Senin, 15 Desember 2014

ASAS-ASAS PENGAJARAN TENTANG DOSA



ASAS-ASAS PENGAJARAN TENTANG DOSA


I.                    ASAL MULA DAN BUKTI DOSA

A.      Asal mula dosa tidak begitu nyata

Dosa tidak berasal dari Allah. Allah itu kudus, dan Allah tidak dapat dicobai (Yakobus 1:13). Sebetulnya asal mula dosa tidak begitu nyata. Hanya di dalam Alkitab terdapat sedikit keterangan mengenai asal mula dosa itu. Mungkin di dalam Yohanes 9:3 Tuhan Yesus memberikan sedikit keterangan atas pertanyaan, "Mengapa Tuhan Allah membiarkan dosa masuk ke dunia", "Bukan dia (berbuat dosa) dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia". Dalam 2Tesalonika 2:7 dikatakan bahwa kedurhakaan itu bekerjanya secara rahasia, juga di dalam Wahyu 17:5; mengenai asal mula dosa memang membingungkan banyak orang.

"Beberapa orang yang tidak percaya telah menyalahkan Alkitab oleh sebab dosa dan kesusahan dalam dunia. Akan tetapi Alkitab tidak mengadakan tentang dosa, melainkan Alkitab memberikan bukti bahwa dosa sudah ada di dalam dunia. Jikalau Alkitab tidak ada maka persoalan dosa akan lebih membingungkan manusia. Sebetulnya kalau tidak ada Alkitab maka asal mula dosa tidak dapat diduga dan tidak dapat diterangkan. Manusia tidak boleh menyalahkan Allah dalam hal Ia telah membiarkan dosa masuk ke dalam dunia ini. Pengertian kita tidak akan menjadi lebih jelas kalau kita menolak Alkitab yang menerangkan bagaimana dosa telah masuk dunia ini." (Leander S. Keyser).

B.      Asal mula dosa adalah dari si Iblis

Alkitab menerangkan bahwa dosa asalnya dari suatu makhluk yang mempunyai kehendak bebas, yaitu si Iblis. Pada mulanya Iblis adalah seorang malaikat terang yang agung dan suci. Iblis telah memberontak serta mendurhaka kepada Allah, tetapi sebabnya kita tidak tahu. Hanya ada sedikit keterangan dalam Alkitab mengenai sebabnya dosa dalam diri si Iblis, yaitu kesombongan. Dosa berasal dari kehendak Iblis. Tuhan Allah telah menjadikan malaikat-malaikat dengan kehendak yang bebas, dan hal itu akan menjadi baik asal dipimpin dengan baik. Jadi rupanya dosa mulai ada ketika Iblis mendurhaka kepada Allah.

Dalam Yesaya 14:12-17 diterangkan bahwa Bintang Timur, putera Fajar, telah jatuh dari langit karena mendurhaka kepada Allah. Perhatikan perkataan "Aku hendak" yang diulangi lima kali, dan akhirnya "Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi!" (ayat Yesaya 14:14). Bandingkanlah hal itu dengan 2Tesalonika 2:4 di mana Antikristus, wakil Iblis, akan mengaku dirinya sebagai Allah. Juga dalam pasal Yehezkiel 28:1-26, di mana Nabi Yehezkiel menangisi atau meratapi Raja Soer itu, terdapat sedikit keterangan bahwa Iblis telah jatuh dari sebab kesombongannya (ayat Yehezkiel 28:17).

"Menurut penafsiran Alkitab secara umum, makhluk pertama yang dianugerahi kehendak bebas adalah malaikat-malaikat. Dan dengan demikian, maka asal mulanya dosa dalam alam ini disebabkan makhluk yang bebas kehendaknya, sebab kalau tidak, dosa tidak menjadi dosa, hanya suatu kesalahan atau nasib. Rupanya beberapa malaikat telah mulai iri terhadap kuasa Allah, dan tidak melawan iri hati itu, lalu mendurhaka kepada Allah. Itulah asal mula jatuhnya beberapa malaikat ke dalam dosa. Dosa mengubah mereka sehingga mereka menjadi setan dan roh-roh jahat. Yang menjadi penghulunya adalah Iblis, yang paling mendurhaka kepada Allah." Leander S. Keyser.

Jadi, rupanya dosa telah timbul di dalam Bintang Timur itu ketika kehendaknya menyimpang pada jalan yang salah, yaitu melawan Allah. Pada waktu beberapa malaikat berdosa, tidak semua malaikat ikut berdosa. Keadaan ini tidak sama dengan dosa Adam yang mendatangkan dosa ke atas segenap manusia.

C.      Asal mulanya dosa di dalam manusia

Semua orang dilahirkan di dalam dosa, yaitu mereka mempunyai sifat dosa. Semua orang telah berdosa. "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak" (Roma 3:10). Bagaimana hal ini terjadi? Alkitab memberikan jawaban atas persoalan itu. Dalam pasal Kejadian 3:1-24 diterangkan bagaimana dosa telah masuk ke dalam hati manusia. Dosa itu masuk karena empat hal:
  1. karena tertipu, 1Timotius 2:14 (TKB; FAYH; BIS)
  2. karena melanggar hukum Allah, Roma 5:19
  3. karena mendengar bujukan si ular, Kejadian 3:1-6 dan
  4. karena Iblis menggoda dan merusak, Wahyu 12:9 Sejak Iblis mendurhaka ia meneruskan niatnya yang jahat itu sampai sebatas yang diizinkan Allah. Oleh sebab itu kita tidak heran mendapati dia di dalam Taman Eden karena ia berusaha untuk menjatuhkan manusia. Nyata kepada kita bahwa dalam hal ini jatuhnya Bintang Timur ke dalam dosa sama dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, keduanya jatuh melalui kebebasan kehendak mereka sendiri, mereka salah memilih melawan hukum Allah yang mereka ketahui.

D.      Dosa memang ada

Dosa memang ada di dalam dunia; ini merupakan kenyataan dan sangat hebat. Hanya ada tiga bukti yang akan kita perhatikan:
  1. Alkitab menerangkan dengan jelas sekali bahwa dosa memang ada. Banyak ayat yang membuktikan hal itu tetapi kami hanya menyebutkan tiga: Yohanes 1:29; Roma 3:23; Galatia 3:22.
  2. Kesaksian manusia. Kesaksian manusia atas bukti dosa:
    1. telah dimasukkan dalam undang-undang negara-negara,
    2. telah diakui di dalam tiap-tiap agama, meskipun dalam agama yang salah.
    3. telah diakui oleh ahli-ahli filsafat dari berbagai negara.
  3. Kesaksian dari hati nurani manusia. Hati nurani manusia menyaksikan adanya dosa. Tiap-tiap orang tahu bahwa ia berdosa. Tidak ada seorang dewasa yang tidak menyadari bahwa dirinya berdosa. Hati nurani telah menempelak semua anak-anak Adam. Akibat dosa yang hebat telah nyata dalam tubuh dan pikiran manusia, dan dalam hal semua manusia telah terjerumus ke dalam dosa.

E.       Beberapa persoalan tentang dosa

Jikalau dosa tidak dibiarkan dalam dunia ini bagaimanakah manusia dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah? Sebab ada dosa, manusia di dalam dunia ini dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah dan keberaniannya untuk melawan dosa itu. Ini bukan berarti bahwa dosa adalah suatu hal yang baik, melainkan hal yang jahat yang dipakai oleh Allah untuk menguji manusia; dan manusia perlu diuji supaya ia dapat menunjukkan kasihnya kepada Allah. Seandainya saudara memiliki sebuah alat listrik yang dapat diputar sehingga segala dosa dan kesusahan dan penyakit dalam dunia ini dilenyapkan, apakah yang akan saudara perbuat, apakah saudara akan memutar alat itu atau tidak? Kalau saya, saya tidak akan memutar alat itu sebab Allah tidak memutarnya. Dosa ialah mendurhakai Allah, tetapi dosa yang terbesar ialah tidak percaya (menolak) Yesus Kristus.

Perhatikan bahwa manusia memiliki kuasa untuk menentukan kehendaknya, yaitu kuasa untuk memilih yang baik atau yang jahat. Hal ini nyata pada waktu Tuhan Yesus memanggil orang-orang yang menangkap ikan, memanggil Zakheus, perempuan Samaria, orang muda yang kaya, orang-orang Farisi dll. Didalam membawa jiwa kepada Tuhan Yesus, sebaiknya kita mengemukakan kepada orang itu kenyataan bahwa ia berdosa, lalu tunjukkan kepadanya keselamatan dari dosa dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

II.                  KEADAAN DAN CARA BEKERJANYA DOSA

A.      Hal yang bukan dosa

Dosa bukan kemalangan yang kebetulan terjadi. Alkitab menyatakan bahwa dosa telah terjadi oleh kehendak Adam, dan dosa itu ditanggungkan kepadanya (Roma 5:19). Hal ini terbukti bahwa Tuhan Allah telah menyediakan korban penebusan dosa sebelum dunia ini dijadikan (1Petrus 1:19,20).

Dosa bukan suatu penyakit atau kelemahan yang oleh sebab hal itu manusia tidak disalahkan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa manusia harus menanggung akibat karena dosanya. Kalau dosa itu hanya suatu penyakit, tentu manusia tidak boleh dihukum karena dosa itu. Firman Tuhan menanggungkan kesalahan orang-orang berdosa ke atas diri mereka sendiri (Yehezkiel 18:4).

Dosa bukan sesuatu yang diada-adakan. Dosa bukan hanya berarti tidak ada kebenaran. Dosa adalah perlawanan atau kedurhakaan yang pasti terhadap Allah (Mazmur 51:6). Dosa bukan suatu kemajuan dalam hal tahu yang baik dan yang jahat seperti yang dikatakan oleh si ular.

Dosa bukan suatu hal yang harus dilakukan oleh seseorang karena ia tidak dapat menolaknya. Alkitab menerangkan kepada kita bahwa darah Yesus Kristus dapat menyucikan kita dari segala dosa (1Yohanes 1:7). Tuhan Allah telah menyediakan jalan dalam Injil itu supaya manusia dapat memilih yang benar dan dapat melepaskan dirinya dari dosa. Kuasa Allah yang menyertai kita akan menolong kita untuk memilih Yesus Kristus yang dapat mengalahkan dosa di dalam kita.

B.      Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Lama mengenai dosa

Di dalam Imamat 16:21 terdapat tiga perkataan untuk dosa, yaitu dosa, pelanggaran dan kesalahan.
  1. Dosa. Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti "tidak kena" atau "tidak sampai". Ini dapat dihubungkan dengan anak panah yang "tidak kena" sasarannya. Dosa dalam perkataan ini berarti tidak kena, tidak sampai, atau menyimpang dari tujuan dan maksud Allah. Dalam perkataan ini termasuk bukan saja perbuatan-perbuatan dosa, tetapi juga keadaan hati dan maksud hati yang berdosa. Lihat Kejadian 4:7; Keluaran 9:27; Bilangan 6:11; Mazmur 51:4,6; Amsal 8:36.
  2. Durhaka (TKB), pelanggaran/pemberontakan (LAI). Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti melawan yang berhak, yaitu melawan perintah Allah, dan melakukan bidat, Mazmur 51:3; Amsal 28:2.
  3. Kejahatan (TKB), kesalahan/kedurjanaan (LAI). Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti "bengkok" atau "diputar". Ini berarti hati yang bengkok, yang diputar dari yang benar. Perkataan ini tidak terlalu mengenai perbuatan jahat, melainkan berkenaan dengan hati dan tabiat yang jahat (Kejadian 15:16; Mazmur 32:5; Yesaya 5:18). Ada juga beberapa perkataan yang lain untuk dosa, seperti: pendurhakaan, kejahatan, pelanggaran karena ketidaktahuan, penyimpangan, kebencian, kenakalan, dll. Kejadian 41:9; Imamat 4:13; Yehezkiel 34:6; Mazmur 119:21; Imamat 19:17; Mazmur 94:20.

C.      Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Baru untuk dosa

  1. Dosa (harmatia). Mengherankan bahwa perkataan yang paling umum untuk dosa dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berarti "tidak mengenai sasaran". Perkataan ini ditulis 174 kali, 71 kali ada di dalam surat-surat Rasul Paulus. Perkataan ini bukan hanya mengenai perbuatan dosa, melainkan juga keadaan hati dan pikiran yang jahat. Perkataan ini berarti manusia ada dalam keadaan ditipu, Roma 3:23.
  2. Pelanggaran (parabasis). Perkataan ini berarti menyimpang dari yang seharusnya. Perkataan ini selalu dipakai dalam hal pelanggaran terhadap hukum yang pasti, Roma 4:15. Hukum-hukum Allah menuntut supaya manusia mentaatinya, dan bilamana manusia tidak mau mentaatinya, berarti ia adalah pelanggar hukum dan berdosa, dan murka Allah akan jatuh ke atas dia, Roma 4:15.
  3. Kejahatan (adikia). Perkataan ini sama artinya dengan perkataan yang diterangkan pada no.3 dalam daftar Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Lama. Dalam 1Yohanes 1:9 diterjemahkan "kejahatan", juga dalam 1Yohanes 5:17 diterjemahkan "kejahatan". Perkataan ini menunjukkan suatu keadaan hati dan pikiran. Oleh sebab itu Yohanes berkata bahwa dosa-dosa kita diampuni dan kita dan kita disucikan dari kejahatan.
  4. Durhaka (anomia). Kata ini dapat kita jumpai di dalam Alkitab terjemahan Bode (TKB). Perkataan ini juga terdapat dalam 1Yohanes 3:4 (TKB). Perkataan ini bukan berarti melanggar hukum dalam suatu perbuatan yang pasti, melainkan dalam hal tidak menuruti atau tidak memperdulikan hukum itu. Ini menerangkan tentang keadaan hati.
  5. Kefasikan (asebeia). Ini berarti keadaan fasik, yaitu tidak ber-Tuhan. Kata ini mengandung arti bahwa tabiatnya berlawanan dengan tabiat Allah, Roma 1:18; Yudas 1:14,15.
  6. Kesalahan (paraptoma). Perkataan ini berarti, "tidak berdiri teguh pada saat harus teguh", "tidak sampai kepada yang seharusnya," Matius 6:14,15; Galatia 6:1 (TKB); Yakobus 5:16 (TKB). Dari keterangan-keterangan di atas nyata bahwa dosa ialah perbuatan-perbuatan yang pasti dan juga suatu keadaan hati. Ada dosa yang disebabkan tidak melakukan yang patut dilakukan, dan ada dosa yang dilakukan dengan pasti seperti melanggar hukum. Oleh sebab itu kita memerlukan korban pendamaian Yesus Kristus bagi keadaan kita dan karena perbuatan-perbuatan kita.

Dalam Perjanjian Baru ada banyak kata lain yang di pakai untuk menyatakan dosa, misalnya: kefasikan, kelaliman, keinginan jahat, kecemaran, loba, dendam, kedengkian, pembunuhan, perkelahian, tipu daya, khianat, penghasut, pengumpat, kebencian, kemabukan, takabur, hawa nafsu, zinah, cemburu, menyembah berhala, percederaan, dan lain-lain.

D.      Keterangan Alkitab tentang dosa

  1. Roh Kudus menginsyafkan dunia "akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku" (Yohanes 16:8,9). Menolak Yesus Kristus adalah dosa yang terbesar.
  2. "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Tidak melakukan apa yang patut dilakukan adalah dosa.
  3. "Dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1Yohanes 3:4). Ini adalah dosa yang pasti dilakukan.
  4. "Semua kejahatan adalah dosa" (1Yohanes 5:17). Dalam hal ini termasuk perbuatan dosa dan keadaan hati yang berdosa.
  5. "Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa" (Roma 14:23). Kurang beriman adalah dosa. Berdasarkan keterangan itu, maka tiap-tiap orang berdosa telah melanggar Firman Tuhan. Bacalah ayat-ayat tentang dosa yang berikut dalam Amsal 21:4; 24:9.

E.       Keterangan asas pengajaran Kristen mengenai dosa

  1. "Dosa ialah tidak mentaati atau melanggar hukum Allah" (Westminster Catechism).
  2. "Dosa ialah tidak mentaati hukum Allah, dalam hal perbuatan, pikiran, atau keadaan" (Dr. A.H. Strong).
F.       Pertanyaan-pertanyaan mengenai dosa

Apakah alat dosa yang terbesar? Pengkhotbah 5:5; Yakobus 3:1-12. Di manakah dosa bercokol di dalam diri manusia? Amsal 4:23; Yeremia 17:9; Matius 5:28. Hati manusia adalah tempat bercokolnya dosa, tetapi tiap-tiap perbuatan dosa adalah pekerjaan kehendak manusia. Seorang pun tidak ada yang dapat mengatakan bahwa ia telah mentaati sebagian besar hukum-hukum Allah, oleh sebab itu ia patut dimaafkan bila melanggar yang lainnya; orang itu tetap bersalah terhadap seluruhnya, Yakobus 2:10.

III.                AKIBAT DOSA

A.      Akibat dosa di dalam sorga dan di udara

Dosa dan jatuhnya Iblis serta malaikatnya ke dalam dosa telah membawa beberapa akibat di dalam sorga dan di udara. Oleh sebab dosa maka sorga perlu disucikan, dan hal itu digenapkan di dalam darah Kristus (Ibrani 9:23,24). Yesus Kristus sendiri telah masuk ke dalam sorga yang benar. Rupanya di situlah tempat Iblis dahulu mendurhaka, dan dari situ pula Iblis telah dicampakkan. Sejak saat itu tempat bergerak Iblis adalah di udara, yaitu di bawah sorga. Iblis dan setannya menguasai udara dan dari situ mereka menyerang semua saleh Tuhan (Efesus 1:3; 2:6; 6:11,12). Akan datang kelak suatu hari bilamana Iblis dan para setannya akan dilemparkan ke bumi dan sejak saat itu ia hanya akan bergerak di bumi ini saja (Wahyu 12:7-12). Hal ini akan terjadi pada waktu Antikristus memerintah serta menipu dunia ini.

B.      Akibat dosa di dalam dunia ini

Dosa dan jatuhnya Adam dan Hawa telah mendatangkan akibat-akibat di dalam dunia ini. Tanah dikutuk oleh sebab dosa manusia (Kejadian 3:17,18). Selama Kerajaan Tuhan seribu tahun nanti, kutuk ini akan dicabut (Yesaya 55:13). Dosa manusia membawa akibat pada dunia binatang. Ular juga dikutuk. Sejak terjadi air bah, hubungan manusia dan binatang menjadi hubungan ketakutan, binatang menjadi takut kepada manusia (Kejadian 9:2). Hal itu berlainan sekali dengan keadaan dalam Taman Eden sebelum manusia berdosa. Akibat dosa binatang-binatang menjadi liar. Hal ini jelas karena nanti pada masa Kerajaan seribu Tahun, binatang-binatang tidak menjadi liar lagi (Yesaya 11:6-9). Sebenarnya oleh sebab dosa dan jatuhnya manusia maka "segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin ... sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita" (Roma 8:19-23).

Di dalam ayat-ayat Rasul Paulus telah menyatakan hubungan yang erat antara manusia dan binatang. Dosa manusia telah membawa binatang ke dalam "perhambaan kebinasaan", tetapi penebusan yang sempurna bagi manusia akan membawa kelepasan kepada binatang juga (ayat Roma 8:21). Pada masa Kerajaan Tuhan seribu tahun nanti segenap bumi dan isinya akan diperbaiki. Pada waktu itu Iblis akan dibelenggu. Terlebih lagi, bila tiba masanya langit baru dan bumi baru, maka segala sesuatu akan disempurnakan dan tidak akan ada dosa lagi, dan Iblis dan setan-setannya dilemparkan ke dalam lautan api. Pada waktu itu tidak akan ada lagi air mata, perkabungan, ratap tangis, dukacita dan maut sekalipun (Wahyu 21:1-5).

C.      Akibat dosa bagi segenap manusia

Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa ia mempunyai hubungan yang sempurna dengan Allah. Setelah ia berdosa maka hubungannya dengan Allah putus; ia sudah melanggar hukum Allah; dan hubungannya dengan sesama manusia menjadi kacau. Dosa adalah mendurhaka kepada Allah (1Samuel 15:23) atau tidak mengasihi Allah dengan segenap hati (Ulangan 6:5; Markus 12:30). Adam sudah bersalah dalam kedua hal itu. Dosa juga berarti melanggar hukum Allah dengan sengaja (Bilangan 15:30; Mazmur 19:13), atau melanggar hukum itu sebab tidak mengetahuinya (Bilangan 15:27; Ibrani 9:7).

Adam tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak tahu hukum Allah, dan meskipun ia tidak mengetahuinya, ia tidak dapat berdalih. Dosa Adam adalah sengaja melanggar hukum Allah yang pasti, yang sudah diketahuinya. Dosa adalah juga kesalahan kepada sesama manusia (Imamat 19:18; Markus 12:31). Dosa merusak hubungan antara sesama manusia, oleh sebab itulah anak sulung Adam dan Hawa tidak mengasihi adiknya seperti ia mengasihi dirinya sendiri, ia telah membenci serta membunuh adiknya. Nyata benar bahwa manusia sudah mutlak jatuh ke dalam dosa. Dosa sudah menguasai segenap diri manusia - baik roh, jiwa, maupun badan.

  1. Roh manusia telah kehilangan hubungannya dengan Allah. Manusia telah jauh dari hidup persekutuan dengan Allah (Efesus 4:18). Sekarang manusia tidak tahu tentang perkara-perkara Allah sebab manusia hanya berada di tingkat jasmani (1Korintus 2:14). Manusia harus dilahirkan kembali agar dapat melihat Kerajaan Allah (Yohanes 3:3).
  2. Jiwa manusia telah dicemarkan. Pengertiannya menjadi gelap sebab dosa. Hatinya penipu (Yeremia 17:9). Pikiran hati manusia adalah jahat (Kejadian 6:5,12; 8:21; Mazmur 94:11; Roma 7:18).
  3. Tubuh manusia menjadi fana dan takluk pada kematian (Roma 8:11).

Dengan demikian jelas bahwa oleh sebab dosa dan oleh sebab melawan Allah, roh manusia telah dipisahkan dari Allah, pikirannya menjadi gelap dan bodoh, tubuhnya bisa diserang penyakit serta takluk pada kematian. Manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri dan tidak berpengharapan sebab ia berdosa. Manusia telah TERHILANG!

Dosa ditanggungkan ke atas manusia. Tuhan telah menanggungkan dosa ke atas manusia. Hal ini patut dibedakan dengan hukuman dosa. Tanggungan dosa artinya manusia insaf bahwa dirinya harus menanggung dosanya dan patut dihukum. Hukuman dosa yaitu hukuman yang datang sesudah dosa dilakukan, baik hukuman yang memang mengikuti dosa itu ataupun hukuman yang pasti dari Allah atas dosa itu.

Alkitab menyatakan bahwa orang berdosa adalah hamba dosa (Roma 6:17; 7:5,14), dalam keadaan mati (Efesus 2:1). Bagaimana dosa telah mengubah tingkah laku manusia dan Allah? (Lihat Galatia 3:10; Efesus 2:3). Siapakah yang lebih dahulu berusaha untuk mengadakan penebusan itu? (Lihat 2Korintus 5:18-21). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka pusat kehidupannya bukan lagi Allah, melainkan diri sendiri. Boleh jadi itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus menuntut supaya kita menyangkal diri serta mengangkat salib dan mengikut Dia (Matius 16:24).

"Keadaan berdosa lebih ditujukan kepada oknum yang berdosa itu, bukan kepada perbuatan dosanya. Keadaan berdosa tidak menyatakan perbuatan orang berdosa melainkan menyatakan tingkah laku batinnya. Perbuatan dosa merupakan akibat dari keadaan berdosa di dalam batin; perbuatan dosa berasal dari perangai yang dinajiskan oleh dosa. Perangai yang dinajiskan oleh dosa lebih jahat daripada perbuatan dosa. Begitulah dosa dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Bilamana hati nurani dilawan dengan melanggar kehendak Allah, maka pikiran orang itu digelapkan dan kehendaknya dilemahkan ... Pada permulaannya seseorang bertobat oleh sebab kelakuan-kelakuannya, tetapi sesudah ia bertumbuh ia akan bertobat oleh sebab keadaan hatinya atau keadaannya yang berdosa. Mula-mula ia berpikir bahwa ia harus memperbaiki banyak hal, tetapi bilamana ia telah sungguh-sungguh menginsafi dirinya sendiri, barulah ia merasakan bahwa dirinya perlu dilahirkan kembali." (James Denney).
Dosa mendatangkan kematian - kematian tubuh, jiwa dan roh. Kematian roh membuka jalan bagi penyembahan berhala, kesombongan, hawa nafsu, dan segala kefasikan. Kematian kekal ialah kematian roh yang sudah ditentukan untuk selama-lamanya, dan ia keadaan berdosa serta tidak percaya yang kekal. "Alkitab mengajarkan bahwa kematian yaitu hukuman yang kekal untuk roh; roh kehilangan segala sukacita dan diceraikan dari Allah, dan akan mendapat hukuman Allah yang pasti atas dosa-dosanya oleh karena murka-Nya. "Dosa adalah keadaan durhaka", yang dimaksudkan ialah perbuatan dosa. "Upah dosa ialah maut, maksudnya adalah hukuman untuk dosa." (Watson).

D.      Hukuman Dosa

Hukuman dosa tidak lain daripada tindakan Allah terhadap dosa, karena kesucian-Nya. Hukuman ialah kesusahan atau kesakitan yang diberikan oleh yang memberi hukuman kepada orang yang telah melanggar hukum itu. Maksud yang terutama dari hukuman dari dosa bukan untuk memperbaiki orang yang dihukum, dan bukan untuk menakut-nakuti orang-orang supaya jangan berbuat dosa, melainkan supaya kesucian Allah dibenarkan.

E.       Hukuman dosa bukan hanya akibat langsung dari perbuatan dosa itu

Hukuman yang merupakan akibat langsung bagi orang berdosa berarti hukuman yang menimpa tubuh, jiwa, dan roh orang berdosa pada waktu sekarang. Umpamanya, seorang bapa telah melarang anaknya memanjat pohon untuk mencegah agar anaknya tidak jatuh. Tetapi anak itu tetap naik juga. Kemudian ia jatuh dan patah lengannya. Sesudah anak itu sembuh bapanya memberi hukuman kepadanya. Hukuman sebagai akibat langsung yaitu patah lengan, dan hukuman yang sudah ditentukan sebagai undang-undang ialah hukuman dari bapanya. "Hukuman yang langsung sebagai akibat dari perbuatan dosa merupakan sebagian dari hukuman dosa, tetapi bukan merupakan hukuman yang pasti. Di dalam tiap-tiap hukuman terdapat juga murka Allah ... Orang yang berpikir bahwa hanya ada hukuman langsung sebagai akibat dari perbuatan dosanya, maka orang itu lupa bahwa Allah berada dalam alam ini, dan Ia berkuasa atas segala-galanya; dan kalau seseorang jatuh dalam tangan Allah yang hidup (Ibrani 10:31), maka ia berarti jatuh ke dalam tangan Dia yang telah memberi hukum-hukum itu." (Farr).

F.       Hukuman dosa bukan berarti bahwa roh dan jiwa lenyap

Semua roh manusia akan hidup selama-lamanya walaupun ia tidak mengenal Yesus Kristus. Itu berarti bukan hanya orang yang percaya kepada Kristus yang akan hidup selama-lamanya, dan orang yang tidak percaya akan lenyap, melainkan semuanya kekal. Perkataan yang diterjemahkan dengan arti "tidak binasa" ditulis enam kali di dalam Perjanjian Baru. Tiga kali perkataan itu berarti "tidak binasa" (Roma 2:7; 1Timotius 1:17 TKB; 2Timotius 1:10), dan tiga kali berarti "tidak ada kematian" (1Korintus 15:53,54; 1Timotius 6:16). Di dalam Perjanjian Baru bila perkataan "binasa" dipakai, hal itu bukan berarti benda atau orang itu dilenyapkan; hal itu dapat diartikan dengan "sudah rusak", atau lebih dalam berarti "tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semula". Misalnya, dalam Matius 9:17 terdapat perkataan "dan kirbat itu juga binasalah" (TKB; 'dan kantong itupun hancur' LAI). Itu bukan berarti kantong kulit itu dilenyapkan, melainkan tidak dapat di pakai lagi untuk maksud yang semula. Ini nyata juga dalam Matius 26:8 di mana kata yang sama dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan "pemborosan". Perkataan "binasa" dengan arti yang di sebut di atas dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menyatakan keadaan orang-orang yang menolak Yesus Kristus serta tidak bertobat, lihat Matius 7:13; Filipi 1:28; 1Timotius 6:9; Ibrani 10:39. Jelas bahwa hukuman dosa (kebinasaan) bukan berarti roh atau jiwa dilenyapkan, melainkan hidup selama-lamanya dalam keadaan binasa dan dihukum.

G.     Hukuman yang kekal dan pasti bagi orang berdosa

Hukum yang pasti berarti hukuman akibat bagi orang berdosa, yaitu hukuman kekal yang diberikan oleh Tuhan. Hukuman itu dinyatakan dalam Alkitab dengan beberapa perkataan seperti berikut: "Bangkit untuk dihukum" Yohanes 5:28,29. "Murka dan geram; penderitaan dan kesesakan" Roma 2:8,9. "Lautan api "Wahyu 20:15. "Siksaan api kekal" Yudas 1:7. "Api yang kekal" Matius 25:41. "Lautan api yang menyala-nyala oleh api" Wahyu 19:20. "Kematian yang kedua" Wahyu 21:8. "Neraka" 2Petrus 2:4. "Kebinasaan selama-lamanya" 2Tesalonika 1:9. Semua perkataan diatas hanya satu artinya, yaitu hukuman bagi orang berdosa yang tidak bertobat. Akan tetapi hukuman yang kekal di dalam Alkitab sering disebut "Kematian" dan "Kebinasaan". Oleh sebab itu kalau kita dapat mengerti arti kedua perkataan itu (sebagaimana dipakai dalam Alkitab) tentu kita dapat mengerti hukuman kekal.

1.       Kematian. Mengenai kematian sudah diterangkan dalam pasal sebelumnya. Kematian jasmani disebut dalam Yohanes 11:14; Kisah 2:24; Roma 8:38. Kematian Rohani disebut dalam Lukas 15:24; Yohanes 5:24; 8:51; Roma 8:13; Efesus 2:1; 1Timotius 5:6 dan Wahyu 3:1. Kematian kekal disebut dalam Matius 10:28; 25:41,46; 2Tesalonika 1:9; Wahyu 4:11.

Kematian yang kekal mempunyai arti lebih daripada tinggal tetap selama-lamanya dalam keadaan mati rohani. Kematian kekal juga disebut "Kematian yang kedua" Wahyu 2:11; 20:6,14,15; 21:8. Dalam Wahyu 20:10 disebutkan suatu "lautan api" yaitu tempat di mana orang-orang disiksa siang malam tak ada hentinya, sebab ketika Iblis dilemparkan ke tempat itu, "binatang dan nabi palsu" itu sudah ada di sana seribu tahun lamanya, disiksa siang malam. Oleh sebab itu kematian yang kedua adalah suatu tempat siksaan yang tidak ada akhirnya; tempat itu adalah tempat siksaan yang nyata dan dapat dirasakan. "Dalam Alkitab dijelaskan bahwa kehidupan itu yang dimaksud bukan hanya bergerak secara jasmani saja, melainkan hidup didalam kebenaran dengan mengenal Allah, yaitu hidup beserta Kristus. Jadi, kematian itu bukan suatu keadaan tidak ada, dihapuskan atau dilenyapkan, melainkan berada dalam keadaan yang salah, keji, hina dan mengikuti Iblis." -Dr. Torrey (Lihat Wahyu 21:8).

2.       Kebinasaan.  Sudah diterangkan bahwa "binasa" berarti "rusak" yaitu tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semestinya (Matius 9:17; 26:8). Akan tetapi "kebinasaan" juga dipakai dalam Alkitab untuk menerangkan hukuman yang pasti bagi orang yang berdosa. Kalau kita menyelidiki dan membandingkan Wahyu 17:8,11; 2Petrus 3:16; Filipi 3:19; 2Petrus 3:7 dengan Wahyu 19:20 dan Wahyu 20:10, maka nyata kepada kita bahwa "kebinasaan" berarti keadaan makhluk-makhluk yang disiksa dengan tidak ada akhirnya, dan keadaan itu diinsafi oleh orang yang disiksa. Telah dijelaskan dalam Wahyu 14:10,11; Matius 25:41; 2Tesalonika 1:9,10 bahwa siksaan itu tidak berhenti siang dan malam, sampai selama-lamanya. Perhatikanlah cerita tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31). Banyak orang menganggap cerita ini sebagai perumpamaan, tetapi Tuhan Yesus tidak menyebut perumpamaan dalam cerita itu. Rupanya hal-hal berikut ini merupakan keadaan yang akan terjadi. Perhatikanlah bahwa orang kaya itu:
  1. masih dapat mengingat (Lukas 16:25),
  2. ia menyesal (Lukas 16:24),
  3. ia disiksa (Lukas 16:24),
  4. ia masih mempunyai perasaan sayang terhadap saudara-saudaranya (Lukas 16:28),
  5. ia dapat melihat Lazarus yang senang (Lukas 16:25),
  6. ia memohon kasihan dan kelepasan (Lukas 16:25 dan Lukas 16:26),
  7. ada jurang yang tak terseberangi antara saleh-saleh Tuhan dan orang-orang jahat (Lukas 16:26). Jelaslah bahwa siksaan bagi orang-orang yang tidak bertobat dan tidak percaya akan Tuhan Yesus Kristus adalah siksaan yang tidak ada akhirnya. Siksaan itu dahsyat sekali.
H.     Di manakah orang-orang akan tinggal sepanjang masa kekekalannya ?

Jawaban untuk pertanyaan itu ada di dalam kehendak pribadi masing-masing. Satu hal yang nyata dari Alkitab ialah persoalan itu harus dipastikan dalam kehidupan sekarang ini. Lihat Lukas 16:26; Yohanes 5:28,29; 8:21,24; Ibrani 9:27.

I.        Ringkasan tentang hukuman yang kekal

Akibat orang berdosa yaitu siksaan yang kekal. Siksa itu dinyatakan dengan perkataan-perkataan "murka", "geram", "siksaan" dan "hukuman kebinasaan" dalam ayat-ayat yang berikut: Roma 2:8,9; Yudas 1:7; 2Tesalonika 1:9.

Hukuman dan siksaan itu kekal. Dalam Alkitab perkataan "selama-lamanya" sering dipakai. "Perkataan itu dipakai dalam menyatakan kehidupan Kristus (Yoh 12:34); Roh Kudus yang tetap tinggal di antara kaum-Nya (Yohanes 14:16); pekerjaan Imam Kristus (Ibrani 7:1-28); Firman Allah (1Pet 1:23); kebenaran orang percaya (2Kor 9:9). Perkataan itu juga dipakai untuk menyatakan akibat orang-orang berdosa (Yudas 1:13; 2Petrus 2:17). Dalam ayat-ayat itu tidak disebutkan bahwa ada suatu tempat yang menunjukkan bahwa keadaan di situ tidak sampai "selama-lamanya" (F.W. Grant).

J.        Tempat hukuman yang kekal

Tempat hukuman yang kekal ialah neraka, (Markus 9:43-48). Api neraka disediakan khusus untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya (Matius 25:41). Api itu adalah api yang sungguh-sungguh, lihat Matius 7:19; Yohanes 15:6; Yes 66:24; Ibrani 6:8; 10:26,27; Wahyu 20:15; 21:8; Mat 13:30,41,42. Tuhan Allah merindukan supaya semua manusia diselamatkan, dan hal itu dibuktikan tatkala Ia mengutus Anak-Nya ke Golgota. Tuhan tidak mau seorang pun binasa (2Petrus 3:9), dan Tuhan telah menyediakan tebusan supaya jangan ada manusia yang binasa. Akan tetapi kalau manusia sengaja mengikuti Iblis tak dapat tidak ia akan menuju ke tempat yang disediakan untuk Iblis itu.

Rupanya ada perbedaan tingkat hukuman dalam tempat itu (Luk 12:47,48; Roma 2:2-16). Tetapi ayat-ayat ini bukan berarti bahwa ada beberapa orang tidak akan dihukum, sebab semua orang telah berdosa dan melanggar terang yang ada padanya. Maksud kami dalam mengemukakan hal ini ialah untuk menerangkan bahwa hukum-hukum Allah adalah adil. Tiap-tiap orang dihukum sesuai dengan perbuatannya (Wahyu 20:12).

Tempat hukuman yang kekal ialah di dalam lautan api, dan orang yang disiksa di dalamnya dapat merasakan dan menginsafi siksaan itu. Di dalam Lukas 16:19-31 dikatakan bahwa orang-orang jahat terus masuk ke tempat siksaan sesaat sesudah mati. Mereka itu akan dipanggil dan dibangkitkan dari tempat itu untuk menghadap takhta Allah (takhta putih yang besar) pada kebangkitan yang ke dua (Yohanes 5:28,29; Wahyu 20:11-15). Pengadilan itu bukan untuk orang yang percaya kepada Kristus, sebab mereka telah masuk dalam kebangkitan yang pertama (Wahyu 20:4; 1Tesalonika 4:14-17) dan mereka itu tidak akan kena hukuman lagi (Yohanes 5:24).

Hukuman yang kekal itu dinamakan kematian yang kedua. Kematian yang pertama bukan berarti jiwa dan roh dihapuskan, dan begitu pula dalam kematian yang kedua (Wahyu 20:14; 21:8).

K.      Masih adakah kesempatan bagi orang-orang yang sudah mau mendengar tentang keselamatan Yesus Kristus?

Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menawarkan hal itu. Dan semua orang telah memiliki terang yang cukup untuk dapat menghukumkan dia kalau terang itu tidak ditaatinya. Lihat Yohanes 14:6; Kisah 4:12; Roma 2:12-16.

"Akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang menolak keselamatan di dalam Yesus Kristus yang ditawarkan kepadanya yaitu siksaan yang dirasakan dan dialami tanpa ada akhirnya. Ini merupakan sesuatu yang dahsyat sekali, tetapi sesuai dengan isi Alkitab. Betapa hebatnya dosa menolak rahmat Allah yang telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Juruselamat kita. Orang yang tidak menginsyafi akan hebatnya dosa, dan tidak mengerti tentang kesucian Allah atau kemuliaan Kristus, serta apa yang dituntut oleh Kristus dari manusia, orang itu lebih suka memegang ajaran yang melemahkan hukuman atas orang yang tidak bertobat. Bila kita tahu betapa dahsyatnya dosa, dan tahu akan kesucian Allah yang sempurna, serta kemuliaan Yesus Kristus, tentu hati kita akan menuntut hukuman yang kekal bagi orang yang menolak Kristus, yang mengasihi dosa dan memilih dosa, dan yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. " Dr. R.A. Torrey.

Berhubung dengan asa ini, bagaimanakah saudara-saudara kita yang tidak bertobat dan yang menolak Kristus? Dr. R.A. Torrey menjawab, "Lebih baik kita mengakui hal-hal yang sungguh-sungguh nyata. Lebih baik kita berusaha menyelamatkan saudara-saudara kita dari bahaya dan tidak berbantah-bantah tentang hal-hal yang sungguh-sungguh nyata. Ketidakpercayaan kita bahwa topan akan datang tidak dapat mencegah datangnya topan itu. Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, serta insaf akan kemuliaan-Nya dan apa yang dituntut oleh Tuhan dari manusia, tentu kita akan berkata bahwa orang-orang yang menolak dan menghina Kristus patut disiksa sampai selama-lamanya, walaupun orang itu saudara kita.

"Misalnya seorang yang sangat kita kasihi melakukan kesalahan yang besar kepada seorang lain yang lebih kita kasihi, dan ia tetap berada di dalam kesalahannya, tentu kita akan menghendaki bahwa orang itu patut dihukum selama-lamanya.

"Walaupun manusia telah berdosa, tetapi Tuhan memberikan rahmat-Nya dengan mengorbankan Anak-Nya sendiri supaya dapat menyelamatkan manusia. Jadi, kalau manusia tetap menolak rahmat-Nya serta menghina Anak Allah itu dan ia disiksa selama-lamanya, tentu kita harus mengaminkannya serta mengatakan, 'Benar dan adil hukuman-Mu, ya Allah!'

"Bagaimanapun juga sudah nyata di dalam Alkitab bahwa orang-orang yang tidak bertobat serta menolak Kristus akan disiksa selama-lamanya. Senang atau tidak senang, kita harus percaya akan hal ini dan menunggu sampai kita tiba di sorga, dan di sanalah kelak kita dapat mengetahui apa sebabnya Tuhan mengatur demikian. Dalam hal ini tentu Tuhan mempunyai maksud yang berbudi. Walaupun kita tidak mengerti maksud itu. Manusia, yang paling berhikmat sekalipun, tidak dapat memerintah Tuhan dalam hal ini. Kita hanya dapat mengetahui hal-hal yang sudah dinyatakan Tuhan kepada kita. Sebagai kesimpulan ada dua hal yang jelas. Pertama: semakin dekat seseorang berjalan beserta Allah, dan semakin ia berserah kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya, mereka akan semakin lebih mempercayai asas ini. Ada orang yang berkata, "Saya tidak dapat menerima asas itu sebab saya sangat mengasihi sesama manusia saya. ' Lebih baik orang itu menunjukkan kasihnya dengan menyerahkan dirinya bagi sesamanya manusia, seperti Yesus, agar jiwanya selamat, daripada menentang asas pelajaran ini, sebab kita sama sekali tidak dapat mengubah hal-hal yang sudah dipastikan Allah.

"Orang Kristen yang duniawi tidak berpegang pada pengajaran tentang asas siksaan yang kekal. Banyak asas pengajaran yang salah mengenai hukuman yang kekal sudah diberitakan di dalam dunia, Lihat 1Timotius 4:1; 2Timotius 4:3. Kalau orang Kristen menolak kesucian, berarti ia juga menolak asas pengajaran yang benar. Jemaat yang duniawi, yang mengikuti kehendak dunia, juga tidak senang dengan asas pengajaran yang mengemukakan tentang hukuman yang kekal. Orang-orang yang berpegang pada asas yang salah mengenai hukuman dosa, akan segera kehilangan kuasa Allah. Boleh jadi orang itu pandai berkhotbah, tetapi satu hal yang jelas, ia tidak pandai menarik jiwa kepada Tuhan. Orang itu tidak dapat meminta kepada orang-orang lain untuk diperdamaikan dengan Allah. Orang semacam itu seringkali merusak iman orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa akan ada hukuman yang kekal, dan kalau hal itu tertanam dalam hati kita, tentu kita akan sangat berusaha supaya orang-orang yang terhilang dapat diselamatkan. Dan kalau kita telah meringankan hal ini, berarti kita tidak lagi bernyala-nyala dengan kasih Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada asas pengajaran yang diterangkan dalam Alkitab ini, tentu kita akan menyerahkan diri kepada Tuhan untuk dipakai bagi keselamatan orang-orang yang terhilang.

"Janganlah menerima asas pengajaran ini secara akal saja. Sebab kalau saudara mencoba mengajarkan asas pengajaran ini dengan akal, maka saudara akan menjauhkan orang-orang dari Kristus. Tetapi kalau asas ini ditanamkan dalam hati yang penuh dengan kasih, sehingga hati kita terbeban untuk orang-orang berdosa, tentu tenaga kita, uang kita, dan segala yang ada pada kita akan kita pakai untuk keselamatan manusia, yaitu menyelamatkan mereka itu dari neraka, tempat siksaan yang pasti dialami dan dirasakan sampai selama-lamanya." (Dr. R.A. Torrey).

Robert Murray Mc Cheyne, pengkhotbah yang termasyur di Skotlandia, selalu bersandar pada mimbar sambil menangis apabila ia berkhotbah tentang kebinasaan orang-orang yang tidak mau bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Itu merupakan teladan baik untuk tiap-tiap pengkhotbah.

Mencoba Mengerti Arti Maut (Kematian)



Coba Mengerti Arti Kematian (Maut)



Dalam bahasa Yunani ‘kematian’ disebut thanatos. Thanatos berarti bentuk kematian atau keadaan mati. Tetapi kata ini juga dipakai untuk mengungkapkan hal berbahaya yang mematikan, bagaimana kematian, ancaman kematian. Thanatos berarti membuat seseorang mati, membunuh, dan mengakibatkan sesuatu hal berbahaya yang mematikan. Kematian adalah jangka waktu ketika kita melewati dengan sendiri dunia yang tidak kelihatan.

Apa definisi ‘kematian’? Suatu pertanyaan sederhanayang kedengarannya sangat gampang untuk dijawab. Kalau seseorang tahu apa definisi ‘kehidupan’, secara otomatis ia dapat mendefinisikan kematian. Sebab, definisi kematian tidak lain adalah kebalikan dari definisi kehidupan itu sendiri. Dalam kenyataan, definisi kematian jauh lebih pelik daripada yang diprakirakan oleh kebanyakan orang. Selama berpuluh-puluh abad masyarakat umum terindoktrinasi oleh kepercayaan bahwa kehidupan adalah sesuatu yangdihembuskanoleh Tuhan ke dalam pernafasan. Pernafasan dianggap memegang peranan yang sangat penting. Tanpa adanya pernafasan, tak ada pula kehidupan. Melalui pernafasanlah, makhluk hidup didunia ini memperoleh oksigen yang sangat dibutuhkan oleh seluruh organ–bahkan sel–dalam tubuh. 

Kalau tidak mendapatkan oksigen yang dipompakan dari paruparu, jantung akan berhenti berdetak yang berakibat pada terhentinya peredaran darah dalam tubuh. Apabila jantung dan paruparu berhenti bekerja (cardio-pulmonary malfunction), otak yang berfungsi sebagai pusat pengaturan saraf (neurological function) niscaya akan mengalami kerusakan karena kekurangan oksigen. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kerusakan ini berakibat fatal bagi keberlangsungan organisme dalam tubuh makhluk hidup, yakni kematian. Dari pengertian inilah kemudian didefinisikan bahwa kematian adalah terhentinya pernafasan (cessation of breathing).        

Definisi kematian ini pernah diakui serta diterima oleh masyarakat umum, kalangan medis maupun kaum agamawan di Barat. Namun, pada pertengahan abad ke-20, tatkala ilmu pengetahuan serta teknologi mulai berkembang, definisi kematian itu dipertanyakan keabsahannya. Fungsi pernafasan alamiah dapat digantikan oleh alat pernafasan mekanis (respirator). 

Pernafasan tidak lagi secara mutlak identik dengan kehidupan. Gagal atau rusaknya sistem pernafasan alamiah tidaklah selamanya berarti maut atau kematian. Karena itu, definisi kematian perlu dirumuskan kembali sesuai dengan perkembangan zaman.Ini berlatar-belakang pada penjabaran yang diberikan oleh ahli saraf di Perancis pada tahun 1958 tentang keadaan perbatasan antara hidup dan mati yang disebut coma dépassé (secara harfiah berarti keadaan melebihi pingsan). Pasien-pasien itu seluruhnya menderita kerusakan otak (brain lesions) yang pokok, struktural, dan tak tersembuhkan; berada dalam keadaan pingsan (comatose), dan tak mampu bernafas secara spontan. Mereka tidak hanya kehilangan kemampuan dalam menanggapi dunia luar, tetapi juga tidak lagi dapat mengendalikan lingkungan dalam tubuh mereka sendiri.
Mereka tidak dapat mengatur suhu tubuh, mengendalikan tekanan darah, dan mengatur kecepatan detak jantung secara wajar. Mereka bahkan tidak dapat menahan cairan dalam tubuh, dan sebaliknya melimpahkanair kencing dalam jumlah yang sangat banyak. Organisme mereka secara keseluruhan boleh dikatakan  telah berhenti berfungsi. Selanjutnya, pada tahun 1968, panitia khusus Sekolah Medis Harvard menerbitkan sebuah laporan berjudul “SebuahDefinisi Keadaan Pingsan yang tak dapat dibalikkan kembali”. 

Di situ didaftarkan cerita bagi pengenalan gejala kematian otak. Laporan ini secara jelas mengidentifikasi kematian otak (brain-death) sebagai kematian meskipun tidak secara langsung menjabarkan apa itu yang dimaksud dengan kematian. Apabila seorang pasien telah berada dalam keadaan seperti itu, pencabutan alat pembantu pernafasan direstui karena iasecaramedi setelah dianggap mati. Kegagalan kerja jantung dan paru-paru sangatlah mudah diketahui, namun tidaklah gampang untuk dapat memastikan kematian otak. Harus dilakukan pengamatan yang cermat atas rangkaian tanda-tanda kehidupan. 

Apakah seorang pasien sama sekali tidak menanggapi rangsangan (stimulation) apa pun? Dapatkah ia bernafas tanpa alat pembantu?Adakah pergerakan mata, penelanan atau batuk? Apakah alat pemantau gelombang otak (EEG: Electro-EncephaloGram) menunjukkan adanya bukti kegiatan elektrik yang datang dari otak? Adakah harus peredaran darah melalui otak? Jawaban negatif dari rentetan pertanyaan ini menunjukkan kematian otak. Namun, satu tanda saja tidaklah cukup untuk membenarkan anggapan demikian. Walaupun kebanyakan pakar medis telah menyepakati definisi kematian otak, masih terdapat nuansa dalam rinciannya. Ada yang merujuk pada kerusakan otak secara keseluruhan (whole-brain), dan adapula yang mengacu pada kerusakan otak dibagian yang berfungsi lebih tinggi (higher-brain).

Namun, kriteria yang palingbanyakdianutialahkerusakanotak-pokok (brain-stem). Pada tahun 1973, dua ahli bedah saraf di Minneapolis mengidentifikasikan kematian otak-pokok sebagai suatu keadaan yang tak mungkin dapat dikembalikan lagi. Pada tahun 1976 dan 1979, konferensi agung perguruan dan fakultas di Inggris menerbitkan suatu catatan penting dalam topik ini. Yang pertama menjabarkan ciri-ciri klinis atas kematian otak-pokok, sedangkan yang kedua mengidentifikasikan kematian otak-pokok sebagai kematian. Suatu panduan yang mirip dengan ini juga diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun1981. Opini serta praktek internasional pada dasarnya bergerak selaras dengan garis-garis ini dalam menerima gagasan tentang kematian otak-pokok. Denmark adalah Negara terakhir di Eropah yang mengabsahkan definisi kematian otak-pokok (1990). 

Otak-pokok adalah suatu bagian yang berbentuk seperti ‘batang’ atau ‘tonggak’, yang berada dibagian dasar/bawah otak. Selain merupakan pusat jaringan saraf yang mengatur pernafasan, detak jantung dan tekanan darah, ini juga memegang peranan penting dalam mengelola kesiagaan (dalam membangkitkan kemampuan bagi kesadaran). Kerusakan pada bagian-bagian yang penting, walaupun kecil, dapat membuat seseorang berada dalam keadaan pingsan sepanjang waktu (permanent coma). Otak-pokok ini mempunyai peranan yang sangat penting atas bekerjanya otak besar dan otak kecil. Hampir semua penserapan inderawi berjalan melintasi otak-pokok ini. Demikian pula perintah pergerakan serta percakapan, juga dikirimkan melaluinya. 

Tak berfungsinya otak-pokok berarti tidak adanya kegiatan-kegiatan bermakna pada bagian otak besar; tak ada ingatan, perasaan dan pemikiran; tak ada interaksi sosial terhadap keadaan lingkungan. Selama beberapa dasawarsa belakangan ini, memang tidak ada gugatan yang bernilai atas definisi kematian yang didasarkan pada kerusakan atau kematian pada bagian otak. Namun, ini bukanlah berarti bahwa inilah definisi kematian ‘yangsesungguhnya’dan akan dipakai untuk selamanya. Ilmu pengetahuan serta teknologi medis dimasa depan mungkin mampu menggantikan fungsi kerja otak apakah dengan mempergunakan peralatan mekanis/elektrik, melalui pembiakan jaringan otak (brain tissue) ataupun melalui pengarasan (clonning). Dengan begitu, kerusakan pada bagian otak tidaklah berarti maut atau kematian. Pada waktu itulah, suatu definisi yang baru atas kematian perlu dirumuskan lagi.

Makna Kematian Dalam Kehidupan Orang Kristen

Jika kita hanya mengejar hal-hal duniawi maka kita telah melepaskan diri kita dari sumber kehidupan. Untuk menghadapi kematian, kita harus sadar bahwa kita hidup sebagai orang berdosa dalam kematian. Dalam Perjanjian Lama, kematian berarti akhir kesudahan dari keberadaan seseorang (2 Sam. 12:15 ; 14:14). Manusia diciptakan dari tanah dan mereka akan kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Jiwa diartikan sebagai sheol (hades) yang tidak ada lagi kehidupan di luar daripadanya. Manusia yang mati pergi ke hades (ruang antara kematian dan penghakiman akhir). Maka sangat bertentangan dan ditolak kalau ada yang mengatakan masih ada hubungan antara orang mati dengan orang hidup.  

Apakah penyebab kematian ?  Paulus berkata bahwa upah dosa adalah maut/kematian (Rom. 6:23). Dasar pandangan tersebut yaitu iblis merupakan penguasa kematian (Ibr. 2:14), walaupun sebenarnya Allah sendirilah yang mampu menghancurkan tubuh dan jiwa dalam dunia kematian (Mat. 10:28 ; Why. 2:23). Dalam perjanjian baru penyebab kematian merupakan hal yang teologis. Kematian itu universal dan hal tersebut merupakan keuniversalan kesalahan manusia dan jalan manusia untuk pengampunan.

Dari pembahasan-pembahasan di atas tergambar bahwa kematian dalam Perjanjian Baru bukanlah sebagai proses yang alamiah, tetapi sebagai peristiwa sejarah yang mengakibatkan manusia masuk ke dalam keberdosaannya. Pernyataan tentang kematian Kristus di kayu salib merupakan cerita keselamatan dan selalu berhubungan dengan kebangkitan dan kemenangan atau hidup baru bagi orang-orang percaya. Intinya adalah bahwa Allah sendiri merendahkan diri dan menanggalkan kemuliaanNya dalam kematian, yang justru dalam kematian itu Ia menunjukkan diri sebagai Tuhan dan Allah yang hidup. Kematian Kristus adalah keuntungan bagi manusia (1 Tes. 5:10 ; Ibr 2:9-10), kematian Kristus adalah bagi Hukum Taurat (Rom 7:4), bagi dosa (2 Kor. 5:21), dan bagi kematian kita (2 Tim. 1:10). Kematian Allah berarti final dari segala keberadaan keilahian yang dipahami di dalam system metafisik kuno dunia.

Kematian bagi orang percaya adalah kekuatan dalam hidup persekutuan dengan Tuhan bukan hanya sebagai satu hal akhir dari hidup. Kematian adalah pintu menuju hidup kekal yaitu kelepasan dari segala dosa menuju hidup kepada kehidupan bersama Allah. Untuk itu, maka kematian menurut pandangan Kristen harus didasarkan pada ciri : 1. Kematian adalah suatu hal yang alamiah yaitu manusia mengambil bagian dalam struktur kehidupan keseluruhan yang kompleks. 2. Kematian adalah suatu hukuman, hukuman untuk dosa (Rom. 6:21-ff). 3. Kematian adalah panggilan untuk pulang kepada manusia. Bukan hanya sebagai hukuman tapi juga kabar sukacita, bukan hanya sebagai pengadilan tapi juga penebusan (Flp. 1:23). 

Kematian Kristus Sebagai Keselamatan

Makna teologis tentang kematian Kristus yang membuka suatu jalan yang baru dan yang hidup bagi manusia dapat memberikan kepada kita suatu perspektif iman yang transformatif saat kita menghadapi secara nyata kuasa maut berupa penderitaan, kepedihan, kegagalan dan kematian. Betapa sering kita terjebak dalam perasaan putus-asa dan kehilangan gairah hidup pada saat kita mengalami berbagai kesedihan, kegagalan, penderitaan dan kematian dari orang-orang yang kita kasihi. Pada saat yang demikian, kita merasa tidak sanggup lagi menjalani pergumulan kehidupan ini. Kita juga merasa tidak sanggup lagi melakukan apa yang baik seperti: berbagai ketentuan atau kewajiban agama, tanggungjawab untuk beribadah, berdoa dan melayani. Saat itu hidup kita seperti terkurung dalam api neraka, yang begitu menyiksa dan menyakitkan. Tetapi pada saat kita berada dalam bayang-bayang maut dan kekelaman kematian, tiba-tiba kita dapat mendengar ucapan Tuhan Yesus saat Dia akan menghembuskan nafasNya: ‘Sudah selesai!’. 

Apa yang terjadi dalam diri kita selanjutnya? Bukankah pada saat itu kita merasakan atau mengalami seluruh beban yang begitu berat dan menindih kita tiba-tiba dapat terangkat lepas? Ucapan Kristus yang berkata: ‘Sudah selesai’ memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga kita dapat menemukan suatu jalan yang baru dan jalan yang hidup di tengah-tengah berbagai persoalan hidup yang menerpa kita. Pengalaman transformatif ini mengingatkan saya akan karya  dari John Bunyan (1628-1688) yang menulis suatu buku berjudul “The Pilgrim Progress from This World to That Which Is to Come”. 

Buku tersebut sangat populer dan diterbitkan pada tahun 1678 (kelak diterjemahkan dengan judul: Perjalanan Seorang Musafir). Dalam buku John Bunyan tersebut, dikisahkan bagaimana seorang tokoh bernama Kristen, tiba-tiba punggungnya dari hari ke hari makin membesar setelah dia membaca Alkitab. Makin didalami isi Alkitabnya, si Kristen merasakan punggungnya makin menanggung beban yang sangat berat. Akhirnya dia memutuskan melakukan perjalanan sebagai seorang musafir untuk mengetahui kebenaran firman Tuhan. Dalam pengembaraannya tokoh si Kristen menemui berbagai karakter manusia; akhirnya sampailah si Kristen itu di depan kayu salib Kristus. 

Saat dia berlutut di bawah kaki salib Kristus, maka seluruh beban di atas punggungnya dapat terlepas. Jelas sifat tulisan dari John Bunyan bersifat alegoris untuk menggambarkan beban dosa yang harus ditanggung oleh manusia. Beban dosa tersebut tidak dapat terlepas kecuali kita menghadap salib Kristus. Bukankah gambaran dari tokoh si Kristen dan orang-orang yang dijumpai dalam pengembaraannya dalam buku John Bunyan tersebut menggambarkan kehidupan kita sehari-hari? Beban pergumulan dan dosa atau kesalahan kita hanya dapat terangkat lepas saat Kristus meneguhkan kita, bahwa kuasa maut pada hakikatnya telah dipatahkan karena Dia telah menyelesaikan karya pendamaian di atas kayu salib dengan sempurna.

Karena kematian Kristus merupakan rencana dan wujud dari karya keselamatan Allah yang sempurna, maka tidaklah mengherankan jikalau masalah kematian Kristus sepanjang masa sering dipersoalkan dan menjadi suatu kontroversi. Beberapa kalangan menganggap Yesus Kristus tidak mati, sebab Dia terlebih dahulu diangkat ke sorga oleh Allah. Kalangan lain memiliki anggapan yang berbeda. Sebab bagi mereka Yesus Kristus sungguh-sungguh disalibkan tetapi Dia tidak sampai mati tetapi hanya mengalami mati suri sehingga akhirnya Dia siuman dan berhasil keluar dari kubur.   

Kelompok-kelompok yang saling berbeda pandangan tersebut, pada prinsipnya tetap menolak kematian Kristus. Sepertinya dalam kelompok-kelompok yang  menepiskan kemungkinan  Yesus mengalami kematian di atas kayu salib didasari oleh suatu kekuatiran tertentu. Mengapa mereka merisaukan soal kemungkinan kematian Kristus di atas kayu salib, sehingga timbul teori Dia diangkat oleh Allah dan diganti oleh salah seorang muridNya? Atau teori yang menyatakan bahwa Yesus hanya mati suri saja, sehingga Dia tidak pernah mengalami kematian di atas kayu salib? Mungkin satu-satunya tokoh sejarah yang kematianNya selalu dipersoalkan oleh banyak kalangan adalah kematian Yesus.  

Namun iman Kristen berdasarkan kesaksian Alkitab dan yang dikuatkan oleh dokumen-dokumen sejarah secara pasti menyatakan bahwa Yesus Kristus wafat di atas kayu salib. Peristiwa kematianNya telah membawa suatu dampak yang begitu besar dalam sejarah sehingga umat Kristen dapat hadir dan berperan secara transformatif dalam gelanggang sejarah. Tetapi juga kematian Kristus terbukti membawa dampak yang begitu besar dalam pemahaman teologis manusia tentang Allah dan karyaNya. Kematian Kristus memberikan pemahaman  yang baru tentang makna serta tujuan kehidupan. Itu sebabnya kematian Kristus pada hakikatnya memiliki tempat yang sangat unik, khusus, memulihkan dan transformatif dalam kehidupan umat manusia. Melalui kematian Kristus, Allah telah mengungkapkan karya keselamatanNya yang sungguh-sungguh sempurna sehingga terjadilah pendamaian dan pemulihan hubungan antara Allah dengan umat manusia.   


Kesimpulan 

Sebagai orang Kristen kita percaya, dan kita tahu, bahwa kematian bukan akhir dari suatu keberadaan atau kehidupan, namun hal itu tetap merupakan suatu perpisahan dari orang-orang disekitar kita pada masa hidup. Itu adalah akhir dari suatu hubungan yang mempunyai arti istimewa bagi kita dalam kenidupan ini. Langkah pertama dalam memperoleh perspektif yang tepat ialah dengan mengakui bahwa Allah berdaulat dalam semua masalah kehidupan dan kematian, karena Dia telah menunjukkan karya-karya keselamatan untuk menaklukan maut dan kematian. Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian merupakan suatu sumber rasa aman, optimisme, dan pemulihan rohani bagi seseorang (1 Yohanes 3:2). Tidak ada suatu pun yang menawarkan lebih banyak kekuatan dan dorongan dari pada keyakinan bahwa ada suatu kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang menggunakan masa sekarang untuk mempersiapkan hidup dalam kekekalan.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda secara jujur merasakan bahwa Anda belum diyakinkan tentang kehidupan setelah kematian. Tetapi ingatlah bahwa Yesus berjanji untuk memberikan pertolongan Ilahi kepada mereka yang ingin mengenal kebenaran dan yang mau menaklukkan diri kepadaNya. Ia berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri," (Yohanes 7:17).

Bila Anda yakin pada bukti adanya kehidupan setelah kematian, ingatlah Alkitab berkata bahwa Kristus mati untuk melunasi hutang-hutang dosa kita, dan bahwa semua orang yang percaya kepadaNya akan menerima karunia pengampunan dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka yang, melalui bukti-bukti tersebut, percaya kepadaNya.

Sabtu, 26 Juli 2014

Cahaya Injil dari Negeri Sabah



Cahaya Injil dari Negeri Sabah
(Suatu Catatan Kesaksian Pelayanan Pdt Joshua Mangiring Sinaga, S.Th., M.Th)


Penerbangan hampir dua jam dari Soekarno-Hatta International Airport menuju Kota Kinabalu International Airport terasa sangat menyenangkan. Tanpa terasa, pesawat soft landing di bumi Borneo ketika malam sudah meyelimuti seluruh kota. Untuk pertama kalinya, saya melangkahkan kaki di Negeri Sabah saat Kota Kinabalu telah diliputi malam. Tidak seperti Jakarta yagn semarak dengan nuansa kota metropolitas, Kota Kinabalu masuh menyisakan keheningan malam yang natural. Di sini masih tersisa malam hening ditaburi bintang-bintang.

Sabah yang sejuk dan hijau. Itulah kesan yang timbul ketika saya melaju dengan “kereta” (sebutan orang Sabah untuk mobil) dari Kota Kinabalu menuju Kawasan Entilibon. Perjalanan santai hampir 200 KM dari Ibukota Negeri Sabah menuju Gereja Sidang Injil Borneo (SIB) di Kampung Sanan terasa sangat memanjakan mata. Sepanjang jalan, kesejukan yang meneduhkan hati diantara barisan bukit-bukit hijau memanjang seolah tiada habis-habisnya. Saya mengaminkan pernyataan bahwa Negeri Sabah di Borneo adalah salah satu paru-paru dunia yang masih tersisa dikawasan Asia Tenggara.

Desember yang basah oleh hujan seperti ikut menyejukkan perjalanan kereta hampir seharian. Theary Thomas, seorang cikgu (guru) muda yang menjadi pemandu kereta tak henti-hentinya berkisah tentang banyak hal. Dimulai dari alam, kultur atau budaya pribumi, hingga pelayanan gereja. Inilah yang membuat saya terpesona dan takjub. Sebagai hamba Tuhan yang melayani di negeri minoritas kristiani, saya takjub melihat suatu negeri yang konon juga kristiani minoritas, sepanjang jalan berdiri papan nama gereja-gereja. Suatu fakta yang bertolakbelakang dengan informasi umum yang saya dapatkan di Indonesia. Fakta sebenarnya adalah di Negeri Sabah, umat kristiani justru menonjol.

Menjelang malam, kereta yang kami tumpangi tiba di kawasan Gereja SIB Sanan. Para diaken dan Ketua Majelis Sidang menyambut dengan ramah. “Pounsikou, pounsikou” Para Diaken menyebutkan kata terimakasih. Kosa kata pertama yang saya mengerti di negeri Sabah. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, saya pun bisa membaringkan tubuh di kamar rumah sidang. Tidur paling lelap di negeri orang. Keramahtamahan jemaat SIB Sanan, menuntaskan kelelahan sepanjang hari.

Gereja yang Miskin

Gereja Sidang Injil Borneo (SIB) di  Kampung Sanan kawasan Entilibon Sabah Malaysia adalah jemaat dibawah naungan Sabah Evangelical Church. Sidang ini telah menulis surat undangan pelayanan kepada saya setahun sebelum 25 Desember 2013. Suatu panggilan pelayanan yang tidak biasa karena saya sama sekali tidak mengerti apa dan bagaimana keberadaan jemaat ini. Saya sungguh terpana karena apa yang saya kira sebagai sidang jemaat kecil di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit, ternyata jauh melebih dari ekspektasi. Jemaat SIB Sanan sesungguhnya adalah gereja modern yang pertumbuhannya sungguh mempesona. Tuhan telah berkarya melalui gereja ini sehingga hampir seluruh penduduk dikawasan, telah “dimenangkan” di dalam Kristus.

Gereja SIB adalah salah satu potret gereja misioner di zaman modern ini. Hampir diseluruh kawasan berdiri sidang-sidang yang telah memenangkan mayoritas jiwa-jiwa setempat. Tidak heran, sepanjang perjalanan dari Ibu Negeri Sabah, Kota Kinabalu, hingga di Kawasan Entilibon, berdiri di sepanjang jalan papan nama sidang-sidang SIB. Gereja SIB Sanan, salah satu sidang SIB yang berdiri ditengah-tengah pemukiman kawasan, pun telah menjadi cerminan betapa hebatnya kuasa Allah melawat Negeri Sabah, sehingga telah memenangkan hampir seisi permukiman.

Kebaktian Natal dimulai dengan prosesi sambutan kepada pengkhotbah tamu. Saya sungguh terharu saat dijemput di rumah sidang dan didampingi ketua majelis sidang bersama para diaken memasuki gereja. Tabuhan gong khas etnik Dusun, suku asli atau pribumi Sabah, mengiringi langkah-langkah kami semua memasuki ruangan ibadah. Suasana gedung gereja penuh sesak oleh jemaat hingga berjejal-jejal. Ibadah pun diawali dengan tarian puji-pujian yang dikemas dengan busana khas etnik dusun. Semuanya menyiratkan sukacita yang tak dapat saya gambarkan dengan kata-kata.

Inilah jemaat yang benar-benar lapar akan hadirat Allah. Saya merasakan bahwa merekalah yang disebutkan oleh Yesus Kristus sebagai orang-orang yang berbahagia karena miskin di hadapan Tuhan. Seperti tertulis dalam Matius  5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Jemaat Sanan memberikan kepada saya pengertian yang baru tentang arti miskin dihadapan Tuhan.

Hampir 500 orang lebih memadati ruangan dengan ekspresi hati sukacita dalam lawatan Tuhan. Tak terlihat orang berpaling dan memusingkan yang lain ketika pujian dan penyembahan dipersembahkan kehadirat Tuhan. Tidak terlihat ada yang berniat beranjak dari tempat duduknya ketika mendengarkan khotbah yang saya sampaikan. Tak terlihat juga kesan mereka merasa terganggu ketika bahasa yang saya gunakan tidak sama dengan bahasa merekai. Bahasa tubuh jemaat melambangkan kehausan jiwa mereka kepada Injil yang berkuasa.

Saya pun mendapatkan defenisi lengkap dari kata berbahagia sebagai orang miskin dihadapan Allah, saat menjadi saksi kelaparan spiritual jemaat SIB Sanan akan lawatan Tuhan. Jemaat yang berbahagia dengan kemiskinan rohani yang menjadikan mereka sanggup mengabaikan apapun untuk menerima dan mendapatkan lawatan Tuhan. Kemiskinan spiritual yang membangun pengharapan mereka melebihi apa yang dapat saya bagikan. Entahkah beberapa diantara mereka telah ada pada strata sosial yang berada, ataukah jemaat yang masih hidup sederhana, semuanya membaur hanyut dalam hadirat Tuhan yang sangat deras. Beberapa diantara mereka rebah didalam hadiratNya, sementara yang lain berdiri dengan tangan terangkat tinggi dan sorak-sorai yang gegap gempita. Kepenuhan hadirat Tuhan, membuat saya hanya berdiri terpaku penuh kekaguman. Allah sungguh luar biasa dahsyat bagi Negeri Sabah.

Sebuah Repleksi

Saya sudah menyelesaikan lawatan satu pekan di Negeri Sabah. Saya pun sudah kembali bergulat dengan kesibukan dan rutinitas pelayanan di Jakarta. Sebagai seorang pendeta dan sekaligus gembala sidang gereja yang bertumbuh, saya harus mampu menyesuaikan ritme dengan tuntutan dan konsekwensi pelayanan di kota metropolitan.

Saya memang harus berjuang untuk dapat mengadaptasi dengan hiruk pikuk kota Jakarta. Saya lahir dan besar di sebuah kampung terpencil bernama Huta Pamatang Jorlang Hataran. Hampir tidak dapat dicari di peta atau googling sekalipun dusun ini. Saya  menghabiskan masa kanak-kanak sampai remaja di dusun dan menjadi remaja yang hampir tidak pernah bersentuhan dengan kota metropolitan.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, saya pun pindah ke Kota Jakarta tahun 1994. Saya diterima di asrama sebuah sekolah teologi dan menjalani masa sebagai mahasiswa hampir 5 (lima) tahun. Suatu keputusan luar biasa ketika remaja minder seperti saya, memutuskan untuk menjadi pemimpin rohani. Itu adalah anugerah dibalik masa kecil saya yang gelap.

Saya lahir dari sebuah keluarga yang tidak bahagia. Ayah saya seorang muslim pada masa mudanya, namun menjadi Kristen akibat penikahan dengan ibu. Sungguh suatu keadaan rohani yang gersang. Lengkaplah kekelaman masa kecil saya karena kami miskin secara materi dan rohani. Ayah saya seorang petani miskin didampingi ibu rumah tangga yang juga tak kalah miskinnya. Kemiskinan ini membuat saya bertumbuh dalam kesulitan termasuk kesehatan disebabkan kelahiran prematur. Saya pun harus berjuang untuk tetap hidup ditengah-tengah kemiskinan yang membalut kelam.

Hidup kami sekeluarga memang menyedihkan. Pada masa paceklik, kami harus makan nasi gaplek. Nasi berbahan dasar singkong itu menjadi menu makanan ketika persediaan beras hasil panen sudah habis. Saya bertumbuh menjadi remaja minder karena sakit-sakitan. Keadaan fisik saya ketika lahir prematur menyisakan permasalahan kronis karena paru-paru saya bermasalah. Keadaan yang sulit ini memuncak ketika saya memasuki sekolah SMP. Saya harus dijemput dari sekolah untuk di rawat di rumah akibat paru-paru basah yang membuat saya sering kesulitan bernafas. Dalam keadaan antara masih hidup dan mati, saya berdoa. Saya yang tidak mengerti bagaimana berdoa, bergumul diantara demam yang tinggi dan kesulitan bernafas. Malam yang panjang ketika saya bergumul di antara kemiskinan dan kekosongan hati.

Tuhan mendengarkan doa. Malam itu, antara saya sadar atau tertidur, saya mendengar suara yang memanggil berkali-kali. Antara sadar dan tidur, saya pun mendengar suara yang teduh. Demam tinggi yang membuat saya kesulitan bernafas pun perlahan-lahan berkurang. Malam itu saya tidur lelap. Esok harinya saya bangun dalam keadaan tubuh yang bugar. Saya sembuh dan bernafas dengan sempurna. Malam itu Tuhan menyembuhkan saya. Tuhan pun memulihkan jiwa saya yang hampa dengan pengurapan pada ibadah pencuran Roh Kudus tahun 1990. Saya menjadi seorang hamba yang begitu miskin akan apapun yang berhubungan dengan hadirat Tuhan. Kemiskinan rohani yang terus menerus mendorong roh dan jiwa saya bergantung sepenuhnya kepada Yesus Kristus.

Saya berkhotbah untuk pertama kalinya pada umur 16 tahun ketika masih duduk di bangku SMA. Saya kini telah berkhotbah seantero negara. Saya melayani seminar dan KKR di berbagai kota, baik di dalam maupun di luar negeri. Saya telah menyaksikan berbagai mukjizat keajaiban berlaku dalam pelayanan. Saya menyaksikan Tuhan berkarya melalui penumpangan tangan saya, ketika seorang anak yang sudah mati bangkit kembali. Saya menyaksikan bagaimana hujan badai berhenti dalam hitungan detik saat doa saya panjatkan kepada Allah. Saya melihat bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan jasmani dengan ajaib. Kemiskinan spiritual yang membuat saya selalu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, telah membuat Tuhan berkarya hebat melalui seorang hamba yang tak berarti seperti saya.

 Hati dan jiwa saya masih saja merasakan kehausan yang tak terhingga. Hingga keadaan jasmaniah saya kini terus dipulihkan dan diperkaya, saya masih terus merasakan jiwa yang haus. Saya telah menyelesaikan pendidikan di STT dengan baik dan berhasil lulus cumlaude untuk program pascasarjana. Saya kini memimpin diberbagai lembaga dan menjadi kepala keluarga yang berbahagia. Namun satu hal yang masih terus melanda jiwa saya adalah kelaparan akan hadirat Tuhan. Saya terus merasakan kemiskinan rohani yang memaksa saya untuk terjun labih dalam dihadiratNya. Saya masih miskin spiritual sampai detik ini. Haleluyah.