Rabu, 17 April 2013

KUASA KATA-KATA


KUASA PERKATAAN
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th

Firman Tuhan: “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42: 7)

Mengapakah murka Allah tertuju kepada sahabt-sahabat Ayub? Bukankah mereka telah memberikan waktu yang begitu banyak untuk menemani dan menghibur Ayub? Masalah yang utama sehingga Allah murka kepada  Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama adalah karena mereka berkata tidak benar tentang Allah. Sampai disini kita harus paham poin pentingnya, tidak berkata benar tentang Allah! Adalah sebuah kesalahan besar yang menyulut murka Allah jika kita tidak berkata benar tentang Dia.


Alkitab mengatakan bahwa TUHAN yang memberikan karunia menjadi Pengajar (Guru). “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,” (Efesus 4:11) Sehingga janganlah kita berlomba-lomba menjadi pengajar, sebab pertanggungjawabannya sangatlah berat. “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Apakah dengan demikian kita tidak boleh lagi berkata-kata? Tentu tidak. Kita tetap harus mengajar tentang Allah, tetapi yang penting kita pahami adalah, kita hanya boleh mengajarkan KEBENARAN.

Mengapa demikian pentingnya berkata-kata tentang kebenaran saja? Jawaban yang pertama adalah karena ada kuasa di balik perkataan. Dalam Alkitab ada 5016 ayat tentang kata. Ini sungguh jumlah yang sangat besar bila dibandingkan dengan kata kasih yang hanya 853 ayat saja. Kita tentu sangat terkejut karena manusia memang senang berkata-kata. Hampir 25 ribu kata disemburkan begitu saja dari mulut seorang perempuan normal selama satu hari. Coba kita pikirkan, ada berapa kata yang benar dan berapa sisanya yang salah? Alkitab mengatakan bahwa setiap kata-kata salah yang sia-sia harus kita pertanggungjawabkan. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Matius 12:36) Akhirnya kita mengerti mengapa murka Allah begitu menyala terhadap sahabat-sahabat Ayub. Karena mereka berkata salah tentang Allah dan itu memberikan dampak yang merusak terhadap keberadaan Ayub, sehingga setiap kata-kata sia-sia mereka bertiga itu haruslah di pertanggungjawabkan di hadapanNya.

Manusia memang senang bicara, namun manusia ini lebih senang berkata-kata salah. Bahkan dalam dunia peradilan yang diciptakan oleh manusia pun kita menemukan ketidakadilan di mana manusia bersilat kata dengan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.  Terlepas betapa tidak adilnya dunia peradilan, kita menemukan satu kebenaran dalam dunia peradilan yaitu setiap kesaksian yang keluar dari mulut seseorang memiliki kekuatan hukum. Kita mengenal kepolisian negara demokrasi, USA, yang selalu mengatakan: “Anda berhak diam, karena perkataan anda akan digunakan untuk melawan anda di pengadilan!” ketika menangkap seseorang karena melanggar hukum. Mengapa? Karena setiap perkataannya dapat dijadikan senjata untuk menjerat dia dalam hukum. Alkitab mengatakan bahwa: “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:37)

Setiap kata-kata kita dapat menjadi jerat yang membawa kita kepada penghakiman. “Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. (Lukas 19:22 a) sehingga seharusnya kita mengawasi mulut kita. Kita harus mengawasi lidah kita. Orang dunia pernah mengatakan bahwa lidah tidak bertulang, sehingga gampang saja menyemburkan kata, namun orang Kristen harus mengenakan kekang pada lidahnya sehingga lidahnya hanyalah mengeluarkan kata-kata yang benar saja. Sebab jikalau tidak, maka lidah yang tidak terkendalai akan menyemburkan kata-kata yang akan membakar saiapa saja yang mendengarkannya. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5)

Tadi kita sudah menjelaskan bahwa pengajar atau guru yang memang harus berkata-kata merupakan karunia dari TUHAN, sehingga sepatutnyalah dia hanya mengajarkan apa yang benar dari TUHAN. Namun sungguhlah manusia ini memang lahir dari benih dosa. Lihatlah kisah Ayub, bahkan mereka yang rohaniwan telah berkata-kata serong tentang Allah kepada Ayub sehingga Ayub mengalami guncangan. Allah murka kepada 3 rekan Ayub dan hendak mengganjar mereka, namun oleh karena kemurahan hatinya, Ayub berdoa agar murka Tuhan surut dan ampunanNya berlaku untuk ketiga sahabatnya itu.

Jadi apa yang akan kita simpulkan dari kebenaranNya kali ini? Paling tidak ada tiga hal:

1.      Marilah kita menggunakan mulut dan lidah kita untuk mengakui dan memperkatakan kebenaran FirmanNya. Sama seperti Maria yang berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38). Marilah kita sungguh-sungguh percaya akan setiap perkataan Firman Allah. Menerima dan mengaminkannya sehingga terjadi dalam hidup kita. Kunci utamanya adalah dengan percaya pada perkataan kebenaran. Sekalipun kita memperkatakan kebenaran, namun kita tidak percaya, maka kita sendang menipu diri kita sendiri atau kita sedang berlaku sebagai badut rohani yang suka bersandiwara. Kalau kita mengaku dengan mulut, kita akan diselamatkanNya pada hari penghakiman. “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:10) Jadi perhatikan betapa dahsyatnya kuasa di balik perkataan kebenaran.

2.      Marilah kita menjadi teladan dalam perkataan. “…; but be thou an example of the believers, in word, in conversation, in charity, in spirit, in faith, in purity.” (KJV 1 Timoty:4:12). Rasul Paulus mengingatkan agar sama seperti Timotius, kita juga harus menjadi contoh yang benar dalam perkataan. Jangan lagi kita asal bicara sehingga kita menyemburkan kata-kata yang sia-sia. Tetapi hendaklah kita mengeluarkan kata-kata yang benar saja. Kata-kata yang berpadanan dengan firmanNya. Seorang hamba Tuhan yang tak dapat dipegang perkataannya pasti tidak akan berhasil dalam pelayanan. Tinggal menunggu waktu saja untuk melihat seseorang rubuh dan hancur jika perkataannya tidak  dapat dipertanggungjawabkan.

3.      Terimalah dengan percaya bahwa perkataan kebenaran yang kita sampaikan, akan bekerja dan menjadi kenyataan. Maka akan ada sebuah kekuatan besar yang sedang bekerja di alam roh ketiak dengan sepenuh hati dan p[ercaya kita memperkatakan kebenaran. FirmanNya tidak akan kembali dengan sia-sia tetapi akan bekerja dan mengerjakan kebenaranitu menjadi mukjizat. Maria pernah berkata kepada malaikat yang memperkatakan kebenaran kepadanya: “Jadilah padaku seperti perkataanmu!” amin

Intisari bKhotbah Gembala Sidang, Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th  pada Ibadah Raya Minggu, 21 Mei 2006 di HN Ministries Chapter Induk Semper Jakarta Utara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar