Sabtu, 06 April 2013

KERAJAAN KEKAL


KERAJAAN YANG TAK TERGONCANGKAN
Ibrani 12:25-29

Kita sedang menghadapi keadaan yang buruk. Kondisi perekonomian secara global sedang sakit. Bahkan Amerika Serikat yang konon makmur itu sedang sakit serius. Kita semua harus tahu bahwa memang tak ada yang kekal di dunia ini. Dalam membangun ekonomi yang tangguh sekalipun, selalu ada titik lemah dimana nanti dari sanalah muncul masalah. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita gerajanya, bahwa hanya KerajaanNya saja yang tak bisa goncang.


Marilah kita menyimak ayat ini: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?” (25)

Kita sudah paham bahwa KEADAAN dunia secara umum hari ini adalah dalam status menolak DIA, Tuhan YESUS. Dunia menjadi anti Kristus dan firmanNya. Ini serius, karena jika kita menolak orang yang memberitkan firmanNya, itu sarius hukumannya, apalagi kalau kita menolak Dia yang telah berbicara keras sepanjang tahun ini? Tuhan telah menyerukan kepada semua manusia untuk meninggalkan kekerasan dan kembali kepada kasih, namun manusia ini lebih suka membantah dan menolak seruanNya.

Keadaan yang sama juga terjadi dalam pribadi  umat Allah. Sebagian kita mengaku menjadi umatNya, namun kita lebih sering menolak Dia. Kita merasa bahwa Duia tidak cukup kuat menolong kita. Banyak diantara kita tidak lagi percaya bahwa Dia masih dapat melakukan mukjizat. Bahkan sangat banyak pendeta yang tak lagi percaya terjadi kesembuhan ilahi. Pendeta-pendeta yang telah kedagingan itu bahkan teriak-teriak di media massa mengintimidasi orang-orang yang tidak melek theologi agar tak lagi percaya mukjizat. Kemudia kini kita lihat banyak orang yang meragukan DIA dapat menolong mereka lepas dari tekanan akibat beratnya persoalan ekonomi global belakangan ini.

Ayat ini penting kita pahami: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga." Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (26-27)

Sudah sejak dulu Allah mengguncang dunia ini agar berbalik dari kekerasan hatinya. Namun entah dari mana hati manusia di buat. Sesaat saja baik dan dalam sekejab setelah badai itu surut, manusa kembali kekubangannya. Berbuat lagi seturut maunya. Kata Satu Kali Lagi menunjuk pada klimaks dari kesulitan dalam seluruh tatanan hidup sosial umat manusia, salah satu hal yang akan terguncang adalah ekonomi global. Kita mengerti bahwa US yang tak tersentuh resesi 100 tahun terakhir ini. Namun pada pertengahan tahun ini kita semua kaget karean krisis justru di mulai dari sana. Ada apa? Saya percaya ini suara Tuhan yang  sangat keras agar kita tak lagi mendewakan uang. Tak lagi menjadi pemburu kemakmuran. Tak lagi mendewakan theologi kemakmuran seperti ulah pendeta-pendeta materialistis yang memanfaatkan gereja sebagai lahan bisnis baru untuk memperkaya diri. Kita harus melek dan sadar. Bangun dan bertobatlah gereja Tuhan.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Apa sikap yang paling bijak dari umatNya. Ada kabar baik bagi kita gerejaNya yang sejati: “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (28)

Namun demikian kita tak perlu takut dan cemas, karena kita tinggal dalam satu Kerajaan yang Anti Guncangan, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita hidup bener dan tetap melekat kepada KerajaanNya, maka kita pasti bisa melewati krisis financial global ini. Bangsa kita pun bisa melewatinya jikalau bangsa ini bertobat dari segala kejahatannya. Atau paling tidak, jika gereja Tuhan di Indonesia mulai membenahi dirinya. Meninggalkan segala kejahatannya dan berpaling kepada Kristus.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena kebutuhan untuk Pembangunan dan pertumbuhan Gereja Tuhan tak terpengaruh oleh keadaan ekonomi global. Karena sumber keuangan gereja Tuhan adalah SORGA yang perbendaharaannya tak terbatas. Dalam Hagai 2:9 kita baca: “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” Bila gereja menjadi penyembah yang bener, saya percaya gereja dapat menjadi saluran berkat bagi pemulihan ekonomi bangsa.

Jadi kita menyimpulkan dua point penting berikut ini:

  1. Tuhanlah yang bertanggungjawab atas pembangunan RumahNya: Hagai 2:8 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Sehingga kita tak perlu takut jikalau nanti ada kelaparan, Tuhan akan memelihara kita seperti Dia memelihara Yakub dan keturunannya di Mesir, Elia di tepi Sungai Kerit, Abraham di tanah Filistin, dan sebagainya.

  1. Tuhan bahkan belum puas dengan keadaan gereja yang sekarang ini, karena Dia merancang kemegahan yang lebih hebat lagi: Hagai 2:10 “Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam." Sehingga kita gerejaNya, harus memiliki visi yang terus diperbesar/diperluas. Kita harus teus maju untuk memajukan kerajaanNya sehingga lebih berdampak dalam komunitas.

  1. Namun kita punya tanggung jawab yaitu untuk menguatkan hati: (Yet now be strong-KJV) Hagai 2:5-6 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! Kita harus tetap kuat. Kita tidak boleh takut. Sebab Dia bersama kita. Roh Kudus ada di tengah-tengah kita. Amin

(Intisari Khotbah Pdt. Joshua MS pada Ibadah Raya Hati Nurani Ministries, Minggu 16 November 2008.)

Kamis, 04 April 2013

KEPEMIMPINAN SEBENARNYA!


KEPEMIMPINAN YANG  SEJATI
Oleh: Ps Joshua Mangiring Sinaga, M.Th

Banyak sekali pengertian yang dapat diberikan dalam mengartikan kepemimpinan. Mulai dari sekuler liberal hingga konserpatif tradisional. Sekuler liberal menekankan kepada sebuah konsep yang modern mutakhir, sedangkan konserpatif primitif berorientasi kepada  pemikiran kuno. Apapun itu tidaklah menjadi soal karena pengertian-pengertian itu akan membuat kita lebih memahami apa itu kepemimpinan yang sejati menurut Alkitab.


Tuhan Yesus sebagai pemimpin yang pokok telah memberikan pengertian yang menggugah prinsif kepemimpinan yang dianut selama ini. Yesus telah memberikan teladan kepemimpinan yang sejati selama kurang lebih 3 setengah tahun masa pelayananNya. Inilah pengertian yang paling luar biasa yang pernah kita dengarkan dari arti kepemimpinan. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 23:11). Kepemimpinan menurut Tuhan Yesus adalah PENGHAMBAAN. (Leadership is Servanthood).

Pada perjamuan akhir, Tuhan Yesus mempraktekkan bentuk penghambaan seorang pemimpin dengan cara membasuh kaki para rasulNya. “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yohanes 13:4-5) Untuk mengetahui betapa sangat rendahnya seorang yang membasuh kaki orang lain, kita harus mengerti tradisi Yudaisme. Dalam tradisi Yudaisme, orang yang membasuh kaki adalah hamba sahaja. Tradisi membasuh kaki ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang lebih mulia. Membasuh kaki hanya dilakukan oleh para hamba terhadap tuannya. Itulah makanya Petrus keberatan ketika Yesus hendak membasuh kakinya (Yohanes 13:8).

Kita semua jadi mengerti bahwa Kristus telah merontokkan pengertian sekuler tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin menurutNya adalah seorang pelayan bagi sesamanya. Kalau orang sekuler liberal berusaha untuk menjaga posisinya sebagai boss di mata bawahannya, pemimpin kristiani yang sejati justru mengulurkan tangannya dan memberi diri menjadi pelayan bagi sesamanya. Inilah konsep kepemimpinan sejati yang menjurkirbalikkan prinsip kepemimpinan sekuler liberal yang diangung-agungkan oleh komunitas modern. “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25)
Namun kita tentu harus mengerti apa kuncinya seorang dapat menjadi pemimpin yang sejati. Kita membaca: “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.” (Yohanes 13:3). Penghambaan dimulai dengan seorang pemimpin yang KOKOH.

Mengapa Yesus dapat menjadi sosok pemimpin dalam penghambaan? Jawabannya adalah karena Dia adalah pemimpin yang KOKOH. Kita belajar bahwa Tuhan Yesus mengetahui posisiNya, namun dengan rela Ia tidak memamerkan. Kita mengerti bahwa Dialah pemilik segala sesuatunya. Dia berkuasa sepenuhnya baik atas bumi dan surga. Namun dengan sangat rendah hati tidak mengekspos posisiNya. Yesus memahami panggilanNya, dan Dia dengan setia pada panggilanNya. Dia tidak merasa tidak nyaman dan berubah ketika berbagai kesukaran menekan posisi kepemimpian-Nya. Dia dengan setia menyelesaikan seluruh panggilanNya.Yesus mengerti masa depanNya dan dengan dengan rela menyerah untuk tujuan. Dia sangat paham apa yang menjadi tujuanNya turun ke bumi dan dengan rela melalui semua hal yang harus dialamiNya. Dia setia sampai mati di kayu salip. Dia telah setia sampai titik akhir. Dia setia sampai finish.

Jadi pemimpin yang sejati adalah:

  1. Pemimpin yang melakukannya dengan sukarela, sama seperti Yesus telah membasuh kaki murid-muridNya. Pada saat HatiNurani Ministries didirikan 2 tahun yang lalu, saya sebagai pemimpin membasuh kaki para pelayan yang ada. Bukan hanya simbolik ketika saya meneteskan air mata sambil membasuh kaki semua para pelayan yang tergabung dalam Yayasan hati Nurani. Demikian juga dalam perkembangan Yayasan Hati Nurani, saya melihat para pemimpin telah melakukan hal yang sama ketika mereka dengan rela menjadi pelayan yang rendah hati bagi sesamanya. Semua harus melakukannya dengan sukarela bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pemimpin yang memikirkan tentang orang-orang, bukan memikirkan posisinya. Banyak pemimpin yang merasa tidak aman (unsecure) ketika harus bergaul dengan bawahan sehingga mereka berupaya untuk melindungi posisinya. Mereka tidak sadar bahwa ini adalah awal dari kemerosotan kepemimpinannya ketika dia sibuk melindungi posisnya dan lupa untuk memikirkan orang lain.

  1. Pemimpin yang menambahkan nilai bagi orang lain dan tidak memanfaatkan orang lain.  Kehadiran seorang pemimpin seharusnya memberikan nilai tambah bagi orang-orang disekitarnya. Sama seperti Tuhan Yesus memberikan diriNya  bagi umat manusia, demikianlah pemimpin sejati harus menambahkan nilai bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang suka memanfaatkan posisinya untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Kita haruslah menjadi pemimpin yang sejati dengan meneladani Tuhan Yesus sebagai pemimpin sejati dengan menjadikan kehadiran kita membuat orang lain merasakan manfaat yang baik.

Intisari Khotbah Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th. dalam Ibadah Raya Minggu, 12-11-06 Hati Nurani Ministries Chapter Induk Semper Jakarta Utara.

Rabu, 03 April 2013

KUASA KASIH MULA-MULA


KEMBALI PADA KASIH MULA-MULA
Yohanes 21:1-19

Setelah Yesus disalipkan, keadaan para murid terguncang hebat. Ketika Yesus bangkit pada hari ke-3 berkali-kali Dia menampakkan diriNya. Pertama-tama kepada Maria Magdalena, kemudian kepada para murid lainnya. Namun sunguh benar, para murid-murid masih terguncang. Salah satu yang paling terpukul adalah Simon yang sering disebut Petrus. Petrus adalah tokoh yang mungkin paling merasa berdosa karena harus menyangkal kenal Yesus. Dalam kemelut yang demikian berat, Petrus kembali ke kampung halaman.

Dalam sebuah perbincangan dengan murid-murid lain, Petrus mengutarakan keinginannya untuk kembali melaut. Kembali menjadi nelayan. “Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” (3)

Kita melihat bahwa Petrus memiliki pengaruh yang kuat dalam kelompoknya. Ketika dia mengatakan keinginannya untuk kembali mencari ikan, teman-temannya juga mengatakan keinginannya untuk ikut. Namun sungguh kesal, karena sepanjang malam mereka menjala, tak seekorpun ikan yang nyangkut di jala. Hingga fajar menyingsing dan mereka sudah hampir merapat kembali ke pantai, tak seekorpun ikan yang di jala. Ini tentu mengesalkan karena sebagai nelayan yang berpengalaman, mereka pasti mengerti tempat-tempat strategis untuk medapatkan ikan.

Ketika matahari semakin tinggi Yesus berdiri di pantai tetapi murid-murid tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kemudian Yesus bertanya: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk? Jawab mereka: “Tidak Ada.” (4). Kemudian Yesus berkata kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Dan sungguh mukzijat terjadi, jala mereka dipenuhi ikan hingga hampir koyak.

Saudara, Yesus mengetahui keputusasaan dari Petrus dan teman-temannya. Yesus mengerti betapa mereka sangat berduka sehingga tidak dapat berpikir selain kembali kepada dunia lama mereka sebagai nelayan. Namun Yesus tentu tidak mau mereka gagal dan berhenti. Maka Yesus pada pagi hari datang ke pantai dan mukjizat pun terjadi.

Lebih 3 tahun silam, pada tempat yang sama dan dengan kasus yang sama, Yesus telah melakukan mukjizat ini di depan mata Petrus. Pada waktu itu Petrus telah menjala sepanjang malam dan merapat ke pantai pagi hari tanpa mendapatkan tangkapan. “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4) . Yesus menyuruh Petrus untuk menebarkan jalanya dan Petrus melakukannya setelah terlebih dulu berargumen: “Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Lukas 5:5) dan sungguh ajaib, jala Petrus dipenuhi ikan hingga jala hampir koyak: “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (Lukas 5:6). Mereka tak mampu menghela jala itu hingga harus memanggil perahu lain untuk membantu menghela jala penuh ikan itu: “Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.” (Lukas 5:7). Sungguh ajaib, dua perahu penuh dan hampir tenggelam. Sejak itu Yesus berfirman: “Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Lukas 5:10b). Petrus dipanggil untuk melayani manusia sebagai rasul. Ini terjadi 3 tahun yang silam.

Mukjizat ini terjadi lagi 3 tahun kemudian di pantai yang sama. Setelah Petrus dan teman-teman meninggalkan pekerjaannya sebagai penjala manusia. Sepanjang malam mereka menjala namun tak seekorpun ikan yang nyangkut di jala mereka. Hingga pagi hari, Yesus kembali datang untuk yang kedua kalinya setelah 3 tahun berlalu. Dan mukjizatpun terjadi untuk kedua kalinya.

Suadara, Tuhan ingin Petrus kembali mengingat kasihnya yang semula ketika waktu pertama kali melihat dan merasakan mukjizat, dengan cara mengulang kembali mukjizat yang sebelumnya. Kita mengerti kekuatan kasih mula-mula yang membuat Petrus dapat dan rela mengorbankan nyawanya.  Namun pergumulan berat kerena peristiwa penyaliban Kristus mengguncang iman hingga Petrus berniat untuk kembali kedunia lamanya. Bukankah seringkali kitapun mengalami  peristiwa yang berat sehingga kita kembali ke dunia lama kita dan meninggalkan Tuhan? Ada kabar baik bagi kita, Allah tidak akan membiarkan kita. Dia justu datang untuk memulihkan dan mengingatkan kita pada kasih mula-mula bahkan mungkin dengan mengulang kembali mukjizat yang sama yang kita alamai ketika pertama kali mengenal Tuhan.

Yesus memberikan mereka sarapan: “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” (13) Dan yang luar biasa adalah Yesus tidak membeda-bedakan. Yesus tidak menuding dan menghakimi Petrus sebagai dalang dari semua masalah. Yesus tidak mencari kambing hitam seperti kebiasaan dari pendeta-pendeta saat melakukan konseling? Teladan yang baik dalam pelayanan pemulihan adalah merangkul semua tanpa membeda-bedakan apalagi mengkambinghitamkan.

Tentu Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita. Dan oleh karena proses pemulihan kasih mula-mula, Yesus tidak sulit memulihkan Petrus kembali. (15-19) Petrus mengakui kelemahannya dan bertekad bulat untuk kembali melayaniNya. Dan luar biasa, Petrus menjadi Rasul yang berkarya sangat besar. Dan bahkan oleh cintanya, dalam sejarah gereja di catat, Petrus disalipkan di Roma dengan cara terbalik. Kepala ke bawah dan kaki ke atas. Oleh karena cintanya kepada Kristus. Dan semuanya di mulai karena Petrus telah mengetahui betapa cintanya Yesus pada dirinya.  Ketika dia telah menemukan kasihnya yang semula.
                                               

INTISARI Khotbah Pdt. Joshua M. Sinaga, S.Th dalam Ibadah Raya HN Ministries JAKARTA, Minggu 27 Mei 2007.

Selasa, 02 April 2013

Apakah Perayaan Paskah (Easter) tidak Alkitabiah?


Perayaan Easter, Penyembahan Berhala?

Banyak orang Kristen sadar bahwa kata “Paskah (Easter)” tidak muncul dalam naskah bahasa asli Ibrani maupun Yunani. Pada kenyataannya, satu-satunya tempat yang dapat ditemukan adalah di dalam Alkitab bahasa Inggris, King James Version, yang tertulis:

Kisah Para Rasul 12:4 “Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah (Easter) ia menghadapkannya ke depan orang banyak.”

Bagian ini menggambarkan rencana Herodes untuk menghukum mati Petrus “sehabis Paskah (Easter).” Kata Yunani untuk “Paskah (Easter)” adalah pascha, yang menunjuk kepada perayaan Yahudi Paskah yang dirayakan dari hari ke 14 hingga ke 21 bulan Nisan (Kel. 12:18). Dalam terjemahan KJV, tampaknya bahwa “Kisah Para Rasul sudah jatuh ke tangan seorang penerjemah yang memberlakukan prinsip pemilihan, bukan sesuatu yang paling benar, tetapi padanan kata yang paling lazim.” Dalam hal ini, fakta bahwa Paskah (Easter) sudah dikenal baik oleh pembaca abad 17 menjelaskan bagaimana kata itu masuk ke dalam terjemahan KJV, tetapi itu tidak menolong kita untuk mengerti bahwa Paskah (Passover) dan Paskah (Easter) adalah dua hal berbeda, dan apa yang dimaksudkan oleh Kisah Para Rasul adalah Paskah (Passover) dan bukan “Paskah” (Easter). Versi Alkitab modern semuanya menerjemahkan pascha dengan “Paskah” (Passover).

Apa yang kita kenal pada hari ini sebagai perayaan Paskah (Easter) berkembang setelah masa Perjanjian Baru. Perjanjian Baru tidak menyinggung sebuah perayaan Kristen di mana kematian dan kebangkitan Kristus dirayakan, tetapi apa yang sungguh kita lihat adalah beberapa orang Kristen mula-mula terus merayakan perayaan Paskah (Passover). Dalam perjalanan Paulus ke Yerusalem di mana dia ditangkap dan dipenjarakan, sekitar akhir tahun 50 M, atau 30 tahun setelah kelahiran Jemaat Kristen, banyak orang-orang Kristen di Yerusalem bangga terhadap fakta bahwa mereka mempertahankan Hukum Taurat.

Kisah Para Rasul 21:20 Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat.

Bagi orang-orang Kristen yang “rajin”, mereka taat memelihara Hukum Taurat melalui memperingati perayaan Paskah (Passover), yang menjadi perayaan peringatan. Bukan lagi berhubungan dengan waktu penantian untuk penebusan dengan Tuhan di masa depan, tetapi berkaitan dengan peringatan bahwa Dia sudah menyediakan pembayaran bagi dosa-dosa umat-Nya melalui Kristus. Ini adalah topik yang sangat sensitif bagi orang Kristen mula-mula, karena tidak semua orang Yahudi yang bertobat dan menjadi Kristen merasa nyaman dengan ide bahwa Kristus sudah menggenapi hukum Taurat dan mereka tidak perlu lagi berkewajiban untuk memelihara hukum Taurat. Kemudian Surat-surat Jemaat yang diberikan oleh Tuhan kepada Paulus memperjelas bahwa tidak perlu lagi berpartisipasi dalam perayaan Yahudi (Kol. 2:16-17). Paulus telah menimbulkan kekacauan dengan mengajarkan hal-hal seperti “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya” (Gal. 6:15). Tuntutan yang diajarkan Paulus kepada petobat-petobat adalah ” melepaskan hukum Musa” telah membuat seluruh kota Yerusalem berada dalam kegemparan dan mengakibatkan penahanannya (Kis. 21:21).

Sementara itu banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen mempertahankan kebiasaan memperingati perayaan Paskah (Passover), hal itu mungkin membuat petobat orang bukan Yahudi tertarik untuk memperingati perayaan yang sama sekali tidak diwajibkan oleh Tuhan. Ketika Kekristenan mulai menyebar ke seluruh dunia, orang-orang Kristen bukan Yahudi mulai merayakan kematian dan kebangkitan Kristus hampir sama dengan cara orang Yahudi. Namun sayang, seperti yang sering terjadi dengan perdebatan Yahudi-bukan Yahudi, banyak desakan yang menggiring Kekristenan bertentangan secara radikal dengan mereka yang ingin mempertahankan akar Kekristenan secara Yahudi. Pada akhirnya, perayaan kematian dan kebangkitan Kristus disisipi oleh unsur-unsur yang kurang berkaitan dengan perayaan Yahudi atau peristiwa sebenarnya dari kematian Kristus.

Kontroversi Tanggal

Selama berabad-abad, tanggal perayaan kebangkitan Kristus sangat diperdebatkan. Orang-orang Kristen Yahudi mula-mula, khususnya yang tinggal di Israel, Siria, dan Timur Tengah, secara alami ingin merayakannya pada tanggal 14 bulan Nisan, tanggal Paskah (Passover). ”Jemaat-jemaat di Asia Kecil (mengikuti tradisi Yohanes bahwa kematian Yesus terjadi pada saat pembunuhan domba Paskah [Passover]) yang dirayakan orang Kristen Pascha pada tanggal 14/15 bulan Nisan, tanpa mempedulikan tanggal itu jatuh pada hari apa.” Praktik ini menyajikan suatu situasi yang menarik bagi Jemaat. Orang-orang Kristen itu yang mempertahankan tanggal Yahudi melihat kepada orang-orang Yahudi untuk menentukannya. ”Dalam Yudaisme, kalender yang berlaku adalah berdasarkan bulan. Setiap bulan, termasuk Nisan, mencakup fase bulan, dan Paskah (Passover) jatuh pada tanggal 14 bulan itu, yaitu pada saat bulan purnama.

Penetapan tanggal ini adalah sebuah proses rahasia yang dijaga di dalam Bait Yahudi dan kemudian dalam sinagoge, dan Kristus memperingati perayaan berdasarkan kalkulasi ini.” Agar merayakan kematian dan kebangkitan Kristus pada tanggal Paskah (Passover) yang tepat selama setahun, Jemaat harus bergantung pada orang Yahudi, sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Bukan saja Jemaat harus memperoleh tanggal itu dari orang Yahudi, tetapi fakta bahwa tanggal 14 bulan Nisan dapat menjadi satu hari dalam seminggu yang tidak menarik bagi mereka juga.

“Paskah Ibrani (Passover) jatuh pada suatu hari dalam seminggu, dan ini tidak cocok dengan orang Kristen. Mereka menghendaki suatu Minggu Kudus yang dimulai dengan Minggu Palem, yang diteruskan dengan Jumat Agung dan diakhiri oleh Minggu Paskah (Easter), memperingati kebangkitan.” Orang-orang Kristen itu yang berselisih untuk merayakan Paskah (Easter) pada tanggal 14 bulan Nisan dikenal sebagai ”Quarto-decimanians,” sebagian besar tinggal di bagian Timur Kerajaan Romawi. ”Orang-orang Kristen di barat merayakan Paskah (Easter) pada hari Minggu, di bagian Timur yang banyak dianut oleh Quartodecimanian dan lebih memilih tanggal 14 setiap bulan. Ini adalah awal perpecahan yang membagi Gereja Orthodoks Timur dengan Katolik Roma.” Jadi tanggal untuk merayakan kebangkitan termasuk di antara kontroversi secara Kristologi yang luar biasa di Dewan Nicaea pada tahun 325. Ketika Yesus Menjadi Tuhan, oleh Richard Rubenstein, menggambarkan suasana dewan Nicaea ini.

“Satu pertanyaan pokok adalah ini: Sejauh manakah nilai dan kebiasaan dunia kuno yang masih berlaku yang memimpin pemikiran dan tindakan dalam kerajaan Kristen? Beberapa orang Kristen, di antara mereka adalah Arius dan Eusebius dari Nicodemia, memiliki kesadaran yang lebih kuat tentang kelanjutan sejarah dibandingkan yang lain …. Sebaliknya, anti-Arius mengalami kehadiran mereka seperti keretakan yang nyata dengan masa lalu. Sesungguhnya mereka menuntut agar Kekristenan ‘diperbarui’ melalui mengaburkan atau bahkan menghapuskan perbedaan yang sudah lama diterima antara Bapa dan Anak.”

Dengan semangat yang sama untuk memisahkan diri dari masa lalu, dewan dengan suara bulat memutuskan bahwa perayaan Kebangkitan tidak akan berdasarkan tanggal Yahudi, tetapi akan jatuh pada hari Minggu mengikuti bulan purnama setelah musim semi. Menarik sekali, perayaan hari Minggu sama sekali masih memberikan kesempatan bagi Jemaat untuk merayakan hari yang sama seperti orang Yahudi. Sekali lagi, bagian Timur dan Barat menangani situasi itu secara berbeda. Bagian Barat menetapkan suatu peraturan bahwa jika tanggal itu bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover), Jemaat akan menunggu minggu depan untuk merayakannya. Sebaliknya, bagian Timur terus merayakan meskipun tanggal itu bertepatan dengan Paskah Yahudi (Passover).

Hingga hari ini masih terdapat ketidaksepakatan mengenai tanggal perayaan Paskah (Easter). Protestan dan Katolik Roma menetapkan tanggal Paskah (Easter) secara bersamaan, tetapi sehubungan dengan metode kalkulasi yang berbeda, Gereja Orthodoks Timur merayakannya berbeda tanggal hingga lima minggu dari jemaat-jemaat Barat. Hasrat untuk mencapai kesatuan Kristen, dalam beberapa tahun terakhir ini, sudah mengajukan ide tentang sebuah tanggal universal yang tetap bagi semua gereja Kristen.

Unsur Penyembahan Berhala

Bukan rahasia lagi bahwa banyak dari perayaan Paskah (Easter) modern sudah berkembang dari sumber penyembahan berhala. Kata “Paskah” (Easter) sendiri pada dasarnya diadopsi oleh Jemaat dari penyembahan berhala.

Kata Inggris Paskah (Easter) dan bahasa Jerman Ostern berasal dari asal mula yang umum ( Eostur, Eastur, Ostara, Ostar), di mana bagi penduduk Normandia berarti musim dari terbitnya (berkembangnya) matahari, musim kelahiran baru. Kata itu dipakai oleh nenek moyang kita untuk menunjukkan Perayaan Kehidupan Baru pada musim semi. Akar yang sama ditemukan dalam nama tempat di mana matahari terbit (Timur, Ost). Maka kata Paskah (Easter), pada awalnya berarti perayaan matahari bersemi, yang terbit di bagian Timur dan membawa kehidupan baru di atas bumi. Simbolisme ini dialihkan kepada arti supernatural dari Paskah (Easter) kita ...”

Pandangan umum lainnya yang diajarkan oleh Bede, sejarawan Inggris pada awal abad 8, adalah bahwa kata itu berasal dari “Eastre,” seorang dewi Musim Semi bangsa Jerman yang menerima persembahan di bulan April. Sementara kedua penjelasan itu masuk akal, jelas bahwa kata “Easter” bukan alkitabiah.

Encyclopedic Dictionary of Religion menyatakan bahwa kebiasaan telur Paskah (Easter) mungkin didasarkan pada pengikut aliran kesuburan di masa kuno (Indo-Eropa), gabungan Persia tentang telur dan musim semi, atau fakta bahwa beberapa orang Kristen mula-mula berpantang terhadap telur selama masa empat puluh hari sebelum Paskah (Easter). Tidak sulit dilihat bagaimana orang-orang Kristen dapat mengadopsi telur sebagai simbol kubur Kristus, atau bahkan hidup mereka yang baru di dalam Dia. Lebih jauh lagi, kelinci adalah sebelum-Kristen dan menunjukkan kesuburan berhubungan dengan pertumbuhan yang pesat dalam reproduksi. Kelinci sama sekali tidak diadopsi sebagai bagian dari perayaan Paskah (Easter) “Kristen,” tetapi itu sudah menjadi simbol dalam banyak kebudayaan. Misalnya Natal, perayaan Paskah (Easter) telah sangat menyimpang dari peringatan asal tentang kematian Tuhan kita pada tanggal 14 bulan Nisan.

Keseimbangan

Sebagai orang Kristen modern, kita harus memutuskan bagaimana menarik sebuah dunia yang sudah kehilangan minat terhadap keaslian sejati dari iman kita. Apakah kita harus menghakimi hari-hari libur modern sebagai penyembahan berhala yang tidak disukai? Atau apakah kita dengan segenap hati harus menerima kebudayaan kita melalui suatu sikap kerelaan? Sebagaimana dengan begitu banyak hal dalam dunia modern kita, kita harus menemukan keseimbangan yang membuat kita melatih kerohanian sejati namun masih tercakup dalam budaya asal kita.

Bayangkan Anda mengatakan kepada orang-orang yang Anda kasihi pada waktu Natal, “Maafkan saya, saya tidak memberikan hadiah karena saya seorang Kristen.” Atau pada hari Paskah (Easter), ”Saya tidak merayakan kebangkitan Tuhan pada hari Paskah (Easter) karena saya bukan penyembah berhala.” Jelas, ada beberapa tingkat pernyataan yang mengada-ada yang dapat dijangkau melalui berusaha menghindari semua unsur non-Kristen dari kebudayaan kita. Misalnya, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Restored Church of God berjudul ”Asal usul Paskah (Easter) yang Sesungguhnya,” penulis menyatakan unsur penyembahan berhala dari perayaan Paskah (Easter) modern, tetapi kita percaya dia menjelaskan terlalu jauh di dalam semangatnya yang berapi-api untuk menghindari unsur-unsur penyembahan berhala itu. Berkenaan dengan kebaktian subuh, dia berkata, ”Merayakan kebaktian subuh adalah hal yang serius bagi Tuhan! Dia sangat membenci praktik yang buruk ini di mana pada akhirnya Dia akan menghancurkan semua yang mempertahankannya (Yeh. 9)!” Apakah ini Tuhan yang sama yang mengilhami ayat berikut ini?

1 Korintus 8:7 dan 8 “Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."

Tuhan sudah menunjukkan bahwa bukan peragaan dari luar yang dikehendaki-Nya, tetapi pengabdian dari dalam hati. Kita tahu bahwa Tuhan tidak membangkitkan Yesus dari kematian pada hari Minggu pagi (kejadian sesungguhnya hari Sabtu antara jam 3 sore dan matahari terbenam), tetapi apakah Tuhan tidak menghormati hati orang-orang yang mengalami kesulitan bangun pagi di hari Minggu Paskah (Easter), berpakaian, dan pergi ke tempat kebaktian untuk berdoa, menyanyi dan meneguhkan kebangkitan Tuhan? Kita percaya Dia menghormatinya.

Alkitab memakai kata yang menarik yang menunjuk kepada kemampuan kita untuk menghubungkan keadaan yang tidak disinggung secara spesifik – kebebasan (1 Kor.8:9). Ingatlah, bersama dengan kebebasan datanglah tanggung jawab. Bukanlah dosa jika mempunyai pohon Natal, atau menyembunyikan beberapa telur di halaman belakang rumah agar anak-anak mencarinya. Mohon dimengerti, kami tidak berkata bahwa mengetahui kebenaran adalah tidak berharga, namun kami merasa Anda dapat mengenal kebenaran dan tetap merayakan banyak kebiasaan modern. Misalnya, seorang Kristen dapat mengetahui bahwa Kristus tidak dilahirkan dalam bulan Desember dan bahwa orang-orang Kristen mula-mula tidak mempunyai pohon Natal, dan tetap memiliki pohon Natal. Dia dapat mengetahui bahwa Kristus disalibkan pada hari Paskah Yahudi (Passover) tetapi tetap menunjukkan pengabdiannya kepada Tuhan dalam Kebaktian Subuh. Apa yang harus kita perbuat sebagai orang Kristen adalah mengajar diri kita sendiri dan orang lain tentang kebebasan sejati yang sudah diberikan Kristus kepada kita. Banyak orang Kristen sangat diberkati untuk mengambil kesempatan di mana Paskah (Easter) memberikan hormat kepada Tuhan dan kebangkitan-Nya, dan kita beranggapan bahwa hal itu tidak masalah bagi Tuhan (dan Tuan Yesus).

Sementara kita mempertimbangkan bagaimana bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam musim ini, mungkin sangat menolong untuk mengingat kata-kata dari Paulus dalam Roma.

Roma 14:5 dan 6 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan.

Tuhan sudah memberikan kebebasan dari segala keterikatan kepada kita. Jangan biarkan arti sesungguhnya dari Paskah (Easter) ini hilang dalam timbunan telur dan kelinci dalam dunia sekular (dan coklat – di mana orang Kristen mula-mula tidak memilikinya), tetapi ingatlah bahwa lebih banyak arti yang sesungguhnya dari kematian dan kebangkitan Tuhan yang berbicara tentang kebebasan yang sekarang kita miliki untuk merayakannya dari hati kita, dan berdoa dan bernyanyi untuk memberkati dan menghormati Dia, meskipun kita melakukannya di hari yang bukan “Paskah (Passover).” Semoga kita memuji Tuhan setiap hari, selama-lamanya.

Sumber: http://www.truthortradition.com/bahasa/modules.php?name=News&file=article&sid=5