Jumat, 19 April 2013

KUASA VISI


KUASA VISI (Kejadian 12:1-9)
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th

Pernahkan anda berpikir bahwa pencapaian terbesar selalu lahir dari visi yang kuat. Artinya tanpa sebuah visi tidak akan pernah lahir sebuah pencapain yang besar. Visi adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh iman dan sifatnya jauh di depan dan hanya dapat  dijangkau jika seseorang teguh mengejarnya. Visi adalah sebuah kekuatan dan dibalik sebuah visi terkandung kuasa yang mahadahsyat. Tergantung kepada siapa dan siapa yang menerima dan mengaplikasi kuasa visi itu.


Untuk menjelaskan sebuah visi dapat melalui cerita nyata berikut ini. Sebuah perusahaan sepatu mengirim dua orang marketing ke Afrika. Ketika kedua marketing ini tiba, mereka sangat kaget kerena tak menemukan seorangpun penduduk di tempat tersebut yang mengenakan sepatu. Seorang kemudian segera mengirim berita ke kantor: “tak ada seorang pun yang mengenakan sepatu di sini, segera kirimkan tiket, saya mau pulang!” Sementara yang satunya lagi mengirim berita: “Segera kirimkan sepatu sebanyak banyaknya, karena di sini belum ada yang pnya sepatu.” Seorang telah mendapatkan visi, sementara yang lain tidak.

Visi mengandung kuasa yang dapat sangat efektif menahan berbagai penderitaan sebagai akibat dari pencapaian visi itu. Kita baca: “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (1) Abram menerima visi dari Allah. Sekarang kita mengerti bahwa visi yang benar ternyata hanya bersumber dari ALLAH. Dalam hal ini kita harus memisahkan antara visi dengan obsesi atau cita-cita. Obsesi atau cita-cita lahir dari interaksi sosial seseorang. Tetapi visi lahir dari pergaulan pribadi seseorang dengan Allah.

Dalam ayat tadi kita melihat bahwa Visi mengandung perintah yang sering/ kadang-kadang tidak masuk akal. Jadi pointnya adalah visi tidak tergantung pada nalar dan logika manusiawi. Abraham diperintahkan untuk keluar dari komunitasnya dan pergi kesuatu tempat yang akan ditunjuk oleh Allah. Tentu sangat berat untuk meninggalkan sebuah komunitas untuk suatu tempat yang masih sangat tidak jelas. Namun itulah visi. Seseorang harus mampu bergerak dengan segala bebannya menuju visi.

Mari kita baca dua ayat lagi: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."(2-3)

Poinnya adalah bahwa Visi selalu mengandung janji berkat dan perlindungan. Inilah yang menjadi salah satu pendorong terbesar sehingga seseorang yang telah menerima satu visi akan membayar apa saja untuk mencapai visi tersebut. Jadi ada satu hal yang sangat kuat  dan merupakan penghiburan yang segar sepanjang jalan menuju perwujudan visi yaitu janji berkat dan pertolongan atau perlindungan ilahi sepanjang penrjalanan menuju perwujudan visi tersebut.

Mari kita baca lagi ayat 4: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.” Di sini kita lihat bahwa Abram taat dalam membayar konsekwensi visi. Memang visi selalu menuntut ketaatan. Tidak ada jalan kompromi atau negosiasi. Jalan satu-satunya adalah taat melakukan atau mengerjakannya.

Dalam ayat 5: “Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.” Jelas sekali ada pengorbanan yang besar dari Abram. Dia harus meninggalkan negeri leluhurnya dan membawa semua keluarga dan harta miliknya. Jadi harganya adalah keluar dari komunitas. Ini sering kali juga bicara tentang meninggalkan adat dan tabiat lama. Kadang-kadang juga bisa bicara tentang keluar dari pekerjaan kita yang sekarang. Banyak orang yang harus membanting setir karean mengikuti visi dan dicela oleh banyak orang. Jadi Pengorbanan adalah sahabat dekat sebuah visi.

Kita baca lagi ayat 6: “Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.” Tentu ada pengalaman pribadi dan Pengalaman pribadi adalah tantangan menuju wujud visi. Banyak hal yang akan kita alami termasuk tantangan dari lingkungan sekitar. Orang-orang atau komunitas kita dapat saja bereaksi negatif danitu adalah tantangannya.

Dua ayat kita baca: “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.” (7-8) Inilah inti dari pembahasan kita hari ini. Kekuatan sebuah visi terletak pada keintiman spiritual seseorang. Tanpa intimacy, visi tetap akan kabur dan tak akan pernah terwujud. Tanpa keintiman, maka visi akan tetap jauh dan hanya seperti fatamorgana.

Yang terakhir kita pelajari dari ayat9: “Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.” Bahwa untuk sampai pada puncak pencapaian sebuah visi, hanya akan dicapai melalui ketekunan. Tekun berarti juga tidak gampang menyerah.

Kamis, 18 April 2013

KUASA UCAPAN SYUKUR


KUASA UCAPAN SYUKUR (Sari Pati Kitab Mazmur)
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th


Hati yang bersyukur melalui ucapan kata-kata adalah suatu rahasia besar dari kebenaran mulia. Berabad-abad kebenaran ini telah dijelaskan dan diperkatakan oleh orang-orang hebat. Salah satunya adalah penulis Kitab Mazmur, Raja Daud.


Kebenaran pertama yang kita angkat, pintu gerbang pujian dan penyembahan adalah ucapan syukur. Hanya dengan hati yang bersyukur atas segala rahmat dan pertolongan Tuhan sebagai penyebab segala sesuatunya boleh ada. Dalam Mazmur  100:4 kita membaca: “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (Enter into his gates with thanksgiving, and into his courts with praise: be thankful unto him, and bless his name. KJV) 

Sekarang kita mengerti bahwa POLA PENYEMBAHAN dimulai dengan ucapan syukur baru kemudian puji-pujian. Ucapan syukur HARUS keluar dari mulut yang mengalir dari hati yang JUJUR. Dalam Mazmur  109:30 kita baca: “Aku hendak bersyukur sangat kepada TUHAN dengan mulutku, dan aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. DALAM Mazmur  119:7 kita membaca: "Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.”

Lalu mengemuka satu pertanyaan, MENGAPA KITA MENGUCAP SYUKUR?

  1. Karena Ucapan syukur adalah sebuah (salah satu) persembahan. Kita baca Mazmur  116:17: “Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN”. Kita diajarkan untuk memberi bukan? Kita rajin memberikan uang kita, tetapi kita sering lupa untuk memberikan salah satu persembahan penting lainnya yaitu ucapan syukur, perhatikan kata ucapan syukur. Itu artinya ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut dan mengalir dari perbendaharaan hati. Namun demikian dijelaskan bahwa ucapan syukur itu harus keluar dalam bentuk kata-kata verbal. Ucapan syukur tidak cukup di dalam hati, tetapi harus keluar sebagai suatu untaian kata-kata verbal. Bahkan para tuna rungu (bisu) sekalipun dapat merangkai kata-kata yang memang sulit kita mengerti. Tetapi sejatinya, para tuna rungu pun dapat mengucapkan syukur kepada Allah yang sekalipun mengijinkan kekuranang kepadanya.

  1. Karena Dia (TUHAN) sangat baik. Kita baca Mazmur  118:1 “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kebaikan dari orang yang paling baik sekalipun akan berakhir, namun kebaikan ALLAH kita tak pernah habis untuk selama-lamanya, maka kita harus mengucap syukur kepadaNya. KebaikanNya yang melebihi akal dan logika memaksa setiap mulut harus bersyukur kepadaNya.

  1. Karena Dia (TUHAN) menjawab doa kita. Kita membaca Mazmur  118:21 “Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.” Seringkali kita tidak mendapatkan jawaban doa, bukan karena kita kurang iman atau kurang percaya, tetapi karena kita lupa MENGUCAP SYUKUR. Atau yang paling logis adalah, kita tak mengucap syukur karena jawabanNya bukan sesuatu yang kita inginkan. Memang sangatlah logis, karena Tuhan tidak digerakkan oleh keinginan, tetapi kebutuhan. Bila doa kita didorong oleh keinginan, maka manusia akan jatuh kedalam dosa hawanafsu. Itulah sebabnya Tuhan hanya digerakkan oleh kebutuhan. Sudah menjadi pasti bahwa doa yang lahir dari hati yang sungguh mengharapkan Tuhan menjawab kebutuhan, akan mengalami ucapan syukur karena jawaban doa datang tapat pada waktuNya. Dalam Injil MARKUS 11:24 KITA BACA: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

JAWABAN doa karena dilandaskan pada iman memang sangat penting. Allah tidak kuasa untuk tidak menjawab kebutuhan umatNya. Namun demikian, hanya orang-orang yang mengucap syukurlah yang akan mengalami mukjizat sebanarnya. Orang-orang yang telah mendapatkan jawaban doa, namun hatinya tidak bersyukur, maka semua yang didapatnya menjadi tak bermakna kekal. Kita membaca kisa sepuluh orang yang disembuhkan Tuhan dari kusta dan  hanya satu orang yang kembali dengan ucapan syukur. Sembilan yang lain pergi tanpa berita dan mereka hilang tanpa berita, sementara yang satu lagi. Ia mengalami kesembuhan pisik dan hatinya mengalami pemulihan. Hati yang dilingkupi ucapan sykur akan menyempurnakan mukjizat. Kita membacanya dalam Lukas  17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

  1. Karena DIA (TUHAN) Mahaadil. Dalam Mazmur  119:62 tertulis: “Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Daud sebagai orang biasa, rakyat jelata yang tak terpandang. Namun demikian karena Allah adalah Mahaadil, maka Dia mengangkatnya menjadi raja yang mulia. Saat mengalami berbagai gejolak selama pemerintahannya sebagai Raja Israel, Daud tidak ditinggalkan. Saat anaknya berkhianat, Dau tetap ditolong. Dia adalah Tuhan yang tidak berpihak seperti manusia, Dia membela kaum marginal. Bacalah Mazmur  10:14 “Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.”

  1. Karena kasih setiaNya yang tak pernah habis untuk selama-lamanya. Kita baca Mazmur  136:2 “Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Manusia itu fana dan tanda kefanaannya adalah dari keterbatasan kasihnya. Manusia akan marah dan memutuskan untuk pergi, namun Allah tetap mengasihi bahkan saat dalam amarah dan murka yang menyala-nyala. Allah itu kasih adanya sehingga apapun tidak dapat membatasih kasihnya. Bahkan sebagai puncak dari kasihNya, Dia rela mati di kayu salip untuk menunjukkan kasihNya. Maka, sepantasnyalah hati kita mengucap syukur atas segala kasihNya.

  1. Karena Dia (Tuhan) menciptakan kita dengan dahsyat dan ajaib. Mari kita baca Mazmur  139:14 “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Tuhan adalah penjunan yang telah menenun kita didalam rahim ibu. Ia menjadikan kita sangat baik. Kalau kita melihat bagaimana proses kelahiran anak manusia yang luar biasa, maka hati kita pastilah terkagum. Dalam kekakguman itu, maka mulut kita menjadi penuh dengan ucapan syukur. Daud menulis dalam Mazmur  9:2 “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;” DIA MENENUN KITA laksan seorang menenun halai-helai kapas menjadi benang dan akhirnya menjadi selembar kain. Dalam Mazmur  139:13 tertulis kata-kata yang sangat indah: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”

Ada demikian banyak hal yang “memaksa” kita untuk mengucap sykur kepadaNya. Namun intinya adalah karena Dia semata-mata. Kita bersyukur buat mahakaryaNya. Kita bersyukur buat kasihnya yang kekal. Kita bersykur buat segala hal yang baik dari padaNya. Terpujilah Yesus Kristus, haleluyah, amin.

Rabu, 17 April 2013

KUASA KATA-KATA


KUASA PERKATAAN
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th

Firman Tuhan: “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42: 7)

Mengapakah murka Allah tertuju kepada sahabt-sahabat Ayub? Bukankah mereka telah memberikan waktu yang begitu banyak untuk menemani dan menghibur Ayub? Masalah yang utama sehingga Allah murka kepada  Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama adalah karena mereka berkata tidak benar tentang Allah. Sampai disini kita harus paham poin pentingnya, tidak berkata benar tentang Allah! Adalah sebuah kesalahan besar yang menyulut murka Allah jika kita tidak berkata benar tentang Dia.


Alkitab mengatakan bahwa TUHAN yang memberikan karunia menjadi Pengajar (Guru). “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,” (Efesus 4:11) Sehingga janganlah kita berlomba-lomba menjadi pengajar, sebab pertanggungjawabannya sangatlah berat. “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Apakah dengan demikian kita tidak boleh lagi berkata-kata? Tentu tidak. Kita tetap harus mengajar tentang Allah, tetapi yang penting kita pahami adalah, kita hanya boleh mengajarkan KEBENARAN.

Mengapa demikian pentingnya berkata-kata tentang kebenaran saja? Jawaban yang pertama adalah karena ada kuasa di balik perkataan. Dalam Alkitab ada 5016 ayat tentang kata. Ini sungguh jumlah yang sangat besar bila dibandingkan dengan kata kasih yang hanya 853 ayat saja. Kita tentu sangat terkejut karena manusia memang senang berkata-kata. Hampir 25 ribu kata disemburkan begitu saja dari mulut seorang perempuan normal selama satu hari. Coba kita pikirkan, ada berapa kata yang benar dan berapa sisanya yang salah? Alkitab mengatakan bahwa setiap kata-kata salah yang sia-sia harus kita pertanggungjawabkan. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Matius 12:36) Akhirnya kita mengerti mengapa murka Allah begitu menyala terhadap sahabat-sahabat Ayub. Karena mereka berkata salah tentang Allah dan itu memberikan dampak yang merusak terhadap keberadaan Ayub, sehingga setiap kata-kata sia-sia mereka bertiga itu haruslah di pertanggungjawabkan di hadapanNya.

Manusia memang senang bicara, namun manusia ini lebih senang berkata-kata salah. Bahkan dalam dunia peradilan yang diciptakan oleh manusia pun kita menemukan ketidakadilan di mana manusia bersilat kata dengan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.  Terlepas betapa tidak adilnya dunia peradilan, kita menemukan satu kebenaran dalam dunia peradilan yaitu setiap kesaksian yang keluar dari mulut seseorang memiliki kekuatan hukum. Kita mengenal kepolisian negara demokrasi, USA, yang selalu mengatakan: “Anda berhak diam, karena perkataan anda akan digunakan untuk melawan anda di pengadilan!” ketika menangkap seseorang karena melanggar hukum. Mengapa? Karena setiap perkataannya dapat dijadikan senjata untuk menjerat dia dalam hukum. Alkitab mengatakan bahwa: “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:37)

Setiap kata-kata kita dapat menjadi jerat yang membawa kita kepada penghakiman. “Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. (Lukas 19:22 a) sehingga seharusnya kita mengawasi mulut kita. Kita harus mengawasi lidah kita. Orang dunia pernah mengatakan bahwa lidah tidak bertulang, sehingga gampang saja menyemburkan kata, namun orang Kristen harus mengenakan kekang pada lidahnya sehingga lidahnya hanyalah mengeluarkan kata-kata yang benar saja. Sebab jikalau tidak, maka lidah yang tidak terkendalai akan menyemburkan kata-kata yang akan membakar saiapa saja yang mendengarkannya. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5)

Tadi kita sudah menjelaskan bahwa pengajar atau guru yang memang harus berkata-kata merupakan karunia dari TUHAN, sehingga sepatutnyalah dia hanya mengajarkan apa yang benar dari TUHAN. Namun sungguhlah manusia ini memang lahir dari benih dosa. Lihatlah kisah Ayub, bahkan mereka yang rohaniwan telah berkata-kata serong tentang Allah kepada Ayub sehingga Ayub mengalami guncangan. Allah murka kepada 3 rekan Ayub dan hendak mengganjar mereka, namun oleh karena kemurahan hatinya, Ayub berdoa agar murka Tuhan surut dan ampunanNya berlaku untuk ketiga sahabatnya itu.

Jadi apa yang akan kita simpulkan dari kebenaranNya kali ini? Paling tidak ada tiga hal:

1.      Marilah kita menggunakan mulut dan lidah kita untuk mengakui dan memperkatakan kebenaran FirmanNya. Sama seperti Maria yang berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38). Marilah kita sungguh-sungguh percaya akan setiap perkataan Firman Allah. Menerima dan mengaminkannya sehingga terjadi dalam hidup kita. Kunci utamanya adalah dengan percaya pada perkataan kebenaran. Sekalipun kita memperkatakan kebenaran, namun kita tidak percaya, maka kita sendang menipu diri kita sendiri atau kita sedang berlaku sebagai badut rohani yang suka bersandiwara. Kalau kita mengaku dengan mulut, kita akan diselamatkanNya pada hari penghakiman. “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:10) Jadi perhatikan betapa dahsyatnya kuasa di balik perkataan kebenaran.

2.      Marilah kita menjadi teladan dalam perkataan. “…; but be thou an example of the believers, in word, in conversation, in charity, in spirit, in faith, in purity.” (KJV 1 Timoty:4:12). Rasul Paulus mengingatkan agar sama seperti Timotius, kita juga harus menjadi contoh yang benar dalam perkataan. Jangan lagi kita asal bicara sehingga kita menyemburkan kata-kata yang sia-sia. Tetapi hendaklah kita mengeluarkan kata-kata yang benar saja. Kata-kata yang berpadanan dengan firmanNya. Seorang hamba Tuhan yang tak dapat dipegang perkataannya pasti tidak akan berhasil dalam pelayanan. Tinggal menunggu waktu saja untuk melihat seseorang rubuh dan hancur jika perkataannya tidak  dapat dipertanggungjawabkan.

3.      Terimalah dengan percaya bahwa perkataan kebenaran yang kita sampaikan, akan bekerja dan menjadi kenyataan. Maka akan ada sebuah kekuatan besar yang sedang bekerja di alam roh ketiak dengan sepenuh hati dan p[ercaya kita memperkatakan kebenaran. FirmanNya tidak akan kembali dengan sia-sia tetapi akan bekerja dan mengerjakan kebenaranitu menjadi mukjizat. Maria pernah berkata kepada malaikat yang memperkatakan kebenaran kepadanya: “Jadilah padaku seperti perkataanmu!” amin

Intisari bKhotbah Gembala Sidang, Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th  pada Ibadah Raya Minggu, 21 Mei 2006 di HN Ministries Chapter Induk Semper Jakarta Utara.

Selasa, 16 April 2013

KEBENARAN PERJAMUAN KUDUS yang MELAHIRKAN KUASA


KUASA dalam PERJAMUAN KUDUS
YOHANES 6:25-59

Perjamuan Suci atau sering kita sebut Perjamuan Kudus bukanlah hanya merupakan satu liturgi atau sakramen semata. Perjamuan Suci lebih dari sekedar sakramen. Perjamuan suci adalah satu langkah iman dan ketaatan yang menghasilkan kuasa yang sangat dahsyat. Perjamuan Suci adalah langkah persekutuan tubuh dan darah Kristus dengan orang percaya.


Peristiwa pasal 6 ini bermula dari Yesus membuat mukjizat dahsyat dengan memberikan makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Orang-orang terus menerus mencari untuk dapat bertemu dengan Yesus. Namun Yesus cukup mengerti motivasi mereka yaitu ingin mendapatkan “keuntungan” dari Yesus.  Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” (6:26)

Motivasi jasmaniah yang berorintasi hanya kepada kepuasan daging merupakan tindakan agamawi yang sia-sia. Sekalipun tindakan ini seringkali hampir tak terendus, namun Tuhan tahu karena Dia melihat hati. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan untuk mencapai targaet-target yang kelihatannya rohani, namun sejatinya adalah ambisi manusiawi yang kedagingan. Kadang-kadang bahkan secara terang-terangan orang memanfaatkan nama pelayanan untuk kepentingan komersial. Yesus berfirman: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (6:27)

Yesus mengetahui motivasi ini dan kita akan belajar tentang makanan yang tidak dapat binasa dan bertahan sampai kepada kehidupan yang kekal. "Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." (6:58).

Kita membaca dari terjemahan lain: “This is that bread which came down from heaven: not as your fathers did eat manna, and are dead: he that eateth of this bread shall live for ever.” (KJV) Yesus mengatakan bahwa Dialah roti hidup yang tidak akan binasa itu. Dia lebih dari manna yang telah diberikan Tuhan kepada nenek moyang mereka selama 40 tahun di padang gurun tetapi mereka telah mati semuanya. Yesus sedang membandingkan antara manna, roti dari sorga, 6:31 “Our fathers did eat manna in the desert; as it is written, He gave them bread from heaven to eat.” (KJV 6:31) yang hanya memberikan hidup sementara pada daging yang fana, dengan Roti Hidup yang memberikan kehidupan kekal. Yang pertama mengenyangkan jasmani tetapi yang ke dua memberi kehidupan yang kekal.

Lantas dengan cara bagaimanakah kita dapat memperoleh Roti Hidup itu? Yesus mengatakan begini: “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (6:55) (For my flesh is meat indeed, and my blood is drink indeed.-KJV). Yesus mengatakan bahwa dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahnya adalah benar-benar minuman. Jadi sesungguhnya Yesus sedang mengatakan bahwa roti dan anggur Perjamuan Suci adalah benar-benar makanan dan minuman yang akan memberikan kehidupan yang kekal. Sekali lagi harus di mengerti bahwa Yesus tidak merohanikan anggur dan roti itu tetapi benar-benar mengatakannya secara material. Roti dan anggur itu benar-benar makanan tetapi karena telah  menjadi tubuh dan darah Kristus, roti dan anggur itu memiliki kuasa.

Kita harus menaruh hormat pada roti dan anggur dalam peristiwa kebaktian perjamuan suci. Roti dan anggur itu telah menjadi tubuh dan darah Kristus saat kita masuk hadiratNya dalam seremonial ibadah perjamuan.Disinilah kunci supaya kita mengerti bahwa perjamuan suci adalah salah satu instrumen kuasa Allah. Dengan mengambil bagian dalam Perjamuan Suci kita sedang mengalirkan kuasa Allah dalam diri kita. yaitu kuasa yang mengalirkan kehidupan yang kekal. Kuasa yang mengalirkan berkat dankesembuhan ilahi. Kuasa yang mengalirkan penghibuarna dan kekuatan.

Daging dan darah Yesus bersifat  material yang nyata dapat di lihat dan di sentuh melalui roti dan anggur Perjamuan Suci: “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" ( 1 Korintus 11:23-25) Jadi kita dipanggil untuk mengenang pengorbanan Yesus yang telah menyerahkan tubuh dan darahNya sebagai penebus kita. Kita harus mengakui tubuh Kristus agar kita sembuh: “Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.” (1 Korintus 11:29-30). Sikap dan iman kita sangat menentukan apakah kuasa Perjamuan Suci akan mendatangkan kebaikan atau justru sebaliknya, Kuasa Perjamuan suci mendatangkan kelemahan. Alkitab mengajarkan bahwa jika kita bersikap benar dalam memasuki Perjamuan Suci maka kuasa kesembuhan akan mengalir dalam hidup kita. Roti dan Anggur Perjamuan Suci merupakan resep mukjizat dahsyat yang akan menyembuhkan penyakit daging kita yang fana ini.

Yesus Kristus berkata: “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (6:48-51) Jadi dengan ikut serta dengan sikap iman yang benar dalam sakramen Perjamuan Suci kita akan hidup dan tidak akan mati. Kita akan melihat kuasaNya mengalir dan menyembuhkan daging kita yang fana ini dari gerogotan sakit penyakit. Kesembuhan oleh kuasa bilur-bilur Kristus mengalir lewat perjamuan suci: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (1 Petrus 2:24)

(Intisari khotbah Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th dalam Ibadah Raya Bulan Baru Hati Nurani Ministries Chapter Induk Semper. Minggu, 1 Juli 2007)