan yang hanya dapat dilakukan seseorang oleh karena kasih karunia

Persoalannya sebenarnya bukan pada uang atau harta. Karena uang itu amoral (tidak bermoral) jadi sifatnya netral, tetapi sikap hati terhadap uang itu yang menjadikan uang menjadi immoral (bermoral jahat). Saat orang-orang diperbudak oleh cinta akan uang, maka itu menjadi akar segala kejahatan. Orang-orang menjadikan uang sebagai sarana untuk berbuat kejahatan. Menindas orang lain, dan bahkan merampas hak hidup sesamnay. Paulus menjelaskan suatu hal yang berbeda pada Jemaat Makedonia. Jemaat ini justru meminta untuk disertakann dalam pelayan kasih karunia, yaitu ikut serta membantu sesama yang kelaparan, walau mereka juga mengalami kelaparan: “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (Ayat 4). Inilah keagungan hati orang-orang percaya yang telah menerima jamahan Allah. Saat orang-orang kaya makan kenyang dan menambah terus lapisan lemak didalam tubuhnya, orang-orang percaya yang miskin dan sengsasra di Makedonia justru membiarkan dirinya tetap lapar agar sesamanya yang kelaparan di tempat lain memperoleh makanan. Salah satunya yang menjadi ciri jemaat kasih karunia adalah peranan aktip dalam pelayanan kasih kepada para pelayan-pelayan Tuhan yang kudus.

Pengabdian yang luar biasa dari Jemaat Makedonia adalah ketika mereka tidak hanya memberi uang mereka yang serba terbatas, namun lebih dari itu, mereka memberi diri mereka. Jadi, tidak ada lagi yang tersisa pada mereka. Semua mereka persembahkan: “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.” Kekristenan adalah penyerahan total. Dalam Roma 12:1, Rasul Paulus menuliskan pesan agar orang-oran gpercaya mempersembahkan tubuhnya kepada Kristus. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”  Jadi, pelayanan kasih itu adalah bentuk Penundukan secara total kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya! Jemaat mendengarkan para hamba-hamba Allah dan memberikan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan melalui para hamba-hambanya.

Di zaman ini, begitu sulitnya orang-orang tunduk kepada para pemimpin. Egosentris mendorong orang tidak submit, tetapi memberontak. Para istri memberontak pada suami dengan alasan kesamaan hak atau emansipasi (feminisme), dan para suami juga membalasnya dengan perselingkuhan karena alasan istri yang menyebalkan. Jemaat di zaman modern ini begitu skeptis terhadap para pendeta dengan alasan melihat berbagai kejadian kejahatan yang melibatkan para pendeta. Para pendeta pun menjadi gerah dan menjadi hamba uang. Sungguh, zaman ini menjadi demikian kacau.

Seorang pelayan yang luar biasa bernama Titus di utus ke Makedonia untuk menuntaskan pelayanan kasih: Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.” (Ayat 6) memang dialah yang merintisnya dan Paulus berkenan agar dia jugalah yang menyelesaikannya. Jadi, pelayanan kasih itu adalah suatu hal yang harus dituntaskan. Saat orang-orang di jamah oleh Roh Kudus, maka mereka-mereka tidak akan merasa tenag sebelum mendengar orang-orang percaya di tempat lain mendapatkan kelegaan. Mereka akan terus menyelesaikannya walau itu ada diluar kemampuan mereka. Inilah yang disebut dengan kekayaan orang-orang percaya. Mereka tidak diukur Allah dari berapa jumlah deposito mereka di bank, tetapi dinilai dari seberapa perduli mereka kepada saudara-saudaranya seiman yang sedang sengsara. Anda boleh saya memperoleh seluruh isi bumi ini dan disebut sebagai orang paling kaya, namun bila hati Anda tidak terlibat dalam pelayanan Kasih, anda tetapi miskin di mata Tuhan: Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” (Ayat 7)

Maka dari itu, marilah kita, jemaat Tuhan yang ada dimanapun, memperkaya pelayanan kita dengan mengambil bagian secara nyata dalam pelayan kasih bagi orang-orang kudus. Mulailah mengulurkan tangan untuk membantu sesama yang kekurangan. Masih sangat banyak anak-anak terlantar, janda-janda saleh yang hidup dikolong jembatan, para mahasiswa teologi yang hidup kekurangan di asarama-asrama mereka yang kumuh, atau hamba-hamba Tuhan dipedalaman yang hiudup serba berkekurangan. Inilah saatnya kita memperkaya diri kita melalui pelayanan kasih.

Bagi saudara yang rindu melayani dalam pelayanan kasih, bergabunglah dengan saya di dalam Yayasan Hati Nurani. Mari kita membantu para mahasiswa beasiswa di STT Victory Cijantung yang telah mempersembahkan hidup mereka bagi Kristus. Mereka yang akan segera diutus keseluruh penjuru negeri untuk memenangkan jiwa, dan itu hanya akan terjadi jika mereka menyelesaikan pendidikan mereka. Tuhan memberkati.

Ps Joshua Mangiring Sinaga, S.Th., M.Th
Founder of Conscience Foundation, Pastor of Bethany Pulomas Church
Email                           : pastor.joshuams@hotmail.com
Portal                          : joshuams.blogspot.com
Facebook                   : www.facebook.com/psjoshua.mangiringsinaga
Follow on Twitter       : https://twitter.com/PastorJoshuaMS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar