Minggu, 03 Maret 2013

Injinkan Allah yang Menuntun


IJINKAN ALLAH yang MENUNTUN
Keluaran 3:1-14

Musa adalah tokoh Perjanjian Lama paling fenomenal. Dia begitu berpengaruh dalam perkembangan sejarah Israel. Sampai hari ini pun kita mempunyai banyak hal yang tak dapat dipisahkan dari pribadi Musa. Musa adalah pribadi yang sarat dengan kisah dan kasih Tuhan. Musa tidak sempurna. Dia juga berbuat kesalahan. Dia juga berkali-kali jatuh dalam dosa. Namun satu yang istimewa yang kita pelajari dari Musa adalah KELEMBUTAN HATInya yang amat sangat: “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” (Bilangan 12:3)


Musa adalah anak seorang budak Ibrani yang karena iman orng tuanya berhasil disusupkan ke Istana Firaun. Selama 40 tahun Musa dididik ala bangsawan Mesir. Setelah selesai di ISTANA, Tuhan menarik Musa dengan keras dan membuangnya ke padang gurun. Dari seorang bangsawan yang terhormat, Musa berubah menjadi seorang gembala kambing domba di padang gurun. Namun disinilah pelajaran kehidupan yang sesungguhnya. Allahmendidik Musa selam 40 tahun lagi di padang gurun sampai tiba waktu untuk memakainya menjadi alatNya: “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.” (1)

Musa, putra yang besar di Istana Firaun terdampar di padang gurun. Seringkali dalam hidup ini, Tuhan “mencampakkan” kita ke padang gurun. Ingat, ini bukan akhir dari segalanya. Tetapi ini adalah awal dari satu yang lebih besar/hebat dari yang pernah kita alami. Pelajaran hidup yang sejati hanya kita dapat lewat sakitnya hidup dipadang gurun. Ingatlah, persoalandan masalahlah yang dpat mengangkat saudara menjadi lebih tangkas dan kuat menghadapi hidup ini.

Di padang gurun, istilah Alkitab untuk masalah dan persoalan, Tuhan dapat menampakkan diri dan kuasaNya kepada kita dengan lebih nyata. Ketika Musa tengah sibuk dengan pelajaran padang gurun, Allah justru datang kepadanya melalui media yang membingunkan. Ada semak  duri yang berapi namun tidak terbakar. Aneh sekali bukan? Jangankan di padang gurun yang panas terik, di daerah lembabpun kita akan saksikan bahwa api akan melahap semak duri: “Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.” (2)

Musa yang masih polos dalam hal penampakan Ilahi, menjadi kedagingan. Ia hendak beranjak dari tempatnya dan memeriksa kejadian janggal itu: “ Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" (3) Namun Allah mencengah Musa mendekat. Ini dapat berarti bahwa Tuhan tidak dapat dihampiri bila kita najis: “Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." (4-5)

Kita tidak akan pernah dapat mendekat atau melayaniNya dalam keadaan yang kotor. Kasut melambangkan kotoran yaitu segala dosa dan kenajisan kita. Allah meminta kita menanggalkan dulu noda itu baru mendekat kepadaNya. Bahasa sederhananya adalah kita harus bertobat dari segala dosa kita. Menerima Yesus Kristus sebgai Tuhan dan Juruselmat dan meminta Dia menuntun hidup kita kepda rencanaNya: "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2)

Allah adlah pibadi yang MAHAKUDUS. Tidak ada kenajisan setitikpun pada diri ALLAH. Oleh itu Musa menjadi ciut sehingga menutupi mukanya: “Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.” (6-7) Namun demikian, walau Allah MahaSuci, tidak berati Dia tidak mempedulikan kita yang berdosa. Ia berkali-kali dan terus menjangkau kita. Tuhan mendengarkan teriakan minta tolong dari Israel yang di tindah pengerah-pengarahnya di tanah perbudakan Mesir.

Allah mendengar dan PERDULI terhadap segala hal yang kita alami. Jika anda mengalami tekanan. Atau anda merasa diperbudak oleh berbagai dosa. Berserulah kepada Tuhan. Sadari dirimu berdoa, bertobat, dan panggil namaNya, maka Dia pasti datang menolongmu. Sepasti matahari ayng tak pernah terlambat, Dia pasti datang menolong kita  yang berseru kepadaNya. Bahkan yang sangat istimewa adalah, Dia sudah datang menolong kita sebelum kita menyadarinya: “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.” (8)

Perhatikan kata Aku telah turun. Itu berarti bahwa sebelum kita menyadari pun, Allah sedang bekerja untuk kebaikan kita. Kuncinya adalah kita tidak berhenti dan atau menjadi lemah dalam berdoa. Kita harus terus berseru danmemanggil namaNya yang MahaMurahHati. Dia pasti datang karena Dia tidak tuli atau menulikan telingaNya. Seperti Allah melihat sengsara Israel yang di tindas di Mesir, demikian juga Allah yang sama melihat penderitaanmu: “Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.” (9)

Hari ini kita belajar tentang Allahyang peduli. Hanya seringkali kita tidak percaya atau kurang bernai mempercayakan hidup kita dalam tuntunanNya. Sekarang mari kita belajar, walaupun kita ditarik paksa dari hidup nayaman namun bergelimang dosa, masuk dalam hidup yang sulit namun penuh kesucian, marilah kita belajar percaya. Bahwa Tuhan membiarkan kita mengembara di padang gurun, itu semata mempersiapkan kita memasuki kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin. Percayalah bahw aseberat apapun dukacita kita hari ini tak sebanding dengan sukacita kita kelak. Jadi percayakankalah hidupmu dalam tuntunanNya. Ikutlah dengan hati yang lembut jika dia menuntun anda. Percayalah dan tekunlah dalam doia ketika mengembara di padang gurun. Suatu hari kelak kita akan sampai di padang rumput hijau yang penuh kelimpahan. Sama seperti Israel akhirnya meninggalkan Mesir dengan mukjizat yang dahsyat dan memasuki Kanaan yang berlimpah susu dan madu, demikian juga kita akan melewati padang gurung persoalan, dan memasuki hidup berkemenangan di dalam Yesus Kristus. Amin.

Intisari khotbah Ibadah Raya Bulan Baru, Ps Joshua Mangiring Sinaga, S.Th. Hati Nurani Ministries Jakarta, minggu 07-09-08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar