Selasa, 19 Maret 2013

MAKNA BAPTISAN SELAM DALAM SEMANGAT PERAYAAN PASKAH


MAKNA BAPTISAN SELAM
(Roma 6:3-14)

Paskah yang kita rayakan pada hari ini merupakan pengenangan kembali akan kebangkitan Kristus dari kematian. Kristus bangkit setelah selama 3 hari berada dalam perut bumi. Hari minggu adalah hari ketiga setelah kematianNya dan menjadi hari kemenangan tentu bagi semua orang percaya. Itulah sebabnya maka kekristenan menetapkan hari minggu sebagai hari pertemuan ibadah raya.


Peristiwa Israel menyeberang laut Teberau (Keluaran 14:21-22) yang kering setelah disibakkan Allah merupakan lambang baptisan. Tentara Firaun sedang mengejar namun terhalang oleh tembok api yang dari Tuhan. Pada kesempatan itulah Musa menyeberangkan semua orang Israel. Ketika semua telah tiba, maka tembok api itu pun diangkat dan tentara mesir mengejar hingga jauh ke tengah laut. Musa pun mengulurkan tangannya dan air kembali bersatu menenggelamkan semua tentara Mesir. Peristiwa ini bermakna bahwa baptisan sangatlah bermakna dalam kehidupan seorang kristiani. Jika saja israel tidak menyeberang (tidak dibaptis) maka sewaktu-waktu Mesir dapat menawan mereka dan membawanya kembali ke tanah perbudakan, namun setelah menyeberang (dibaptis) mereka menjadi lebih terpelihara. Karena ada perlindungan dan mukjizat Allah. Demikian juga bagi setiap orang Kristen, baptisan tentu membawa unsur keselamatan: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Markus 16:16)
Rasul Paulus menulis: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.” (Roma 6:3). Orang percaya tanpa terkecuali telah dibaptis dalam Kristus. Dalam kematianNya. Itulah sebabnya sakrament baptisan sesuai dengan arti hurufiahnya dicelupkan (baptizo-Yunani) dilaksanakan dengan menenggelamkan seseorang ke dalam air dan kemudian mengangkatnya kembali. Baptisan ini melambangkan kita telah dibaptiskan dalam Kristus yaitu dalam kematianNya dan juga mendapatkan bagian dalam kebangkitanNya.

Ketika seseorang dicelupkan (diselamkan) kedalam air itu bermakna kita dikuburkan dalam kematianNya (ayat 4) sebagai lambang matinya manusia lama kita yang berlumur dosa (ayat 6). Sehingga tubuh dosa kita hilang kuasanya dan kita tidak lagi menjadi hamba dosa.

Peristiwa baptisan merupakan lambang kematian manusia lama kita yang penuh dosa karena tanpa kematian manusia lama, kita tidak bisa bebas dari dosa. Karena manusia lama kita mati dalam Kristus, maka kitapun akan memperoleh kebangkitan di dalam namaNya. Sebab Kristus telah bangkit dan hidup. Dia tidak mati selama-lamanya seperti yang dituduhkan oleh beberapa pendengki dari kalangan agamawi.

Karena betapa pentingnya baptisan, maka seharusnyalah kita menaruh hormat atas peristiwa sakrament ini. Peristiwa baptisan bukan hanya sekedar seseorang masuk sebagai pemeluk agama kristen, tetapi lebih dari pada itu, lewat peristiwa baptisan seseorang telah dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Maka sungguhlah tepat apa yang di tulis oleh Markus, bahwa iman dan baptisan itu adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan dalam peristiwa keselamatan.

Mengapa harus di baptis. Alasan yang sangat sederhana dari peristiwa laut Teberau adalah menyangkut kualitas keselamatan. Jika Israel tidak menyeberang (baca di baptis) maka kemungkinan mereka ditawan kembali oleh Mesir yang merupakan lambang perbudakan dosa sangat besar. Tetapi ketika mereka telah menyeberang (dibaptis) maka mereka menjadi lebih aman (lebih selamat) karena Mesir dan tentara-tentaranya telah tenggelam. Ketika kita dibaptiskan dalam kematian Kristus maka kemenangan Kristus juga menjadi bagian kita. Karena Kristus telah menang atas maut dan menyelesaikan semua urusan dosa, maka kitapun yang telah menerima baptisan dalam kematianNya akan memperoleh keselamatan dengan jaminan perlindungan yang ekstra: “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (ayat 12-13).

Orang yang telah menerima baptisan memiliki kuasa yang lebih kuat untuk berkata tidak terhadap godaan daging. Mereka yang telah dibatis memiliki kuasa yang lebih kuat dalam menangani godaan dari pada orang yang tidak di baptis. Karena kasih karunia Kristus menyertai kelompok orang ini: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Ayat 14).

Ketika kita menerima baptisan, maka kita dapat mempersembahkan tubuh kita sebagai alat untuk melayaniNya. Kita dapat mempergunakan tubuh kita sebagai senjata-senjata kebenaran yang memperdengarkan Injil ke seantero dunia ini. Artinya, dengan di baptis didalam kematian Kristus yang juga berarti menerima kebangkitan dalam melalui kebangkitanNya, kita dapat menjadi bejana yang lebih berharga di dalam baitNya. MelayaniNya tentu sangat indah namun hanya dengan menjadi bejana yang berharga dan yang sudah dikuduskan melelui baptisanlah, kita menjadi lebih bermakna di dalam ladangNya: “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Ayat 13).

Selamat merayakan paskah, hari kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus yang juga bermakna untuk mengingatkan kita bahwa kita pun telah mendapat bagian dalam kebangkitanNya kelak. Maranatha, halleluyah.

INTISARI khotbah Pdt. Joshua Mangiring Sinaga, S.Th; pada Ibadah Paskah HN Ministries Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar