Minggu, 09 September 2012

Mengelola Pikiran


MENGELOLA PIKIRAN

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3)

Mengelola pikiran mungkin suatu hal yang baru, namun sejatinya itu bukanlah perkara baru sama sekali. Setiap saat, saat seorang lahir di bumi ini, ia telah menjalankan pikirannya. Bahkan orang yang gila sekalipun, ia masih mengelola pikirannya, hanya saja ia menjalankannya dengan salah.


Mengelola pikiran adalah hal yang sangat penting. Dalam bahasa aslinya, kata sophroneo (so-fron-eh'-o) bermakna; to be of sound mind. Menggemakan, atau membuat bersuara, ini bermakna menggaungknnya dengan indah pikiran. Terjemahan KJV menyebutknya sebagai: be in right mind, be sober (minded), soberly.

Menggaungkan buah pikiran dengan benar adalah seni menjalankan pikiran yang berdampak positif bagi kehidupan iman. Rasul Paulus menjelaskan bahwa dengan mengelola pikiran, itu akan menghasilkan ukuran iman yang tepat. Kata yang paling tepat untuk menjelaskannya adalah, semakin bijak mengelola pikiran, maka semakin bertumbuhlah iman. Pikiran dan iman itu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Awal tahun 2010, saya memutuskan untuk mendaftar sebagai Mahasiswa Pascasarjana di Institut Filasafat Teologi dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta. Keputusan ini sebenarnya sangat berat karena saya belum memperoleh dukungan sponsor atau beasiswa. Namun, oleh dukungan istri, saya meneguhkan hati untuk melakukannya. Saya diterima sebagai mahasiswa melalui ujian saringan mahasiswa.

Istri saya harus mengatur pengeluaran keuangan dengan bijak agar dapat disisihkan sebagian untuk membayar biaya kuliah. Pada awal perkuliahan terasa sangat berat, namun seiring perjalanan saya pun terbiasa. Saya menetapkandalam hati untuk menyelesaikan study. Tuhan pun mengaruniakan kasihNya dengan mengirimkan orang-orang yang terbeban membantu keuangan.

Pikiran saya berkata, saya tidak mungkin menyelesaikan study di Jaffray. Selain karena tuntutan akademisnya yang berat, saya pun harus memilih antara pelayanan dan studi. Saya hampir menyerah dan mundur. Persoalannya adalah, pada saat yang sama terjadi guncangan hebat dalam pelayanan gereja. Saya mengalami “kudeta” secara tidak etis oleh orang-orang sendiri dan “dibuang” seperti sampah. Tangisan dan air mata waktu peristiwa demisioner kepengurusan selaku sekretaris umum di sinode, sungguh sangat memilukan hati saya.

Namun yang tersisa adalah iman. Didukung oleh para sahabat seperjuangan, seperti Pdm. Antonius Saragih, saya memutuskan untuk meneguhkan hati dan pikiran. Pelayanan dan study harus tetap berjalan. Dukungan dari keluarga pun sangat kuat sehingga tidak lama berselang, saya menemukan kembali kekuatan pikiran dan iman saya.

Sabtu, 8 Agustus 2012. Nama saya dibacakan oleh Puket 1 STT Jaffray sebagai wisudawan terbaik predikat Cum Laude dengan IPK 4,0.  Saya dipersilahkan maju kedepan dan menerima penghargaan akademik yang diserahkan langsung oleh ketua STT Jaffray, DR Yakob Tomatala. Ini menjelaskan kepada saya bahwa pikiran harus tetap dikelola dengan benar, untuk menemukan formasi iman yang sepadan dengannya. Semakin pikiran terurus dengan baik, maka semakin tinggi tingkatan iman. Pencapaian maksimal oleh pikiran yang terkelola dengan benar.

Selamat mengelola pikiran dan menerima iman yang maksimal. Selamat mencapai tingkat kehidupan jasmani dan rohani yang dinamis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar