Rabu, 20 Maret 2013

Kecil Tak Berarti Tak Berguna


Kecil Bukan Berarti Tidak Berguna
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, S.Th

Tidak terasa kita telah memasuki bulan yang paling sibuk dalam kekristenan. Bulan Desember yaitu bulan Natal. Ini berarti bahwa kesetiaan Allah terbukti. Dia yang Mahakasih telah memelihara kita sepanjang tahun dan menibakan kita di bulan yang sangat kita rindukan ini. Memang kita tidak dapat mengundur walau sedetik pun waktu ini, tetapi dalam perjalanan yang telah jauh dibelakang tentu kita mengalami banyak hal. Ada kegagalan dan ada kesuksesan. Semua itu akan menjadi pelajaran untuk menjadi lebih baik di tahun depan. Tahun 2007 sebagai tahun pemulihan dan tahun kerendahan hati.



Nabi Mikha menulis: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (5:1). Betlehem adalah kota yang kecil dan kurang mendapat perhatian. Kurang lebih 10 KM dari Yerusalem. Kota ini di sebut The Smallest Town karena dari sekian banyak kota-kota Yehuda, Betlehem terhitung sebagai daerah yang terabaikan. Bahkan penguasa hampir-hampir melupakannya. (Matius 2)

Kata Betlehem berasal dari dua akar kata Ibrani, Bayit yang berarti Rumah dan Lehem yang berarti Roti. Betlehem berarti rumah roti. Saya mempelajari mengapa kota ini disebut sebagai rumah roti padahal dalam masa paceklik, kota ini juga mengalami kelaparan. (Rut 1:1). Apakah ada makna dari Betlehem?

Jauh sebelum ayat ini di tulis oleh Nabi Mikha, di Betlehem lahir seorang anak peternak bernama Daud. Dia begitu kecil dan tak dipandang oleh saudara-saudaranya. Dia hanya di tugaskan untuk menjadi gembala dipadang. Tetapi Allah melihat hatinya yang tulus dan mengambil dia dari padang penggembalaan dan mengangkatnya menjadi raja Israel yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Betlehem itu memang sunyi dan hampir tak dipandang oleh orang. Tetapi justru dari kota sunyi itulah lahir seorang raja yang besar yaitu Daud. Dari kota sunyi itu jugalah lahir Anak Daud, Raja segala raja yaitu Imanuel, Yesus Kristus.

Mengapa bisa menjadi sedemikian hebat dari yang kecil tak berpengaruh? Intinya adalah apa yang menjadi isi dari Betlehem. Apa yang menjadi isi hati Daud? Betlehem memberikan roti bagi penduduknya. Itulah isi Betlehem. Walau sederhana tetapi dia memberikan kehidupan.  Artinya kota ini menjadi tempat perteduhan bagi orang yang lapar dan papa. Seperti Paulus menulis, Tetapi dari kesederhanaan dan bahkan dari kelemahanlah, kuasa Allah menjadi sempurna (2 Korintus 12:9). Demikian juga Daud. Isi hatinya begitu murni. Bahkan ketika dia bergelimang dosa pun, hatinya begitu tulus dan murni. Jauh dari belat-belit. Jauh dari kemunafikan. Jauh dari sandiwara. Daud begitu menjaga hatinya sehingga dalam penyesalan yang dalam, dia berdoa: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:3-7)

Ayat ke dua yang akan kita renungkan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yesaya 9:1) Nabi Yesaya menulis ayat ini hampir bersamaan dengan Nabi Mikha, 700 tahun sebelum kelahiran Mesias di Kandang Domba Betlehem Efratah. Dalam zaman kegelapan oleh karena hati yang tidak memiliki terang, membuat bangsa-bangsa menjadi bar-bar, menyembah berhala, menyembah harta, mengejar kekuasaan bahkan dengan cara-cara yang tidak bermoral. Dalam zaman kegelapan ini timbul kejahatan yang untuk mendengarnya saja orang yang bermartabat  sudah muak. Zaman yang gelap ini membuat manusia mengikuti apa saja yang dipandang benar menurut keinginan hatinya. Tidak ada kontrol yang positif. Semua manusia berjalan menurut keinginan hatinya. Bahkan para pemeluk agama pun mengikuti apa yang mereka anggap benar menurut keinginan hati mereka.

Pada zaman yang gelap inilah, Yesus lahir di kandang domba di Betlehem. Dia datang dengan bersahaja. Sangat miskin dan tidak bersemarak. Dia lahir bahkan di kandang domba dan harus berbaring di palungan domba. Yesus lahir di tempat yang sunyi dan sepi. Tidak ada lagu atau musik ? Tetapi dari surga ada nyanyian nyaring yang melebihi musik dunia ini. Surga bergetar karena Allah yang begitu agung rela turun ke dunia dalam kebersahajaan. Dalam kesederhanaan yang terlalu. Dalam kemiskinan yang papa.

Yesus datang sehingga kegelapan yang menutupi bangsa-bangsa karena tidak mengenal Allah tersibak. Yesus datang agar bangsa-bangsa yang berjalan dalam keinginannya yang gelap dapat melihat sinarNya. Walau hanya datang di kandng domba, walau hanya lahir di kota sunyi, Betlehem, tetapi Dia datang membawa hal yang tidak didapatkan oleh manusia di mana pun. Itulah keselamatan yang datang dalam kesederhanaan. Keselamatan yang datang justru dari kerendahan hati Allah yang rela menjadi manusia agar manusia yang sudah meninggalkan kodratnya sebagai gambar Allah dipulihkan. Yesus datang agar manusia kembali kepada citranya sebagai gambar Allah dengan memberikan terangNya yang ajaib. Terang yang menyinari hati yang gelap sehingga bangsa-bangsa yang berjalan dalam tuntunan hati yang gelap menemukan keselamatan. Walaupun kecil Betlehem telah berdampak besar oleh karena isinya. Walau sederhana dan tak dipandang dulunya, Daud telah berjaya. Yesus pun yang hanya bayi lemah, telah menjadi begitu besar karena kesucian hatiNya. Amin.

 #Intisari Khotbah Pdt. Joshua MS pada Natal HN Ministries Chapter Induk Semper, 25-12-06

Tidak ada komentar:

Posting Komentar