Jumat, 19 April 2013

KUASA VISI


KUASA VISI (Kejadian 12:1-9)
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th

Pernahkan anda berpikir bahwa pencapaian terbesar selalu lahir dari visi yang kuat. Artinya tanpa sebuah visi tidak akan pernah lahir sebuah pencapain yang besar. Visi adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh iman dan sifatnya jauh di depan dan hanya dapat  dijangkau jika seseorang teguh mengejarnya. Visi adalah sebuah kekuatan dan dibalik sebuah visi terkandung kuasa yang mahadahsyat. Tergantung kepada siapa dan siapa yang menerima dan mengaplikasi kuasa visi itu.


Untuk menjelaskan sebuah visi dapat melalui cerita nyata berikut ini. Sebuah perusahaan sepatu mengirim dua orang marketing ke Afrika. Ketika kedua marketing ini tiba, mereka sangat kaget kerena tak menemukan seorangpun penduduk di tempat tersebut yang mengenakan sepatu. Seorang kemudian segera mengirim berita ke kantor: “tak ada seorang pun yang mengenakan sepatu di sini, segera kirimkan tiket, saya mau pulang!” Sementara yang satunya lagi mengirim berita: “Segera kirimkan sepatu sebanyak banyaknya, karena di sini belum ada yang pnya sepatu.” Seorang telah mendapatkan visi, sementara yang lain tidak.

Visi mengandung kuasa yang dapat sangat efektif menahan berbagai penderitaan sebagai akibat dari pencapaian visi itu. Kita baca: “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (1) Abram menerima visi dari Allah. Sekarang kita mengerti bahwa visi yang benar ternyata hanya bersumber dari ALLAH. Dalam hal ini kita harus memisahkan antara visi dengan obsesi atau cita-cita. Obsesi atau cita-cita lahir dari interaksi sosial seseorang. Tetapi visi lahir dari pergaulan pribadi seseorang dengan Allah.

Dalam ayat tadi kita melihat bahwa Visi mengandung perintah yang sering/ kadang-kadang tidak masuk akal. Jadi pointnya adalah visi tidak tergantung pada nalar dan logika manusiawi. Abraham diperintahkan untuk keluar dari komunitasnya dan pergi kesuatu tempat yang akan ditunjuk oleh Allah. Tentu sangat berat untuk meninggalkan sebuah komunitas untuk suatu tempat yang masih sangat tidak jelas. Namun itulah visi. Seseorang harus mampu bergerak dengan segala bebannya menuju visi.

Mari kita baca dua ayat lagi: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."(2-3)

Poinnya adalah bahwa Visi selalu mengandung janji berkat dan perlindungan. Inilah yang menjadi salah satu pendorong terbesar sehingga seseorang yang telah menerima satu visi akan membayar apa saja untuk mencapai visi tersebut. Jadi ada satu hal yang sangat kuat  dan merupakan penghiburan yang segar sepanjang jalan menuju perwujudan visi yaitu janji berkat dan pertolongan atau perlindungan ilahi sepanjang penrjalanan menuju perwujudan visi tersebut.

Mari kita baca lagi ayat 4: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.” Di sini kita lihat bahwa Abram taat dalam membayar konsekwensi visi. Memang visi selalu menuntut ketaatan. Tidak ada jalan kompromi atau negosiasi. Jalan satu-satunya adalah taat melakukan atau mengerjakannya.

Dalam ayat 5: “Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.” Jelas sekali ada pengorbanan yang besar dari Abram. Dia harus meninggalkan negeri leluhurnya dan membawa semua keluarga dan harta miliknya. Jadi harganya adalah keluar dari komunitas. Ini sering kali juga bicara tentang meninggalkan adat dan tabiat lama. Kadang-kadang juga bisa bicara tentang keluar dari pekerjaan kita yang sekarang. Banyak orang yang harus membanting setir karean mengikuti visi dan dicela oleh banyak orang. Jadi Pengorbanan adalah sahabat dekat sebuah visi.

Kita baca lagi ayat 6: “Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.” Tentu ada pengalaman pribadi dan Pengalaman pribadi adalah tantangan menuju wujud visi. Banyak hal yang akan kita alami termasuk tantangan dari lingkungan sekitar. Orang-orang atau komunitas kita dapat saja bereaksi negatif danitu adalah tantangannya.

Dua ayat kita baca: “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.” (7-8) Inilah inti dari pembahasan kita hari ini. Kekuatan sebuah visi terletak pada keintiman spiritual seseorang. Tanpa intimacy, visi tetap akan kabur dan tak akan pernah terwujud. Tanpa keintiman, maka visi akan tetap jauh dan hanya seperti fatamorgana.

Yang terakhir kita pelajari dari ayat9: “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.” Bahwa untuk sampai pada puncak pencapaian sebuah visi, hanya akan dicapai melalui ketekunan. Tekun berarti juga tidak gampang menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar