Minggu, 17 Maret 2013

SURAT TERBUKA


Kamu adalah Surat Terbuka
1 Korintus 3:1-6

Surat ini ditujukan oleh Paulus kepada jemaat-jemaat yang tersebar di kota Korintus, sebuah kota pelabuhan yang berada di Semenanjung Makedonia. Paulus mengunjungi Korintus pada perjalanan misi ke 2 dengan melewati medan perjalanan yang sangat berat baik melalui darat dan laut. Kalau kita mencermati surat yang pertama dan yang kedua, telah terjadi masalah yang sangat serius dalam dinamiki jemaat karena banyaknya penyusup yang menyamar sebagai pelayan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Paulus banyak menulis dengan tegas untuk menjelaskan siapa dia dan pelayanannya melalui surat-suratnya.


Kita baca: “Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” (1-2). Ketika Paulus meninggalkan Kota Korintus, ada banyak pergunjingan yang timbul menyangkut kredibilitasnya. Ada beberapa yang meragukan jawatan kerasulannya. Tentu ini adalah ulah oknum-oknum tertentu yang tidak menginginkan Injil berkembang.

Surat adalah media informasi yang paling mutakhir pada abad pertama masehi. Tulisan menjadi sarana informasi walau hanya dapat di mengerti oleh kalangan terpelajar. Surat di tulis dalam berbagai media mulai dari kulit kayu yang dikeringkan (papirus) hingga gulungan kertas yang biasanya dimeterai sehingga hanya dapat dibaca oleh yang berhak. Namun sungguh heran, Paulus mengatakan bahwa jemaat-jemaat Korintus adalah surat pujiannya. Surat pujian yang disampaikan Paulus ini terkait dengan posisinya sebagai Rasul. Jemaat-jemaat di Korintus adalah buah dari pelayanan Paulus dan rekan seperjalanannya. Dan ini menjadi dasar Paulus mengatakan bahwa mereka yaitu jemaat-jemaat di Korintus adalah bukti dari kerasulannya. Ini menjadi bukti bahwa Allah telah mengutus dia menjadi salah seorang rasul dari sekian banyak rasul yang lain.

Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus adalah surat pujian yang tertulis Di DALAM HATI. Bukan  di media alamiah. Hati berbicara tentang bagian atau pusat dari pribadi manusia. Hati diambil dari kata leb, lebab (Ibrani) yang berarti pusat kepribadian. Palus sedang menyampaikan bahwa tidak ada lagi media yang dapat menghapus surat pujian itu karena telah tertulis dalam loh hatinya. “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (3)

Jemaat-jemaat Korintus adalah Surat Kristus yang ditulis dalam pelayanan Paulus dan rekan, dan merupakan sebuah pujian yang telah tertulis dalam hati. Surat ini DIKENAL. Tidak tersebunyi atau termeterai. Artinya semua sudah mengenal kepribadian Paulus dalam pelayanan yang murni tanpa noda dan cela. Walau memang beberapa rasul termasuk Petrus pernah mengritik Paulus sebagai seorang penulis yang sulit dipahami jalan pikirannya ( 2 Petrus 3:15-16), namun demikian, Paulus adalah seorang yang dikenal baik sebelum atau sesudah pertobatannya. Paulus mengatakan bahwa lewat jemaat yang memang sudah dikenal luas itu, semua dapat mengerti bahwa itu buah dari pelayanan Rasul Paulus.

DAPAT DIBACA berarti tidak dimeterai. Surat ini menjadi surat terbuka yang dapat dimengerti atau dipahami oleh siapapun. Jemaat-jemaat di Korintus telah berkembang lebih dari jemaat-jemaat di tempat lain khususnya dalam hal karunia. Kita menemukan di Korintus semua kelengkapan dari karunia Allah yang melekat pada mereka. Jemaat-jemaat ini bahkan begitu menyita perhatian hampir seluruh umat Kristen diseluruh dunia karena karunia yang ada ditengah-tengah mereka. Jadi jelaslah bahwa jemaat-jemaat di Koritus itu adalah Surat Kristus yang berisi pujian bagi pelayanan Rasul Paulus dan rekan-rekannya sehingga dengan demikian setiap suara-suara sumbang yang mencela kerasulannya terbungkam.

Karakter ilahi yang melekat pada Paulus sehingga menjadi surat pujian Kristus tadi mungkin jadi kenyataan adalah karena dikerjakan oleh Roh Kudus. Media yang dipakai oleh Roh Kudus menjadi teladan adalah para Rasul yang bicara tentang hamba-hamba Tuhan yang sejati: “Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” (4-6)

Namun demikian para Hamba Tuhan tidak akan mampu berbuat apa-apa bila terpaku pada hukum-hukum liturgis yang kaku dan mengekang kebebasan Roh Allah berkarya. Pelayanan seorang hamba Allah yang berhasil selalu terkait dengan sikap yang memberikan kebebasan punuh Roh Allah bekerja dengan seluas-luasnya. Palus menyadari, bahwa tanpa Roh Allah yang mengubahnya, maka mustahil dapat bekerja demikian spektakuler. Kita  tahu bahwa Palus telah bekerja dan melayani Tuhan lebih dari siapapun sepanjang zaman. Dia adalah contoh pelayan yang ideal. Dalam hal ketulusan, kasih, ketegasan, Paulus terbukti telah menjadi surat terbuka yang dikenal, dan dapat dibaca. Tak ada yang dapat membantah kerasulannya lewat karya Allah yang nyata dalam pelayanannya.

Saudara-saudara jemaat yang terkasih, bukankah sepatutnya kita juga harus menjadi surat-surat terbuka yang dikenal dan dapat dibaca sehingga INJIL akhirnya sampai kepada orang lain? Amin. Semua umat Tuhan yang percaya kepada Kristus terpanggil untuk menjadi saksi. Kesaksian pertama yang langsung bisa dibaca adalah perilaku dan perbuatan. Teladan hidup ini berbicara lebih kuat dari pada jutaan kata-kata. Janganlah menjadi marah apabila dunia akan menghujat dan mepertanyakan iman Anda. Itu memang sudah seharusnya. Karena kita, umat Allah atau gerejaNya, adalah surat terbuka yang dibaca oleh dunia. Denganmembaca hidup kita, maka seharusnya dunia boleh melihat Kristus didalam kita. Amin

Intisari Khotbah Pdt. Joshua MS dalam Ibadah Raya Hati Nurani Ministries Jakarta, Minggu 17 February 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar