Rabu, 06 Maret 2013

IMAN, IMAN, DAN IMAN


IMAN YANG MEMIMPIN KEPADA KEMENANGAN
(ROMA 5:1-5)

Kekristenan itu berdasarkan iman kepada Yesus Kristus. Segala denyut kristianitas itu berbicara tentang iman kepada Yesus Kristus Anak Allah. Segala yang terkait dengan kristianitas, semua itu selalu terhubung dengan iman kepadaNya. Alkitab mengatakan bahwa segala hal yang tidak berdasarkan iman (kepadaNya) adalah dosa (Roma  14:23).


Kita akan melihat apakah dampak iman umat kristiani dalam kehidupannya setiap saat. Dengan dampak itu, kita menjadi umat yang dapat menghitung secara jelas peruntungan kita. Jika kita jadikan iman sebagai landasan hidup kita, maka perhitungan peruntungan itu akan menjadi berkat yang mengikuti kita setiap saat.

Ayat 1: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Lihat dengan teliti. Dibenarkan oleh iman (kepada Yesus Kristus). Artinya kita memang hidup dan menerima pembenaran bukan karena perbuatan agamawi, tetapi oleh iman.  Kita yang telah dibenarkan itu memperoleh HIDUP dan hidup yang kita peroleh itu ada didalam damai sejahtera dengan ALLAH melalui Yesus Kristus (we have peace with God through our Lord Jesus Christ: KJV).

Apakah yang paling penting dalam hidup ini? Harta, jabatan, sex? Semua itu tidak lagi berarti jika kita tidak memiliki damai sejahtera. Damai sejahtera itu tak dapat kita peroleh melalui harta, jabatan, dan sex. Ketiga hal tadi yang memang selalu diburu oleh manusia duniawi itu, tanpa damai sejahtera, selalu berujung kepada persoalan. Hanya jika kita beriman, kita mendapatkan akses kepada damai sejahtera itu. Hanya dengan memiliki imanlah, harta, jabatan, dan sex itu dapat kita nikmati dengan damai sejahtera. Jadi jangan dibalik, iman kepada Yesus KRISTUS harus pertama, baru menyusul yang lain-lain. Dengan demikian kita dapat menikmati hidup dengan segala keperluannya ini dalam damai dan sejahtera.

Ayat 2: “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Kasih karunia adalah hal yang hanya dapat kita peroleh dari Tuhan. Keselamatan kita adalah kasih karunia dari Tuhan karena kita tidak dapat mencapainya melalui apapun (Yohanes 14:6). Oleh kasih karunia itu kita dapat berdiri teguh dan bahkan berbangga dalam pengharapan bahwa kelak akan menerima kemuliaan Allah. Bahasa sederhananya adalah hanya dengan iman kita dapat berdiri tegap dan bangga karena kita punya pengharapan bahwa satu kali kelak kita akan masuk sorga untuk bertemu dan untuk selanjutnya tinggal bersama Bapa di sorga nan mulia selama-lamanya. Luar biasa bukan? Hanya dalam imanlah kita mempunyai hak untuk mengharapkan hal yang sangat agung itu.

Sekarang marilah kita mempelajari TAHAPAN MENUJU PENGHARAPAN akan KEMULIAAN itu. Atau dengan kata lain, Iman yang bagaimanakah yang membawa kita kepada kemenangan untuk memperoleh kemenangan di bumi dan kemuliaan kelak di sorga?

Ayat 3-5: “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Rasul Paulus mengurutkan 3 hal yang akan menuntun kita kepada iman yang membawa berkemenangan di bumi dan kemuliaan kelak di sorga. Marilah kita mempelajarinya lagi.

  1. KESENGSARAAN  (tribulation). Ada rumus rohani yang saya pelajari dari 1 Korintus 10:13): “Sengsara yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, selalu berbanding lurus dengan penghiburan yang Tuhan diberikan”. Tuhan tidak kejam sehingga membiarkan kita menanggung sengsara melebihi kapasitas kita. Hal ini sesuai dengan apa yang dialami Paulus: “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.” (1 Korintus 1:5). Jadi sengsara itu terjadi tidak selalu karena dosa. Sengsara seringkali dijinkan Tuhan agar kemurnian iman kita timbul. Hanya dengan sengsaralah, kemurnian dan kesungguhan iman kita teruji. Tetapi, saudara harus percaya bahwa sengsara kita tak pernah melebihi kekuatan kita. Bila sengsara kita berlimpah-limpah, maka Tuhan selalu menyiapkan penghiburan yang berlimpah juga. Jadi, janganlah patah semangat, tetaplah teguh dalam iman jika untuk sementara kita diijinkannya berada didalam badai kehidupan. Percayalah, saat badai itu tiba, Tuhan juga telah tiba dengan pertolonganNya. Hanya, apakah kita masih teguh dalam iman?

  1. KETEKUNAN (patien). Tekun itu artinya sabar terhadap ketidakadilan.  “karena kamu sabar, jika orang memperhambakan kamu, jika orang menghisap kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu.” (II  Korintus  11:20) Sabar memang sudah menjadi barang langka di zaman ini. Anak-anak tak lagi sabar. Remaja pun tak sabaran. Pemuda tidak sabar. Orang tua tak sabar. Semua manusia dilanda penyakit yang bernama terburu-buru. Mulai dari memburu harta, jabatan, dan atau sex.

Karena orang ingin cepat kaya, mereka meretas jalan pintas bernama korupsi. Karena memburu jabatan, orang menghalalkan segala cara. Karena tak sabar menunggu sampai menikah, orang mempraktekkan sex pra nikah. Bahkan banyak orang tak lagi menghormati kekudusan pernikahan. Manusia hidup menurut keinginannya. Laki-laki menyukai laki-laki. Perempuan menyukai perempuan. Sex menjadi neraka jahanam yang menjerumuskan manusia kepada kehancuran. Anda tahu semua karena apa? Karena manusia tak lagi sabar. Semua terburu-buru dan akhirnya menabrak tembok. Kita semua mengerti bahwa jika seseorang mendobrak tembok, akan di pagut ular? (Pegkhotbah 10:8) Siapa yang melanggar aturan, akan bertemu dengan masalah. Untuk menikmati kemenangan dalam iman, kita harus belajar tekun. Belajar bersabar. Salah satunya dari orang yang bertekun adalah orang yang belajar menunggu.

  1. TAHAN UJI (experience). Tahan uji dalam arti yang sederhana adalah praktek langsung. Artinya mengalami sendiri secara pribadi. Kekristenan bukan kesaksian orang lain atau bukan kehidupan orang lain yang disuntikkan dalam hidup kita. Kekristenan adalah kehidupan pribadi bersama dengan Tuhan Yesus.

Tahan uji artinya kita mengalami sendiri setiap pengalaman hidup beriman, dan tetap ada ketika harus menghadapi ujian. Ketika kita sedang membangun kehidupan, Allah menyediakan lima bahan-bahan dasar bangunan hidup kita. Kita bebas memilihnya namun semua tanpa kecuali harus diuji pada akhir pekerjaannya. Kelima bahan-bahan itu adalah: Emas, Perak, Batu Permata, Kayu, Rumput Kering (Jerami). Alkitab mengatakan bahwa bangunan kehidupan iman kita itu nanti harus diuji dengan api. Yang tidak terbakar akan menerima upah tetapi yang terbakar akan mengalami kerugian. ( 1 Korintus 3:9-15) Jadi perhatikan: apakah pekerjaan praktis (praktek kehidupan kristiani) anda dibangun di atas dasar yang tahan api? Apakah dasar yang telah diletakkan oleh para rasul dengan batu penjurunya adalah Yesus Kristus adalah dasar anda? Jika tidak, perhatikanlah baik-baik karena mungkin anda sedang membangun bangunan kehidupan iman ada di atas kayu dan bahkan munkin jerami (rumput kering)? Hanya tinggal menunggu waktu saja anda akan terbakar. Saat ujian dan badai hidup menerpa, anda mungkinlah orang yang paling cepat bersungut-sungut atau bahkan mengingkari iman anda.

Kadang-kadang hidup keimanan kita menjadi terlalu nyaman, sehingga Tuhan harus melemparkan kita keluar dari zona nyaman itu. Jika hari ini anda sedang mengalami yang namanya sengsara, tetaplah bersabar dan jadikanlah itu sebuah eksperimen iman sehingga anda dapat membangun kehidupan kristianitas di atas dasar yang tahan uji. Sehingga suatu ketika nanti, anda akan melihat sebuah kehidupan kristiani yang berkwalitas. Kehidupan kristianitas  yang berkemenangan. Suatu kehidupan yang akhirnya menerima upah dalam kemuliaan. Kehidupan orang beriman yang sesungguhnya. Kristiani sejati.

Intisari Khotbah Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th, Ibadah Raya Hati Nurani Ministries, Kebaktian Tahun Baru 2010,  Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar