Selasa, 02 April 2013

Apakah Perayaan Paskah (Easter) tidak Alkitabiah?


Perayaan Easter, Penyembahan Berhala?

Banyak orang Kristen sadar bahwa kata “Paskah (Easter)” tidak muncul dalam naskah bahasa asli Ibrani maupun Yunani. Pada kenyataannya, satu-satunya tempat yang dapat ditemukan adalah di dalam Alkitab bahasa Inggris, King James Version, yang tertulis:

Kisah Para Rasul 12:4 “Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah (Easter) ia menghadapkannya ke depan orang banyak.”

Bagian ini menggambarkan rencana Herodes untuk menghukum mati Petrus “sehabis Paskah (Easter).” Kata Yunani untuk “Paskah (Easter)” adalah pascha, yang menunjuk kepada perayaan Yahudi Paskah yang dirayakan dari hari ke 14 hingga ke 21 bulan Nisan (Kel. 12:18). Dalam terjemahan KJV, tampaknya bahwa “Kisah Para Rasul sudah jatuh ke tangan seorang penerjemah yang memberlakukan prinsip pemilihan, bukan sesuatu yang paling benar, tetapi padanan kata yang paling lazim.” Dalam hal ini, fakta bahwa Paskah (Easter) sudah dikenal baik oleh pembaca abad 17 menjelaskan bagaimana kata itu masuk ke dalam terjemahan KJV, tetapi itu tidak menolong kita untuk mengerti bahwa Paskah (Passover) dan Paskah (Easter) adalah dua hal berbeda, dan apa yang dimaksudkan oleh Kisah Para Rasul adalah Paskah (Passover) dan bukan “Paskah” (Easter). Versi Alkitab modern semuanya menerjemahkan pascha dengan “Paskah” (Passover).

Apa yang kita kenal pada hari ini sebagai perayaan Paskah (Easter) berkembang setelah masa Perjanjian Baru. Perjanjian Baru tidak menyinggung sebuah perayaan Kristen di mana kematian dan kebangkitan Kristus dirayakan, tetapi apa yang sungguh kita lihat adalah beberapa orang Kristen mula-mula terus merayakan perayaan Paskah (Passover). Dalam perjalanan Paulus ke Yerusalem di mana dia ditangkap dan dipenjarakan, sekitar akhir tahun 50 M, atau 30 tahun setelah kelahiran Jemaat Kristen, banyak orang-orang Kristen di Yerusalem bangga terhadap fakta bahwa mereka mempertahankan Hukum Taurat.

Kisah Para Rasul 21:20 Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat.

Bagi orang-orang Kristen yang “rajin”, mereka taat memelihara Hukum Taurat melalui memperingati perayaan Paskah (Passover), yang menjadi perayaan peringatan. Bukan lagi berhubungan dengan waktu penantian untuk penebusan dengan Tuhan di masa depan, tetapi berkaitan dengan peringatan bahwa Dia sudah menyediakan pembayaran bagi dosa-dosa umat-Nya melalui Kristus. Ini adalah topik yang sangat sensitif bagi orang Kristen mula-mula, karena tidak semua orang Yahudi yang bertobat dan menjadi Kristen merasa nyaman dengan ide bahwa Kristus sudah menggenapi hukum Taurat dan mereka tidak perlu lagi berkewajiban untuk memelihara hukum Taurat. Kemudian Surat-surat Jemaat yang diberikan oleh Tuhan kepada Paulus memperjelas bahwa tidak perlu lagi berpartisipasi dalam perayaan Yahudi (Kol. 2:16-17). Paulus telah menimbulkan kekacauan dengan mengajarkan hal-hal seperti “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya” (Gal. 6:15). Tuntutan yang diajarkan Paulus kepada petobat-petobat adalah ” melepaskan hukum Musa” telah membuat seluruh kota Yerusalem berada dalam kegemparan dan mengakibatkan penahanannya (Kis. 21:21).

Sementara itu banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen mempertahankan kebiasaan memperingati perayaan Paskah (Passover), hal itu mungkin membuat petobat orang bukan Yahudi tertarik untuk memperingati perayaan yang sama sekali tidak diwajibkan oleh Tuhan. Ketika Kekristenan mulai menyebar ke seluruh dunia, orang-orang Kristen bukan Yahudi mulai merayakan kematian dan kebangkitan Kristus hampir sama dengan cara orang Yahudi. Namun sayang, seperti yang sering terjadi dengan perdebatan Yahudi-bukan Yahudi, banyak desakan yang menggiring Kekristenan bertentangan secara radikal dengan mereka yang ingin mempertahankan akar Kekristenan secara Yahudi. Pada akhirnya, perayaan kematian dan kebangkitan Kristus disisipi oleh unsur-unsur yang kurang berkaitan dengan perayaan Yahudi atau peristiwa sebenarnya dari kematian Kristus.

Kontroversi Tanggal

Selama berabad-abad, tanggal perayaan kebangkitan Kristus sangat diperdebatkan. Orang-orang Kristen Yahudi mula-mula, khususnya yang tinggal di Israel, Siria, dan Timur Tengah, secara alami ingin merayakannya pada tanggal 14 bulan Nisan, tanggal Paskah (Passover). ”Jemaat-jemaat di Asia Kecil (mengikuti tradisi Yohanes bahwa kematian Yesus terjadi pada saat pembunuhan domba Paskah [Passover]) yang dirayakan orang Kristen Pascha pada tanggal 14/15 bulan Nisan, tanpa mempedulikan tanggal itu jatuh pada hari apa.” Praktik ini menyajikan suatu situasi yang menarik bagi Jemaat. Orang-orang Kristen itu yang mempertahankan tanggal Yahudi melihat kepada orang-orang Yahudi untuk menentukannya. ”Dalam Yudaisme, kalender yang berlaku adalah berdasarkan bulan. Setiap bulan, termasuk Nisan, mencakup fase bulan, dan Paskah (Passover) jatuh pada tanggal 14 bulan itu, yaitu pada saat bulan purnama.

Penetapan tanggal ini adalah sebuah proses rahasia yang dijaga di dalam Bait Yahudi dan kemudian dalam sinagoge, dan Kristus memperingati perayaan berdasarkan kalkulasi ini.” Agar merayakan kematian dan kebangkitan Kristus pada tanggal Paskah (Passover) yang tepat selama setahun, Jemaat harus bergantung pada orang Yahudi, sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Bukan saja Jemaat harus memperoleh tanggal itu dari orang Yahudi, tetapi fakta bahwa tanggal 14 bulan Nisan dapat menjadi satu hari dalam seminggu yang tidak menarik bagi mereka juga.

“Paskah Ibrani (Passover) jatuh pada suatu hari dalam seminggu, dan ini tidak cocok dengan orang Kristen. Mereka menghendaki suatu Minggu Kudus yang dimulai dengan Minggu Palem, yang diteruskan dengan Jumat Agung dan diakhiri oleh Minggu Paskah (Easter), memperingati kebangkitan.” Orang-orang Kristen itu yang berselisih untuk merayakan Paskah (Easter) pada tanggal 14 bulan Nisan dikenal sebagai ”Quarto-decimanians,” sebagian besar tinggal di bagian Timur Kerajaan Romawi. ”Orang-orang Kristen di barat merayakan Paskah (Easter) pada hari Minggu, di bagian Timur yang banyak dianut oleh Quartodecimanian dan lebih memilih tanggal 14 setiap bulan. Ini adalah awal perpecahan yang membagi Gereja Orthodoks Timur dengan Katolik Roma.” Jadi tanggal untuk merayakan kebangkitan termasuk di antara kontroversi secara Kristologi yang luar biasa di Dewan Nicaea pada tahun 325. Ketika Yesus Menjadi Tuhan, oleh Richard Rubenstein, menggambarkan suasana dewan Nicaea ini.

“Satu pertanyaan pokok adalah ini: Sejauh manakah nilai dan kebiasaan dunia kuno yang masih berlaku yang memimpin pemikiran dan tindakan dalam kerajaan Kristen? Beberapa orang Kristen, di antara mereka adalah Arius dan Eusebius dari Nicodemia, memiliki kesadaran yang lebih kuat tentang kelanjutan sejarah dibandingkan yang lain …. Sebaliknya, anti-Arius mengalami kehadiran mereka seperti keretakan yang nyata dengan masa lalu. Sesungguhnya mereka menuntut agar Kekristenan ‘diperbarui’ melalui mengaburkan atau bahkan menghapuskan perbedaan yang sudah lama diterima antara Bapa dan Anak.”

Dengan semangat yang sama untuk memisahkan diri dari masa lalu, dewan dengan suara bulat memutuskan bahwa perayaan Kebangkitan tidak akan berdasarkan tanggal Yahudi, tetapi akan jatuh pada hari Minggu mengikuti bulan purnama setelah musim semi. Menarik sekali, perayaan hari Minggu sama sekali masih memberikan kesempatan bagi Jemaat untuk merayakan hari yang sama seperti orang Yahudi. Sekali lagi, bagian Timur dan Barat menangani situasi itu secara berbeda. Bagian Barat menetapkan suatu peraturan bahwa jika tanggal itu bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover), Jemaat akan menunggu minggu depan untuk merayakannya. Sebaliknya, bagian Timur terus merayakan meskipun tanggal itu bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover).

Hingga hari ini masih terdapat ketidaksepakatan mengenai tanggal perayaan Paskah (Easter). Protestan dan Katolik Roma menetapkan tanggal Paskah (Easter) secara bersamaan, tetapi sehubungan dengan metode kalkulasi yang berbeda, Gereja Orthodoks Timur merayakannya berbeda tanggal hingga lima minggu dari jemaat-jemaat Barat. Hasrat untuk mencapai kesatuan Kristen, dalam beberapa tahun terakhir ini, sudah mengajukan ide tentang sebuah tanggal universal yang tetap bagi semua gereja Kristen.

Unsur Penyembahan Berhala

Bukan rahasia lagi bahwa banyak dari perayaan Paskah (Easter) modern sudah berkembang dari sumber penyembahan berhala. Kata “Paskah” (Easter) sendiri pada dasarnya diadopsi oleh Jemaat dari penyembahan berhala.

Kata Inggris Paskah (Easter) dan bahasa Jerman Ostern berasal dari asal mula yang umum ( Eostur, Eastur, Ostara, Ostar), di mana bagi penduduk Normandia berarti musim dari terbitnya (berkembangnya) matahari, musim kelahiran baru. Kata itu dipakai oleh nenek moyang kita untuk menunjukkan Perayaan Kehidupan Baru pada musim semi. Akar yang sama ditemukan dalam nama tempat di mana matahari terbit (Timur, Ost). Maka kata Paskah (Easter), pada awalnya berarti perayaan matahari bersemi, yang terbit di bagian Timur dan membawa kehidupan baru di atas bumi. Simbolisme ini dialihkan kepada arti supernatural dari Paskah (Easter) kita ...”

Pandangan umum lainnya yang diajarkan oleh Bede, sejarawan Inggris pada awal abad 8, adalah bahwa kata itu berasal dari “Eastre,” seorang dewi Musim Semi bangsa Jerman yang menerima persembahan di bulan April. Sementara kedua penjelasan itu masuk akal, jelas bahwa kata “Easter” bukan alkitabiah.

Encyclopedic Dictionary of Religion menyatakan bahwa kebiasaan telur Paskah (Easter) mungkin didasarkan pada pengikut aliran kesuburan di masa kuno (Indo-Eropa), gabungan Persia tentang telur dan musim semi, atau fakta bahwa beberapa orang Kristen mula-mula berpantang terhadap telur selama masa empat puluh hari sebelum Paskah (Easter). Tidak sulit dilihat bagaimana orang-orang Kristen dapat mengadopsi telur sebagai simbol kubur Kristus, atau bahkan hidup mereka yang baru di dalam Dia. Lebih jauh lagi, kelinci adalah sebelum-Kristen dan menunjukkan kesuburan berhubungan dengan pertumbuhan yang pesat dalam reproduksi. Kelinci sama sekali tidak diadopsi sebagai bagian dari perayaan Paskah (Easter) “Kristen,” tetapi itu sudah menjadi simbol dalam banyak kebudayaan. Misalnya Natal, perayaan Paskah (Easter) telah sangat menyimpang dari peringatan asal tentang kematian Tuhan kita pada tanggal 14 bulan Nisan.

Keseimbangan

Sebagai orang Kristen modern, kita harus memutuskan bagaimana menarik sebuah dunia yang sudah kehilangan minat terhadap keaslian sejati dari iman kita. Apakah kita harus menghakimi hari-hari libur modern sebagai penyembahan berhala yang tidak disukai? Atau apakah kita dengan segenap hati harus menerima kebudayaan kita melalui suatu sikap kerelaan? Sebagaimana dengan begitu banyak hal dalam dunia modern kita, kita harus menemukan keseimbangan yang membuat kita melatih kerohanian sejati namun masih tercakup dalam budaya asal kita.

Bayangkan Anda mengatakan kepada orang-orang yang Anda kasihi pada waktu Natal, “Maafkan saya, saya tidak memberikan hadiah karena saya seorang Kristen.” Atau pada hari Paskah (Easter), ”Saya tidak merayakan kebangkitan Tuhan pada hari Paskah (Easter) karena saya bukan penyembah berhala.” Jelas, ada beberapa tingkat pernyataan yang mengada-ada yang dapat dijangkau melalui berusaha menghindari semua unsur non-Kristen dari kebudayaan kita. Misalnya, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Restored Church of God berjudul ”Asal usul Paskah (Easter) yang Sesungguhnya,” penulis menyatakan unsur penyembahan berhala dari perayaan Paskah (Easter) modern, tetapi kita percaya dia menjelaskan terlalu jauh di dalam semangatnya yang berapi-api untuk menghindari unsur-unsur penyembahan berhala itu. Berkenaan dengan kebaktian subuh, dia berkata, ”Merayakan kebaktian subuh adalah hal yang serius bagi Tuhan! Dia sangat membenci praktik yang buruk ini di mana pada akhirnya Dia akan menghancurkan semua yang mempertahankannya (Yeh. 9)!” Apakah ini Tuhan yang sama yang mengilhami ayat berikut ini?

1 Korintus 8:7 dan 8 “Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."

Tuhan sudah menunjukkan bahwa bukan peragaan dari luar yang dikehendaki-Nya, tetapi pengabdian dari dalam hati. Kita tahu bahwa Tuhan tidak membangkitkan Yesus dari kematian pada hari Minggu pagi (kejadian sesungguhnya hari Sabtu antara jam 3 sore dan matahari terbenam), tetapi apakah Tuhan tidak menghormati hati orang-orang yang mengalami kesulitan bangun pagi di hari Minggu Paskah (Easter), berpakaian, dan pergi ke tempat kebaktian untuk berdoa, menyanyi dan meneguhkan kebangkitan Tuhan? Kita percaya Dia menghormatinya.

Alkitab memakai kata yang menarik yang menunjuk kepada kemampuan kita untuk menghubungkan keadaan yang tidak disinggung secara spesifik – kebebasan (1 Kor.8:9). Ingatlah, bersama dengan kebebasan datanglah tanggung jawab. Bukanlah dosa jika mempunyai pohon Natal, atau menyembunyikan beberapa telur di halaman belakang rumah agar anak-anak mencarinya. Mohon dimengerti, kami tidak berkata bahwa mengetahui kebenaran adalah tidak berharga, namun kami merasa Anda dapat mengenal kebenaran dan tetap merayakan banyak kebiasaan modern. Misalnya, seorang Kristen dapat mengetahui bahwa Kristus tidak dilahirkan dalam bulan Desember dan bahwa orang-orang Kristen mula-mula tidak mempunyai pohon Natal, dan tetap memiliki pohon Natal. Dia dapat mengetahui bahwa Kristus disalibkan pada hari Paskah Yahudi (Passover) tetapi tetap menunjukkan pengabdiannya kepada Tuhan dalam Kebaktian Subuh. Apa yang harus kita perbuat sebagai orang Kristen adalah mengajar diri kita sendiri dan orang lain tentang kebebasan sejati yang sudah diberikan Kristus kepada kita. Banyak orang Kristen sangat diberkati untuk mengambil kesempatan di mana Paskah (Easter) memberikan hormat kepada Tuhan dan kebangkitan-Nya, dan kita beranggapan bahwa hal itu tidak masalah bagi Tuhan (dan Tuan Yesus).

Sementara kita mempertimbangkan bagaimana bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam musim ini, mungkin sangat menolong untuk mengingat kata-kata dari Paulus dalam Roma.

Roma 14:5 dan 6 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.

Tuhan sudah memberikan kebebasan dari segala keterikatan kepada kita. Jangan biarkan arti sesungguhnya dari Paskah (Easter) ini hilang dalam timbunan telur dan kelinci dalam dunia sekular (dan coklat – di mana orang Kristen mula-mula tidak memilikinya), tetapi ingatlah bahwa lebih banyak arti yang sesungguhnya dari kematian dan kebangkitan Tuhan yang berbicara tentang kebebasan yang sekarang kita miliki untuk merayakannya dari hati kita, dan berdoa dan bernyanyi untuk memberkati dan menghormati Dia, meskipun kita melakukannya di hari yang bukan “Paskah (Passover).” Semoga kita memuji Tuhan setiap hari, selama-lamanya.

Sumber: http://www.truthortradition.com/bahasa/modules.php?name=News&file=article&sid=5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar