Kamis, 03 Oktober 2013

Meet with God



BERTEMU DENGAN TUHAN
Ringkasan Khotbah Pdt Abraham Alex Tanuseputera



Segala kebajikan telah diberikan Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi mereka justru lari dari hadapan Tuhan, sehingga Tuhan memberi tanda peringatan bagi mereka dengan melepaskan berbagai macam persoalan; baik itu kelaparan, maupun sakit penyakit. Jadi keadaan bangsa Israel pada waktu itu benar-benar sangat  mengerikan, seolah-olah tidak ada harapan lagi untuk bertahan hidup, apalagi untuk melihat masa depan seperti yang telah dijanjikan oleh Tuhan.

Mungkin dalam diri kita timbul pertanyaan: Apakah Tuhan sudah enggan atau bosan terhadap bangsa Israel ? Semua hal itu dilakukan oleh Tuhan karena Ia sangat rindu bertemu dengan bangsa Israel dan mencurahkan segala kasihNya, seperti yang tertulis pada ayat ke 12: “Sebab itu demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai Israel. -- Oleh karena Aku akan melakukan yang demikian kepadamu, maka bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel!” Saudara, bukankah persoalan demi persoalan sering kita hadapi seperti halnya bangsa Israel, walaupun tidak separah seperti yang dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Tetapi itu semua bukti bahwa Tuhan masih sayang kepada kita, namun bukan berarti bahwa setiap orang yang menghadapi masalah itu karena berbuat dosa, sebab suatu saat Tuhan ingin menguji iman kita. Dan apabila saat ini kita sedang menghadapi masalah, maka percayalah bahwa Tuhan rindu bertemu dengan kita. Karena dengan demikian kita rindu untuk mencari Tuhan. Tetapi sebaliknya, ada orang yang tidak punya masalah karena segala sesuatu sudah tercukupi, sehingga orang tersebut meninggalkan Tuhan. Maka posisi orang tersebut sebenarnya terhilang dan sedang dicari Tuhan. Sebagai contoh adalah kisah anak yang terhilang. Dan anak yang terhilang ini telah mendapat hak waris yang luar biasa karena orang tuanya kaya. Segala sesuatu telah tercukupi, sehingga ia tidak ada masalah. Tetapi ia justru jauh dari bapaknya, sampai suatu saat ia menghadapi masalah dan kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan ia sampai makan makanan babi. Akhirnya ia mencari bapaknya, dan setelah bertemu dengan bapaknya, maka masalahnya selesai.

Lalu, apakah kita ingin mengalami seperti yang dialami oleh anak yang terhilang ini ? tentunya tidak. Untuk itu carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat (Yesaya 55:6). Jadi, yang pasti bahwa Tuhan selalu ingin bertemu dengan umatNya, baik dalam keadaan suka ataupun duka. Masalah memang kadang-kadang membuat kita lelah, tetapi apabila kita bertemu dengan Tuhan maka selesailah persoalan kita. Oleh sebab itu, biarlah kita senantiasa belajar setiap saat untuk bertemu dengan Tuhan. Kita ingat, ketika bangsa Israel berada di Mesir. Mereka bekerja keras sepanjang hari untuk mendapatkan nafkah, sebab apabila mereka tidak bekerja keras maka mereka tidak akan mendapatkan makan. Keadaan bangsa Israel pada waktu itu benar-benar dimanfaatkan oleh Firaun untuk membangun baik piramida maupun gedung-gedung yang lain. Maka Tuhan menyatakan kerinduanNya terhadap bangsa Israel dengan jalan mengutus Musa untuk membawa bangsa Israel keluar menuju kota Kanaan dengan melalui padang gurun. Dan dipadang gurunlah bangsa Israel dapat bertemu dengan Tuhan, sehingga masalah mereka dapat diselesaikan. Karena Tuhan tidak ingin bangsa Israel hidupnya bergantung dengan segala usahanya. Tetapi apabila mereka harus di padang gurun, mereka senantiasa mendapatkan kelegaan karena setiap hari mereka bertemu dengan Tuhan.

Walaupun di padang gurun tidak ada apa-apa; baik itu makanan atau minuman, tetapi apabila mereka membutuhkan sesuatu, mereka dicukupi oleh Tuhan karena Tuhan sanggup memelihara mereka. Jadi pertemuan dengan Tuhan itu tidak harus dibatasi oleh keadaan yang sedang kita alami, baik suka maupun duka kita harus bertemu dengan Tuhan (Keluaran 40:34-38). Saudara, jika kita membaca kitab Ayub maka kita akan melihat bahwa Ayub mendapatkan segudang masalah, dimana anak-anaknya terkena musibah, segala harta bendanya habis bahkan ia mengalami sakit penyakit.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa Ayub mendapatkan masalah yang berat, apakah ia telah berbuat dosa ? Tidak, Tuhan sedang menguji Ayub, dan Tuhan ingin supaya Ayub bertemu dengan Tuhan secara pribadi dan bukan kata orang, seperti yang tertulis dalam Ayub 42:5 : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.  Dari ayat ini biarlah boleh menjadi pelajaran dalam kehidupan kita yaitu supaya kita bertemu dengan Tuhan secara pribadi dan bukan kata orang saja.

Dan setelah Ayub bertemu dengan Tuhan secara pribadi, maka ia mencabut segala perkataan yang salah yang telah ditujukan kepada Tuhan dan ia bertobat, dan akhirnya segala apa yang dia punya dan terhilang telah dikembalikan oleh Tuhan dua kali lipat. Sedangkan kalau kita bandingkan dengan kehidupan Daud maka kita akan menemukan sedikit berbeda dengan kehidupan Ayub. Dimana sejak kecil Daud pandai dalam menyelesaikan suatu masalah, karena ia senantiasa bertemu dengan Tuhan setiap saat dengan cara setiap hari main kecapi maupun seruling untuk memuji Tuhan. Dan ketika Tuhan hadir, Ia membawa segala kemuliaan dan kekuatanNya. Sehingga ketika ia menghadapi masalah, baik menghadapi singa maupun srigala atau beruang, Daud sanggup mengalahkannya, karena ada urapan dalam dirinya, bahkan masalah seberat apapun ia sanggup mengalahkannya, seperti saat ia berhadapan dengan goliat.

Mungkin kita bertanya : sejauh mana kerinduan hati Daud untuk bertemu dengan Tuhan ? kita akan membaca Mazmur 63:2-3, yang berkata : Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Walaupun demikian, suatu saat Daud mulai tidak mengandalkan Tuhan lagi karena ia sudah merasa kuat, dan ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri. Hal ini tampak ketika ia sedang menghitung pasukannya yang besar.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya ? suatu saat Daud mengalami kekalahan yang sangat besar dalam suatu pertempuran, tetapi pada akhirnya ia bertobat. Dan saat ia tidak memiliki masalah, ia mulai pergi ke padang gurun, bukan untuk mencari masalah, tetapi ia ingin mengingat bagaimana nenek moyangnya bertemu dengan Tuhan dan ditolong Tuhan ketika di padang gurun selama 40 tahun. Dan akhirnya Daud senantiasa rindu bertemu dengan Tuhan setelah mempelajari dari berbagai macam pergumulan yang telah dihadapi, sehingga nama Daud itu disebut orang yang disayangi Tuhan. Lalu, bagaimana dengan kita; apakah kita juga termasuk orang yang senantiasa ingin bertemu dengan Tuhan ? kalau kita senantiasa bertemu dengan Tuhan maka kita berada dalam posisi yang berkemenangan bahkan lebih dari pemenang. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar